Dipta menginjak pedal gas cukup dalam, sehingga kilometer mobilnya naik tinggi. Mengemudi di atas jalan licin akibat hujan, ini sangat berbahaya. Bisa saja mobil itu tergelincir dan mengakibatkan kecelakaan. Bahkan, Dipta tiba-tiba lihai mengemudi mobil, menyalip mobil-mobil yang lain, dan dia menghiraukan klakson-klakson sebagai bentuk protes padanya.
Anak laki-laki itu benar-benar hilang kendali, hatinya sakit, bayangan kejadian yang tadi memenuhi kepalanya. Kepalan tangan nya pada setir sangat kuat, membanting ke kanan dan ke kiri untuk menyalip membuat bahu nya bergerak.
"Ternyata pertanyaan-pertanyaan gua selama ini, di jawab dengan nyata. Ini bahkan di luar ekspetasi gua." Dipta mendengus, tidak menyangka melihat Aily berduaan dengan laki-laki yang tidak ia kenal.
"Tai!" Dipta mengumpat. Baru kali ini, dia melihat dengan jelas Aily menangis karna dirinya. Aily menangis karna Dipta menyakitinya. Aily menangis karna Dipta meninggalkannya.
"Anjing!" Dipta mengumpat lagi sambil memukul setir tanpa henti. Kali ini bahunya terasa nyeri, tapi Dipta tidak meringis.
Ia memencet klakson beberapa kali, dan menyalip tanpa berpikir akibatnya, bahu nya terasa lebih nyeri saat membanting setir, bahkan Dipta memukul bahunya dengan kuat berharap kesakitan itu hilang.
"Disaat bahu gua belom sembuh total, gua lebih milih naik mobil sendiri cuma buat ketemu Aily. Tapi, Aily cuma ngasih unjuk cowo itu ke gua." Dipta sejak siang itu sudah semangat untuk bertemu gadisnya, dan berniat membawa mobil sendiri agar Aily tahu bahwa Dipta sedikit lagi sembuh. Namun, semangat nya luntur saat tahu Aily bersama laki-laki yang bahkan dia tidak tahu namanya.
Hujan terus membasahi tanah, petir terus berkilauan di langit. Cuaca malam ini membuat kesan emosional bagi Dipta. Dia tidak tahu kemana dia akan pergi. Mungkin, Fabio?
Ya, dia berhenti di depan rumah Fabio, disana juga terlihat motor Junar terparkir di samping motor Fabio. Dengan cepat, Dipta keluar dari mobil tanpa payung, membiarkan tubuhnya basah diguyur hujan.
Dipta mengetuk pintu Fabio begitu kencang, sesekali memegang bahu nya yang tak kunjung hilang rasa nyeri itu. Tidak lama Fabio keluar.
"Buset, Dipta? Lo ngapain disini, basah-basahan lagi." Fabio kaget melihat Dipta dengan penampilan layaknya tikus kecebur got.
"Fab, gua butuh lo."
Fabio diam setelah Dipta melontarkan kalimat itu. Sepertinya ini serius, Dipta punya masalah.
"Yaudah, masuk dulu. Di dalem ada Junar." Setelah Fabio mempersilahkan, Dipta masuk ke dalam rumah yang lumayan besar itu. "Gua kira maling, ngetok pintu rumah gua grasak-grusuk bangat." Ucap Fabio di belakang Dipta.
"Gak ada maling ngetok pintu dulu, Fab." Dipta menimpali dengan nada ketus.
"Iya sih." Fabio membenarkan. "Jun! Nih temen lu abis kecebur got."
Junar muncul dari tangga, ia pun sama kaget nya dengan Fabio saat melihat Dipta yang basah kuyup. "Lo kenapa, Dip." Seakan tahu tanpa di beritahu apa yang terjadi, Junar sangat peka terhadap wajah Dipta saat ini.
"Problem." Balas Dipta.
"Naik dulu dah, ganti baju gua. Masuk angin entar lu." Mereka bertiga akhirnya menaiki tangga, dan masuk ke dalam kamar Fabio.
Dipta sedikit tercengang dengan keadaan kamar Fabio. Alkohol. Tapi, wajah nya tetap datar saat mengetahui mereka lah yang sedang minum-minuman itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
AILY DAILY
Teen Fiction[FOLLOW YUK, SEBELUM BACA!] -not revised yet! Dua insan ciptaan tuhan yang bertemu di situasi yang serupa, mempunyai perasaan hampa di dada. Takdir yang sama, kehilangan separuh jiwa membuat mereka terpuruk di hidupnya, dan sama-sama mengharapkan se...
