BAB 26: INJURY

81 32 21
                                        

Dipta dinyatakan cedera oleh dokternya. Sekarang, dia hanya terbaring lemas di brangkar rumah sakit. Hanya ada Aily yang menemani, papa nya sedari kejadian tadi pun tidak juga kunjung datang. Bahu Dipta di pakaikan alat penyangga khusus, sebab tulang bahu nya ada sedikit keretakan.

Sementara Aily, dia hanya duduk di samping Dipta menatap wajah laki-laki itu. Raut wajahnya terlihat kentara sekali, kalau gadis itu benar-benar khawatir.

Dipta menatap wajah kekhawatiran itu. "It's okay, kamu jangan terlalu khawatir, ini akan sembuh dalam waktu dekat."

"Aku gak tega liat kamu kayak gini." Katanya dengan mata berkaca-kaca

"Aku baik-baik aja sayang." Dipta mengelus pipi Aily lembut.

Suara ketukan pintu itu dari jarinya Denis, dia baru saja datang dengan terburu-buru. Air muka laki-laki itu tidak tenang, menatap Dipta lamat dengan tatapan sulit di tebak, anaknya hanya memalingkan muka dan menghembus napas.

Denis kemudian melirik Aily yang juga menatapnya dengan ramah. Pria paruh baya itu berdeham, dan mulai berjalan ke arah mereka.

"Ada orang ternyata." Ucap nya.

Aily tahu itu kalimat yang ditunjukkan kepadanya. Dengan gerakan cepat dia menyodorkan tangannya. "Saya Aily, Om."

Denis menjabat tangan gadis tersebut. Juga membalas dengan sebuah senyuman tipis. "Sebelumnya saya meminta maaf Aily. Saat ini saya ingin berbicara dengan anak saya, Dipta. Obrolan pribadi." Tekan Denis di akhir kalimat.

Secara tidak langsung Denis meminta Aily untuk keluar dari ruangan Dipta. "Baik, Om. Saya keluar dulu. Permisi."

Aily menyempatkan untuk mengelus tangan Dipta. Setelah itu dia keluar dari sana. Dipta sendiri, ia hanya menatap punggung Aily yang menghilang dari balik pintu.

Dia tahu apa yang akan dibicarakan Papa nya. Dia tahu Papa nya murka atas kegagalan pertandingan besar ini. Entah, kalimat apa yang akan Denis keluarkan.

"Kenapa, Dipta? Kenapa kamu bisa seperti ini untuk pertandingan yang amat penting?" Denis menatap Dipta tajam.

"Papa sudah bilang! Jaga tubuh kamu, fokus untuk meningkatkan skill, agar kamu menjadi atlet andalan untuk negara ini!" Denis mulai meninggikan suaranya.

"Ini sudah yang kedua kalinya kamu tidak bisa membawa pulang kemenangan, Dipta. Papa sudah wanti-wanti sejak 8 tahun yang lalu untuk tidak mengulangi kejadian kayak gini lagi!"

"Papa nggak ngerti, apa sih yang bikin kamu seperti ini, gak fokus dengan tujuan kamu, gak fokus dengan masa depan kamu." Bisik nya.

Hening, tidak ada jawaban dari anak nya. Dipta masih diam menatap pintu yang tertutup rapat. Sedikit pun tidak melihat wajah Denis yang saat ini sudah merah.

"Denger Papa nggak, Dipta!" Bentak Denis.

"Denger!" Pekik Dipta. Napasnya memburu kala melihat wajah sang Papa. "Papa, bisa nggak lihat keadaan aku sekarang?" Batinnya.

"Pa! Tolong, saat ini aku lagi kayak gini! Aku sakit loh, Pa! Aku cedera!" Bibir Dipta bergetar, matanya memerah. Dipta bahkan tidak habis pikir dengan Denis, di saat seperti ini, di saat dia terbaring di rumah sakit, Papa nya itu tetap membahas apa yang terjadi sekarang.

"Siapa perempuan tadi?" Denis tiba-tiba menanyakan Aily.

Dipta mendengar itu mendengus tidak percaya. Untuk apa Denis menanyakan gadis nya? Dia tidak yakin kalau Denis akan memberi tanggapan positif kepada Aily.

"Pacar kamu?" Pertanyaan yang tidak terjawab oleh sang empu. "Jauhi Aily! Papa tahu. Gara-gara dia, kamu jadi seperti ini!" Sambung Denis.

"Untuk itu, aku gak bisa menuruti perintah Papa." Jawab Dipta.

AILY DAILY Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang