[FOLLOW YUK, SEBELUM BACA!]
-not revised yet!
Dua insan ciptaan tuhan yang bertemu di situasi yang serupa, mempunyai perasaan hampa di dada. Takdir yang sama, kehilangan separuh jiwa membuat mereka terpuruk di hidupnya, dan sama-sama mengharapkan se...
Setelah 3 hari merasakan kepedihan atas meninggalnya ayah Aily–Fadly Atmaja. Seorang pewaris terakhir dari Atmaja's, tentu itu bukanlah sesuatu yang mudah di lupakan. Bahkan, berita kepergiannya Fadli sampai ke beberapa negara luar. Ia terkenal karena bisnis-bisnis besarnya menyebar luas. Apalagi warga cukup terkejut, sebab Fadli adalah orang yang rendah hati. Panti, rumah sakit, sekolah gratis ada buat mereka yang tidak mampu.
Sampai saat ini, Dipta masih diam di rumah Aily. Menemani gadis itu, selama 3 hari ini Aily tetap diam di kamar Fadli. Bahkan, keluar pun enggan. Azaleya sebagai sahabat perempuannya pun tidak bisa membujuk Aily untuk tidak terus-menerus terpuruk. Berbagai cara mereka mengajak Aily keluar, tetap ia tidak mau.
Dipta menaiki tangga dengan membawa nampan yang berisikan makanan untuk Aily. Inilah rutinitas 3 hari nya kemarin, membawa Aily makan, duduk di samping nya agar bisa tidur, bahkan memeluk nya ketika Aily menangis.
Dipta membuka pintu kamar Fadli, tapi mata nya tidak menemukan keberadaan gadis itu. Ia manaruh nampan di atas nakas, lalu mengetuk pintu kamar mandi.
"Aily, kamu di dalem?" Hening sejenak. Tidak ada jawaban dari dalam.
Sekali lagi dia mengetuk. Kemudian membuka kamar pintu kamar mandi itu perlahan. Tidak ada Aily disana. Dipta kembali ke luar kamar mandi. Ia menatap sekeliling, namun matanya berhenti di rak buku milik Fadli, laki-laki itu mendekat perlahan. Rak buku seperti lemari tersebut sedikit terbuka, dia menyatukan alisnya.
Perlahan tangan nya mendorong rak buku lemari itu. Ternyata, ini adalah ruang rahasia Fadli. Nothing special, hanya ada meja kursi dan buku-buku yang tidak ia mengerti. Dan... Di pojok ruangan kecik itu, Dipta menemuka Aily terduduk di lantai dengan secarik kertas yang dia baca.
"Ly?" Dipta mendekatinya.
Aily masih bergeming. Sampai akhirnya, dia menangis lagi. "A-ayah," lirihan gadis itu mampu membuat mata Dipta berkaca-kaca.
Dipta melirik pada kertas itu. Kertas yang berisikan tulisan untuk Aily.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dipta langsung menarik Aily ke dalam pelukannya. Mengelus punggung gadis itu, mengecup kepalanya penuh kasih. Ya, dia harus bahagia setelah ini.
"H-hidup aku kenapa kaya gini, Dipta?" Aily tersedu-sedu di dalam pelukan laki-laki itu, "Tuhan ambil Ayah sama Ibu dari hidup aku." Aily menangis kencang, ruangan itu menjadi saksi bahwa gadis itu benar-benar merasakan ketidakadilan dalam hidupnya.
"Because God knows you are a strong person, God will not test you beyond your limits. Kamu harus percaya, akan ada keindahan setelah kesedihan seperti yang Ayah kamu bilang." Ucap Dipta.
"Look at me," Dipta melepaskan pelukannya, beralih menatap mata Aily. "Kamu percayakan sama apa yang Ayah kamu bilang?"
Aily mengangguk pelan.
Dipta tersenyum, menghapus air mata gadis itu. "Sekarang, kita buat keindahan itu biar kamu bisa merasakannya. So, don't cry babe, you have to rise from your sadness." Dipta melanjutkan kalimat nya. Berusaha untuk Aily agar melupakan dan bangkit dari kesedihan.