"Jadi, kamu reschedule pemulihan nanti?"
Awalnya Denis marah, tapi dia tau batasan. Hanya sekedar marah dari lisan, bagaimana tidak? Ia sudah mengatur semuanya, hanya untuk Dipta. Dia berharap anak itu pulih sepenuhnya. Tapi, ia juga tahu alasan Dipta tidak pergi, Denis mengerti. Apalagi setelah mendengar kabar duka Fadli Atmaja, tentu ia tidak akan pergi begitu saja ketika gadisnya membutuhkan pelukan laki-laki itu.
"Iya. Sementara, aku medical checkup disini sambil mempersiapkan semuanya lagi." Dipta memakan roti.
Pagi ini, mereka sarapan bersama. Kegiatan yang sangat jarang di lakukan oleh keduanya. Awal-awal memang canggung, tapi Denis berusaha agar anak nya mendapatkan kasih sayang nya kembali. Dipta sudah di perbolehkan masuk sekolah lagi, bahunya sudah tidak terlalu sakit tapi ada beberapa waktu dia meringis dan merasakan sakit pada bahunya.
"Kamu harus pulih dengan waktu yang cepat, Dipta. Kamu harus ingat, 8 bulan lagi Sea Games akan memanggil kamu." Denis mengingatkan anak nya, bahwa pertandingan antara negara akan kembali dan tentu saja dia harus lebih mempersiapkan untuk pertandingan yang satu ini.
Dipta mengangguk mengerti. Ia masuk ke dalam daftar nama untuk di panggil di Sea Games mendatang. Dipta sendiri tahu, ini bukanlah pertandingan yang biasa, tapi ini mempertaruhkan nama negara nya. Sebuah kebanggaan untuknya mewakili Indonesia.
Bi Rani muncul dari ruang depan. Sedikit berlari dan wajahnya seperti gelisah juga bingung. Ia berhenti di depan meja makan, mereka menyadari raut wajah Bi Rani yang agak aneh saat ini. Ia hanya diam menunduk.
"Ada apa Bi? Kok muka nya bingung gitu?" Denis bertanya.
"A-anu pak," bicara nya terbata-bata.
"Kenapa? Bilang aja Bi." Kali ini Dipta menyahut.
"Di depan, ada...," Bi Rani masih menjeda kalimat nya. Takut untuk menyebutkan nama itu.
"Ada siapa?" Denis suaranya sedikit tinggi.
Dipta berdiri meninggalkan Bi Rani, berjalan menuju pintu depan. Membuka pintu itu, dan...
"Mama?"
Dipta terkejut bukan main. Nayla Teresa, sedang berdiri di depan Dipta membawa koper kecil di pinggirnya. Mama nya kembali, wajah wanita itu masih sama. Sehingga, mudah untuk Dipta kenali. Tubuh laki-laki itu tiba-tiba seperti patung, bibirnya bergetar hebat, tangan nya mengepal kuat.
Denis dari belakang bersuara. "Siapa Dipta?" Namun, setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri Denis diam. Ia melakukan hal yang sama dengan Dipta.
Napas Denis memburu, rahangnya mengeras, matanya mulai memerah. "Masuk Dipta." Itu adalah perintah Denis dan suaranya sungguh membuat Dipta terdiam dan melakukan apa yang dikatakan Papa nya.
Saat kaki Dipta akan melangkah. Nayla memanggil Dipta. "Dipta."
Denis memejamkan matanya dan menarik napas. "Masuk!"
Dipta melanjutkan langkah nya, tubuhnya hilang di balik tembok. Ia tetap di sana, air mata laki-laki itu meluruh deras. Dada nya begitu sakit, seperti belati menancap dalam di sana. Dia rindu pada Nayla, tapi entah mengapa kaki nya seperti anjing peliharaan yang tunduk pada majikan. Dia tidak bisa apa-apa saat Denis meminta nya masuk.
Terdengar percakapan mereka tempat Dipta berdiam. Bahkan, Denis masih tidak mengerti mengapa Nayla ada disini, kembali ke rumah ini.
"Sampai kapan pun saya gak akan pernah menerima anda lagi!" Bentak Denis. Dari suaranya Dipta tahu, bahwa Denis benar-benar murka.
"Aku kangen Dipta, Denis. Tolong, izinkan aku ketemu dia. Aku pengen peluk anakku." Nayla melirih. Dia menangis pedih, perasaan bersalah itu menghantui nya selama dia pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
AILY DAILY
Teen Fiction[FOLLOW YUK, SEBELUM BACA!] -not revised yet! Dua insan ciptaan tuhan yang bertemu di situasi yang serupa, mempunyai perasaan hampa di dada. Takdir yang sama, kehilangan separuh jiwa membuat mereka terpuruk di hidupnya, dan sama-sama mengharapkan se...
