BAB 41: FEEL

31 3 1
                                        

Keputusan Denis sekarang membuat Dipta bahagia bukan main. Mama nya kembali bersama mereka. Lengkap sudah keluarga Dipta. Setelah ini, ia tidak meminta apa-apa lagi, keberadaan Nayla di sini sudah lebih dari cukup. Sungguh, sedari tadi Dipta tidak berhenti nya tersenyum melihat Papa dan Mama nya sedang duduk berdua menonton televisi.

Mereka masih canggung, setelah beberapa tahun berpisah. Tapi, Denis tampak berusaha untuk memecah kecanggungan itu. Entah apa yang terjadi pada mereka berdua, namun itu tidaklah penting. Denis pasti bisa membereskan apa yang sudah berantakan. Dipta turun dari tangga, sore ini Aily menghubungi nya bahwa gadis itu sudah pulang sekolah. Dia akan menjemput Aily, dan membawa nya kesini.

Dipta berjalan mendekati mereka. Nayla sadar, anak nya sudah memakai baju yang berbeda. Lebih rapi, lebih segar, lebih wangi.

"Mau kemana sayang?" Tanya Nayla. Denis pun menoleh ke arah Dipta.

"Anak kamu sudah punya pacar, jadi wajar kalau penampilannya berbeda." Sahut Denis.

"Iya, Dipta mau jemput pacar Dipta." Balas Dipta.

"Bawa kesini dong, Mama mau lihat pacar kamu." Katanya, Nayla benar-benar senang mendengar itu. Dia bisa menjadi calon mertua yang baik buat pacar anak laki-lakinya.

"Dipta emang niat ngajak dia kesini, mau kenalin ke Mama." Ujar Dipta.

"Serius?! Kalo gitu Mama sekarang mau masak, harus siap-siap nih!" Nayla nampak antusias, membuat Dipta tertawa.

"Kalo gitu, bawa Aily kesini kita makan malam bareng nanti. Papa belom ngucapin bela sungkawa buat dia." Denis memang tidak sempat berduka waktu itu, karena banyaknya kerjaan yang belom ia selesaikan.

Dipta mengangguk. Kemudian, dia pamit dan keluar membawa mobil nya menuju sekolah menjemput Aily.

▪︎▪︎▪︎

"Aku ikut bahagia denger nya."

Aily sudah mendengar semua cerita dari Dipta. Tentang Mama dan Papa nya, tentu Aily senang melihat Dipta seperti ini. Laki-laki itu lebih bahagia, matanya lebih berbinar, senyum nya tidak luntur sejak tadi mereka bertemu.

"Aku akan mengikut sertakan kamu di bahagia nya aku, Ly. Gimana pun caranya." Ucap Dipta.

"Bahagia aku adalah kamu Dipta. Jadi, nggak perlu berusaha mati-matian buat aku bahagia. Cukup kamu ada di samping aku." Balas nya.

Dipta tersenyum, ia mengambil tangan Aily dan mencium tangan lembut itu. Menggenggam dengan erat, tidak akan ia biarkan Aily pergi tanpa dirinya.

"Mama mau ketemu kamu, gak apa-apa kan kalo ke rumah aku dulu?" Dipta bertanya, memastikan bahwa Aily tidak masalah jika ia membawa gadis itu ke rumah nya.

"Gak apa-apa, justru aku seneng." Melihat Aily tersenyum, membuat hati Dipta lebih tenang.

Setelah sekolah, ada banyak rencana yang harus Dipta persiapkan. Soal hidup, soal Aily, dan soal karir nya. Dia tidak bisa hanya mengandalkan profesi nya sekarang. Sewaktu-waktu itu akan meredup, Dipta pasti akan pensiun pada waktunya.

Jadi, dia harus lebih berpikir panjang sekarang. Dan, menghadapi masalah-masalah di kehidupan dewasa. Ia harap, Aily lah yang nanti jadi penyembuh kala Dipta lelah dengan dunia nya. Aily sudah tidak punya siapa-siapa, hanya Dipta yang ada di sisi nya sekarang. Setelah semuanya selesai, Dipta pastikan Aily akan menjadi miliknya, untuk selamanya.

Selang beberapa menit mereka sampai di rumah Dipta. Keduanya turun dari mobil, Dipta membawakan tas Aily dan menggenggam tangan kecil itu.

AILY DAILY Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang