Terlalu bosan untuk menikmati pemandangan kota Jakarta ini sendirian di kamar VVIP Rumah sakit yang Dipta singgahi. Ya, ia sendirian. Tiada siapapun yang menemani. Aily? Sejujurnya, semalam gadis itu berkabar dengan Dipta, bahwa dirinya akan menemani laki-laki itu disini.
Namun, Dipta melarangnya, untuk tidak pergi. Sebab, Fabio dan Junar menginap hanya untuk menemani Dipta. Dan, hingga sore ini, Aily belum juga kunjung datang. Ia merasa bosan berdiam diri di kamar besar setelah kedua temannya pamit tadi pagi.
Berjalan mendekati pintu, laki-laki itu membuka knopnya. Tidak ada keramaian di area VVIP Room, untuk melihat gedung besar ini ia perlu berjalan sedikit agak jauh keluar dari lorong sepi tersebut.
Rumah sakit hari ini sangat ramai, ada beberapa hal yang membuat Dipta menjadi lebih berpikir dengan dunia. Terlalu banyak orang-orang yang sakit, mereka mungkin tidak pernah menduga bahwa mereka menjalani hidup dengan rasa yang tidak bisa dinikmati.
Meski begitu, hidup adalah tentang di syukuri dan dijalani. Sisanya kita hanya mempasrahkan kepada tuhan. Saat, Dipta berjalan untuk menuju lift, dia melihat punggung seseorang pria paruh baya dengan memakai jas rapi.
Tampak familiar dengan sosok tersebut, ia mulai berjalan cepat dan mendekati pria paruh baya itu. Dugaan nya benar, itu Fadli. Dia baru saja keluar dari ruangan dokter dan berjalan tampak terburu-buru.
"Om?" Panggil Dipta.
Fadli tampak sangat terkejut melihat Dipta. "Dipta."
Dipta tersenyum. Sekilas dia melihat tulisan di atas pintu ruangan dokter itu. "Om ngapain disini? Sakit?" Tanya Dipta.
"Kamu sendiri?" Fadli malah balik bertanya. Sebelum ia melihat bahu Dipta yang memakai alat penyangga khusus. "Oh, astaga! Saya lupa kamu lagi cedera." Lanjutnya, dia tahu mengenai masalah Dipta saat sedang menjalani match.
"Om sakit apa, kenapa keluar dari ruangan dokter jantung?" Dipta tidak bisa teralihkan, meskipun Fadli berusaha mengalihkan anak laki-laki itu.
Diam cukup lama di antara mereka. Sampai, Fadli memutus keheningan tersebut. "Saya boleh minta waktu nya, Dipta?"
Dipta mengangguk. "Tentu, bisa Om."
Setelah mendengar jawaban Dipta. Fadli berjalan mendahului dan langkah nya sangat cepat. Lift dengan cepat terbuka, pria paruh baya itu menekan angka lift paling akhir teratas. Itu, menuju atap gedung rumah sakit ini.
Selang beberapa menit, lift nya terbuka. Pertama, yang Dipta tangkap dengan matanya adalah, banyaknya orang-orang yang mamakai seragam rumah sakit seperti darinya dari berbagai kalangan usia. Pantas saja ramai, ternyata atap gedung ini adalah taman yang indah dengan banyaknya bunga-bunga. Angin yang bertiup kencang juga membuat udara menjadi sejuk.
Dipta mengikuti langkah Fadli, setelah itu pria paruh baya tersebut duduk di salah satu kursi kosong. Begitu juga dengan Dipta, ia duduk di sana. Mereka berdua memandang jauh kota Jakarta.
"Dipta, saya percaya sama kamu. Terlepas, dari kejadian waktu lalu, saya sangat berterima kasih sama kamu." Fadli menjeda kalimat nya. Dia menghela napas, "satu hal rahasia yang saya sembunyikan akhirnya diketahui oleh seseorang."
Lantas, Dipta yang semula mendengarkan dengan baik, langsung mengerutkan dahinya. Laki-laki yang di samping Fadli masih terdiam menunggu penjelasan lebih lanjut dari ayah Aily.
"Mungkin, kamu sudah menduga apa yang terjadi pada saya. Betul, saya sakit. Aritmia." Kata terakhir yang di ucapkan Fadli, membuat Dipta membulatkan matanya. Aritmia? Penyakit jantung? Ini bukan penyakit biasa!
"Sejak kapan?" Dipta bertanya serius.
"Sudah 5 bulan yang lalu, saya di nyatakan Aritmia oleh dokter." Fadli menjawab pertanyaan Dipta.
KAMU SEDANG MEMBACA
AILY DAILY
Novela Juvenil[FOLLOW YUK, SEBELUM BACA!] -not revised yet! Dua insan ciptaan tuhan yang bertemu di situasi yang serupa, mempunyai perasaan hampa di dada. Takdir yang sama, kehilangan separuh jiwa membuat mereka terpuruk di hidupnya, dan sama-sama mengharapkan se...
