Dipta mendapat kabar dari papa nya semalam. Bahwa, hari ini dia akan berangkat dan terbang menuju China untuk pemulihan cedera pada bahunya. Dia masih belum bertemu dengan Aily. Entah mengapa, takut rasanya. Bisa saja, Aily lebih kecewa darinya, gadis itu mungkin tidak akan mau menerima Dipta lagi.
Dipta sudah menyakiti Aily.
Laki-laki itu memijat pangkal hidung nya, dan membuang napas panjang. Dia bangun dari kasur untuk berkemas apa saja barang-barang yang perlu di bawa. Mungkin, ini adalah cara untuk melupakan sejenak kejadian kemarin.
Dipta mengambil koper di bagian atas lemari, melakukan hal kecil ini saja bahunya masih terasa sakit. Bahkan, koper itu terasa berat saat di angkat. Ia memijat bahunya, agar terasa lebih ringan rasa nyerinya.
Tiba-tiba ketukan pintu terdengar. Denis berdiri di ambang pintu, "sudah berkemas, Dipta?" Tanyanya.
"Ini mau," kata Dipta.
"Keberangkatan pesawat kamu di jam 4 sore. Jadi, kamu masih bisa istirahat. Nanti, ada assisten yang bakal nemenin kamu." Denis hanya memberitahukan itu, setelahnya ia pergi dari balik pintu.
Dipta mulai membuka lemari, dan memasukan baju-baju yang akan ia pakai selama di sana. Hanya butuh beberapa menit, koper itu sudah rapi terisi penuh dengan barang-barang Dipta. Kemudian, laki-laki itu berniat bersantai di balkon. Ia merogoh ponsel di saku celana nya.
Dipta mengerutkan dahi ketika melihat layar ponsel, ada banyak panggilan tak terjawab dan lebih dari 30 pesan dari Azaleya. Dia sudah tahu pasti, kenapa anak itu menghubungi Dipta. Tentu saja, Aily akan memberi tahu pada sahabat nya itu tentang hubungan mereka yang kandas.
Tapi, dugaan Dipta salah besar. Langkah kaki nya seketika berhenti saat membaca pesan-pesan dari Leya. Dia tercekat, mendapat kabar bahwa Fadli sedang berada di rumah sakit. Apakah ini tentang penyakit yang di derita oleh seorang Fadli Atmaja?
Laki-laki itu cepat-cepat mengambil jaket kulit hitam nya. Di pikirannya saat ini cuma satu, Aily. Bagaimana dengan persaan gadis itu? Bagaimana dengan keadaan gadis itu? Ya, dia harus berada di sampingnya untuk menjadi sumber kekuatan agar Aily tetap hidup.
Dipta berjalan menuruni tangga, disana Denis sedang berbicara dengan seseorang yang asing di matanya. Denis menoleh menatap anak nya, "Dipta, ini yang akan jadi assisten kamu selama di China." Katanya.
"Iya. Dipta pergi keluar dulu sebentar, Pa." Dipta pamit, dia tidak terlalu perduli dengan orang baru yang akan ada di hidupnya.
"Mau kemana? Papa kan bilang, kamu istirahat aja." Balas Denis.
"Ke rumah sakit, Ayah nya Aily ada di sana. Di rumah sakit." Dipta pergi begitu saja. Namun, tak lama dia kembali dan menatap laki-laki di samping Papa nya. "Lo assisten gue kan? Sekarang, anterin gue. Ayo!" Lanjut Dipta.
Laki-laki yang terlihat lebih muda darinya itu mengangguk, dan pamit pada Denis.
"Lo nyetir, bahu gua sakit." Dipta melemparkan kunci nya pada laki-laki itu. Dengan cepat, si asssisten Dipta berjalan dan masuk ke dalam mobil.
Mereka berdua sudah berada di dalam mobil, laki-laki itu bertanya pada Dipta, "ini mau ke rumah sakit mana?"
"Atmaja's Hospital." Jawab Dipta.
Laki-laki yang duduk di kursi kemudi itu langsung menginjak pedal gas. Di dalam perjalan Dipta sungguh tidak tenang, dia terus menggigit bibirnya. Jantung nya benar-benar tidak karuan. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kacau nya Aily disana.
Dipta menoleh pada asisstennya. "Siapa nama lo?" Pertanyaan Dipta itu hanya sekedar untuk menenangkan hatinya.
"Gavi." Balas nya. Dia tetap fokus dengan perjalanannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AILY DAILY
Fiksi Remaja[FOLLOW YUK, SEBELUM BACA!] -not revised yet! Dua insan ciptaan tuhan yang bertemu di situasi yang serupa, mempunyai perasaan hampa di dada. Takdir yang sama, kehilangan separuh jiwa membuat mereka terpuruk di hidupnya, dan sama-sama mengharapkan se...
