BAB 30: WHO?

97 19 14
                                        

Di atas atap rumah sakit, banyak orang yang tiba-tiba menjadi sangat sibuk memotret langit yang berwarna oranye itu. Memang, Dipta akui senja sore ini sangat cantik. Menurutnya, hal yang paling indah di dunia ini adalah langit dengan semburat warna oranye dan juga cantik nya serangkaian wajah Aily.

Dia menoleh pada gadis yang duduk di sampingnya, bibir nya merekah kala melihat Aily sedang tersenyum yang juga menatap takjub senja itu. Tuhan tidak pernah salah menciptakan suatu hal, selalu indah, selalu cantik.

"Dipta," Aily memanggil laki-laki itu. "Kamu tau apa yang paling aku suka di dunia ini?" Gadis itu menoleh dan menatap Dipta dengan lembut.

Dipta terlihat seperti berpikir keras. "Mm... Aku?"

Aily tertawa renyah. "Tentu saja, kamu ada di dalam daftar 5 hal yang aku sukai di dunia." Sambungnya.

"Banyak banget 5. Coba sebutin apa aja, aku pengen tau." Dipta mulai membenarkan duduknya, sehingga dia menghadap Aily.

"Yang ke-5, aku suka bunga lili merah. Dia cantik, arti nya juga dalem banget." Gadis itu menyebutkan dari yang terakhir.

Dipta mengangguk. "Okey, kamu suka bunga lili merah. Terus?"

"Terus, yang ke-4 aku suka negara Swiss. My dream. Aku harap, aku bisa menikmati keindaham alam negara itu." Dia menatap senja itu lagi, ada harapan besar di matanya.

Dipta hanya diam menyimak kata per kata yang keluar dari mulut gadis tersebut. Dia rasa, ini adalah obrolan paling penting untuk nya, agar dia tahu apa 5 hal yang paling Aily sukai di dunia ini. Dengan begitu, dia menjadi tahu untuk membahagiakan Aily, Dipta perlu memberi hal-hal yang anak itu sebutkan.

"Yang ke-3, of course it's you. Aku akan selalu bilang terima kasih sama kamu di sepanjang hidup aku. You mean so much to me."

"Dan, yang ke-2. Ayah. Aku tahu, ayah gak sepenuhnya menghabiskan waktunya untuk aku. But, aku menghargai kerja keras nya untuk anak perempuan satu-satunya. Aku yakin, ayah gak akan pernah lupa sama aku."

Mata Dipta menyipit saat tersenyum kala mendengar itu. Dia tidak salah pilih wanita untuk menjadi tambatan hatinya, Aily benar-benar wanita yang mempunyai hati selembut kain sutra.

"Yang pertama?" Dipta bertanya.

Aily menoleh menatap jauh senja itu, Dipta mengikuti kemana Aily menatap. Ya! Senja adalah hal pertama yang paling dia sukai. Menurutnya, dia akan tenang jika menatap langit sore yang kuning kemerahan itu.

∞∞∞

"Kamu yakin pulang naik taxi aja?" Dipta bertanya kepada Aily yang tengah membereskan kotak-kotak makan yang berserakan di meja.

"Yakin. Gak apa-apa kok, don't worry aku bakal sampe rumah dengan selamat." Aily menjawab dengan tenang. Dia mengerti kekhawatiran Dipta yang begitu tinggi padanya.

"Atau aku suruh Fabio aja anter kamu pulang? Ck! Jangan deh bocahnya ganjen. Junar, aja Junar." Dipta menjadi sibuk sendiri mencari seseorang untuk mengantar Aily pulang ke rumah nya dengan selamat.

Aily pamit pulang pada malam ini. Dia harus pulang, ada banyak tugas sekolah yang harus dia selesaikan. Dia sudah minta maaf kepada kekasih nya, karena tidak bisa menemani laki-laki itu dengan waktu yang lama.

Tentu saja, Dipta memang akan menyuruh gadis itu pulang. Tidak akan nyaman bermalam di rumah sakit, Aily harus istirahat dengan cukup dan baik. Juga malam ini, katanya Denis akan menemui Dipta, jadi dia tidak akan sendirian.

AILY DAILY Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang