BAB 27: TALK ABOUT "RUMIT"

78 31 7
                                        

Fabio juga Junar sekarang berada di ruangan Dipta, tepatnya kedua laki-laki tersebut sedang berbaring di kasur Dipta. Entah siapa yang sakit disini, Dipta sendiri saja duduk di sofa sambil makan yang sudah di antarkan oleh perawat rumah sakit ini.

"Rumah sakit apa hotel si ini?" Gumam Fabio sambil menikmati VVIP Room di rumah sakit tersebut.

"Ya kali oyo." Jawab Dipta singkat. Matanya masih fokus menonton televisi.

"Enak bener, Jakarta aja ampe keliatan dari ujung ke ujung." Fabio menatap jauh kaca besar itu.

"Lo betah disini?" Tanya Junar di sampingnya sambil menatap layar ponsel.

"Kagak lah, siapa yang betah di rumah sakit. Isinya orang-orang sakit." Sahut Fabio.

"Dimana-mana rumah sakit isinya orang-orang sakit, Fab. Gak ada tuh rumah sakit isinya orang-orang dagang pecel lele." Kata Junar.

"Enak dong pecel lele." Kelakar Fabio.

Dipta tersenyum tipis mendengar percakapan mereka berdua. Namun, kali ini pikirannya bukan tertuju pada mereka, tapi tertuju pada Papa nya yang 1 jam yang lalu berbicara dengannya. Soal... Permintaannya.

Rumit. Dia tidak akan pernah mau berjauhan dengan gadisnya, sungguh. Di sisi lain dia ingin cepat sembuh dari cederanya yang merepotkan ini. Bahkan, hanya untuk makan pun dia memakai tangan kiri, tidak baik memang.

"Ah! Pada tai banget, dateng bukannya bantuin gua makan, malah pada ngerepotin!" Dipta kesal membanting sendok itu pelan. Sudah pikirannya keruh memikirkan permintaan Papa, ditambah makan menggunakan tangan kiri.

"Sabar, Dip. Itu ujian hidup, harus di jalani sendiri." Fabio menimpali.

"Kayak yang seneng aja idup lo." Sarkas Dipta.

"Eh, jangan salah. Hidup gua itu lebih rumit dari lo lo pada." Katanya dengan lebih membara.

"Kerjaan lo cuma sekolah, push rank, sekolah, push rank. Kayak gitu rumit, Fab?" Tak di pungkiri kegiatan Fabio memang seperti itu yang keduanya ketahui.

Fabio membuang napas berat. "Kalian gak tau aja, kalo-"

"Ngomong mulu, bantuin gua cepetan! Gua mau kencing, bukain celana gua." Dipta meminta tolong kepada mereka berdua, agar lebih berguna disini.

Kemudian, mereka berdua yang tadinya tidur di kasur empuk itu, terpaksa bangun sebab anak laki-laki yang menjadi atlet andalan itu meminta mereka membantunya.

"Nyusahin banget!" Fabio menggerutu di belakang Dipta.

"Kalo temen lagi begini, tolongin yang ikhlas, Fab." Balas Dipta. Laki-laki yang di belakang itu langsung memutarkan bola matanya.

"Lo tuh cuma cedera, masih punya tangan kiri buat di gunain. Kecuali, tangan lo buntung dua-duanya." Cibirnya— Fabio.

Lantas, Junar yang di depan Dipta membuka pintu kamar mandi, mempersilahkan atlet itu masuk ke sana.

"Banyak bacot. Bukain cepet!" Perintah Dipta.

Dengan cepat Fabio menghampiri Dipta.

"Fabio tolol! Gua mau kencing bukan mau mandi. Ngapain buka-buka baju gua!" Teriak Dipta geram, sebab Fabio membukakan baju nya dari belakang seperti anak kecil mau mandi. Padahal, yang harus di buka itu kan celana.

Fabio tercekat dengan apa yang dia lihat di belakang panggung Dipta. Fabio menjadi kaku, Junar pun begitu. Ia bahkan tidak tahu harus apa, dia kehilangan semua kata-kata.

AILY DAILY Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang