BAB 37: DESTROYED

37 2 0
                                        

Dipta sudah berada di depan rumah Aily.  Kabar dari Junar tadi sore jelas membuatnya tersentak. Dia memutuskan tidak akan pergi, urusan Denis biarkan dia mengurus belakangan. Sudah tahu pasti, Papa nya itu akan marah. Semua ini sudah di persiapkan sampai selesai, dan anak itu membatalkan begitu saja.

Keadaan rumah Aily sungguh menjadi penuh duka, penuh tangis. Karangan bunga di depan rumah besar ini adalah kiriman dari orang-orang besar dan terpengaruh. Bagaimana, kata-kata itu yang tertata di sana membuat hati nya sesak.

Berita-berita dari semua stasiun televisi menyatakan bahwa Fadli Atmaja meninggal pada hari Rabu, 28 Mei. Semua orang terkejut dengan pernyataan ini. Semua orang merasakan sedih, mereka semua tahu Fadli si pewaris Atmaja adalah orang yang baik, selalu menolong kepada siapapun. Banyak bangunan-bangunan yang sudah Fadli siapkan untuk semua orang yang membutuhkan perlindungan.

Dipta menatap sekeliling rumah Aily yang penuh haru. Dia melangkahkan kakinya, masuk ke pekarangan rumah besar tersebut. Hal yang pertama ia lihat bukanlah Aily, tapi laki-laki yang memeluk gadis nya saat sore itu. Ia berdiri di ambang pintu.

Dia tidak perduli. Tujuannya hanya 1, dia ada untuk Aily. Ada banyak juga orang-orang yang dari sekolahan nya, guru-guru bahkan para wali murid datang berbela sungkawa.

"Ley." Dipta memanggil pelan.

Leya yang diam dengan tatapan kosong di samping Dirga menoleh cepat ke arah Dipta. Cukup lama, namun tatapan Azaleya kembali seperti semua. Dia sudah terlalu malas melihat Dipta.

"Gue tahu gua salah, Ley. Tapi, untuk kali ini aja kasih gua kesempatan buat ketemu Aily." Disana Dipta memohon kepada Azaleya untuk memberitahu dimana Aily berada.

Azaleya mendengus kasar. "Buat apa? Lo cuma buat Aily semakin sakit, Dipta."

"Iya, maka dari itu gua mau minta maaf sama Aily. Please, tell me where is Aily?" Suaranya penuh harap, suaranya pilu. Dipta akan memperjuangkan Aily mulai sekarang.

"No!"

"Babe, don't be like that." Dirga membisik pada Leya. Ia bahkan merasa kasihan pada Dipta.

"No, Dirga. His actions were wrong!" Bahkan, Azaleya lupa bagaimana gadis itu selalu lemah lembut di depan Dirga. Tapi, situasi kali ini membuat nya muak.

"Babe," Dirga memanggil Azaleya dengan suara lembut, mata nya juga penuh mohon pada gadis itu.

Sampai, akhirnya. Leya memalingkan muka. "Oke, fine. Ini terakhir Dipta, sekali lagi lo bikin dia sakit," Leya menjeda kalimatnya, menatap Dipta tajam, "you. Done!"

Dipta mengangguk. "Promise. Dimana Aily sekarang?"

"Di kamar ayah nya. Dia gak mau di ganggu, dia butuh waktu sendiri. Dia udah lama di sana, gak keluar-keluar." Ya, pasti Aily merasakan pedih mendalam. Dia sudah tidak punya siapa-siapa. Dia seorang diri di dunia yang kejam ini. Arah nya sudah hilang.

Dipta berjalan cepat memasuki rumah itu. Dia menaiki tangga, dan menuju pada kamar Fadli Atmaja. Membuka pintu itu tanpa aba-aba, mata nya menangkap Aily sedang berdiri di depan jendela yang terbuka. Tubuh nya sedikit menyusut. Dari sini saja Dipta tahu, gadis itu rapuh.

"Ly." Dipta memanggil Aily, berjalan mendekati gadis itu perlahan.

Aily membalikan badannya. Menatap Dipta sendu. Gadis itu hanya diam tidak bereaksi apa apa. Membiarkan Dipta lebih mendekati nya.

Laki-laki itu membelai rambut Aily. Memberikan kenyamanan yang sudah Aily rindukan. Mengusap pipi nya lembut, menatap mata nya dalam. Aily merasakan kenghangatan sekarang, semenjak Dipta datang.

AILY DAILY Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang