BAB 43: PLAN

54 3 1
                                        

Suasana sekolah kini sedang khidmat. Entah, rasanya di tiap-tiap kelas seperti memiliki suasana yang terkesan horor. Seketika mereka merinding melihat isi dari kertas yang berada di masing-masing meja. Semua nya tampak sedang berpikir serius, tidak ada pandangan selain menatap soal ujian.

Di kelas Dipta, hanya beberapa saja yang sedang serius mengerjakan. Sisanya... entahlah. Seperti Fabio sekarang, lihat dia tidak sedang mengerjakan ujian, tidak juga sedang berpikir. Anak itu hanya bengong menatap langit di luar.

Brak!

Fabio terjingkat. Dia langsung menoleh, disamping nya sudah ada Pak Rusdi dengan wajah garang. "Innalillahi Fabio! Ini waktu udah mau habis, kertas kamu masih kosong? Dari tadi ngapain?!"

Memang benar, soal ujian Fabio masih kosong, nyaris tidak ada coretan sedikit pun dari pensil nya. Dari awal kertas ujian itu di bagikan hingga waktu istirahat akan tiba, Fabio masih tetap dengan posisi tangan di bawah dagu.

"Jangan gebrak meja dong pak! Saya kaget, kalo saya jantungan gimana? Kalo saya kejang-kejang sampe meninggal gimana?" Fabio protes, degup jantung laki-laki itu menjadi lebih cepat.

"Saya lebih kaget lihat kertas ujian kamu, Fabio! Kosong begini?!" Pak Rusdi mengambil kertas ujian Fabio. "Nih lihat semuanya, Fabio bener-bener belom ngerjain sama sekali!" Pak Rusdi menunjukan kertas ujian itu di hadapan anak-anak IPS.

"Dia nunggu Junar, Pak. Kalo Junar belom selesai, dia juga gak akan ngerjain." Pitrysa menyahut.

Terlihat Fabio sedang membulatkan matanya ke arah Pitrysa, sampai-sampai bola mata laki-laki itu seperti akan keluar.

"Jadi selama ini nilai kamu tinggi dari Junar?" Pak Rusdi bertanya.

"E-enggak, pak! Jangan percaya sama si Pipit, fitnah itu dia!" Dalih Fabio. "Pit! Lo jangan fitnah gitu dong! Lo tau gak, fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan!" Fabio menatap nyalang Pitrysa, tapi sang empu hanya mencibir saja.

"Junar, jangan kasih dia jawaban lagi. Keenakan si Fabio gak mau usaha, sedangkan kamu mati-matian mikir." Ucap pak Rusdi pada Junar.

Junar hanya mengangguk, lalu dia melanjutkan menjumlah soal matematika itu, tidak peduli dengan keributan yang terjadi antara Fabio dan pak Rusdi.

"Iya pak! Keenakan tuh dia, nyontek mulu sama Junar!" Dipta juga ikut menyahut.

"Diam lo, Dip! Lo juga sama aja ya, suka nyontek ke Junar!" Fabio menunjuk Dipta, tidak terima dengan apa yang Dipta katakan.

"Sembarangan lo, Fab! Gua hasil sendiri, nih." Jawab Dipta.

"Hey! Sudah-sudah, kok malah ribut. Kerjakan masing-masing, kamu juga Fabio cepet kerjakan udah mau habis waktu nya." Pak Rusdi melerai.

Mereka kembali fokus pada kertas ujian. Begitu pun dengan Fabio, dia mulai membaca soal dan mulai menghitung kancing untuk tahu jawaban mana yang harus dia coret. Pak Rusdi hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Fabio.

Saat ujian sekolah, pasti saja banyak anak-anak melakukan hal di luar nalar. Entah, menghitung kancing, menyontek, pura-pura berpikir. Itu sudah menjadi lumrah di zaman sekarang. Di setiap sekolah pasti saja ada yang seperti itu. Tapi, kegiatan ini adalah salah satu moment mereka untuk di kenang.

▪︎▪︎▪︎

"Soal matematika tadi bikin gua pusing tujuh keliling." Fabio memijat pangkal hidung nya.

Sekarang, mereka berada di kantin. Tidak terlalu ramai, karna hanya ada anak kelas 12. Selain itu, siswa-siswi kelas 10 dan 11 di liburkan. Jadi, ada beberapa area sekolah yang kosong, biasanya area tersebutlah yang ramai dan selalu menjadi spot favorite para anak kelas 10 dan 11.

AILY DAILY Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang