Banyak kegiatan yang mereka lakukan setelah makan-makan bareng. Gavi terlalu senang hari ini, sebab banyak pujian dari mereka karena masakan yang ia buat bersama Aily terlalu enak, katanya. Bahkan, Gavi dengan mudah bercerita kepada mereka tentang hidupnya. Di luar dugaan, mereka semua meneteskan air mata karena Gavi menceritakan kalau hidup dia sangatlah berat.
Gavi mulai merasakan kehangatan dengan mereka. Fabio juga mendadak seperti Kakak nya, yang memperhatikan apapun dari Gavi.
Matahari semakin turun, dia menampakkan warna jingga nya. Melihat langit terbenam benar-benar membuat siapa pun terhipnotis dengan keindahan alam ini. Mereka semua terduduk di pinggir air laut, di atas pasir lembut, suara ombak yang menderu, bahkan burung berkicau membuat suasana nya sangat lengkap.
Aily dan Dipta jauh dari mereka yang sedang bermain air. Kai juga disana sudah seperti berteman lama dengan mereka, laki-laki yang baru pulang dari Kanada itu tampat seperti berbeda orang.
Tentu, Aily senang. Kai, Dipta, mereka berbaikan, tapi terkadang Dipta lah yang selalu mengingatkan dengan ketus bahwa jangan terlalu dekat dengan Aily, membuat gadis itu tertawa karena sifat cemburunya Dipta.
"Kamu gak jadi ke China?" Aily bertanya pada Dipta. Dia menolehkan kepalanya dari keseruan temannya disana.
"Harusnya 3 hari yang lalu aku berangkat, tapi setelah tahu kabar ayah kamu gak ada, aku batalin." Balas Dipta matanya tak teralih dari senja.
"Maaf." Kata itu terucap dari mulut mungil Aily sampai Dipta langsung memalingkan muka pada gadis itu.
"Why are you apologizing? you did nothing wrong." Mata nya menatap dalam mata cantik Aily.
"Because of me, you didn't do any recovery from your shoulder injury." Jelas Aily.
"Aku bakal jadwal ulang. Nanti, kalau semuanya sudah membaik." Dipta memang merencanakan itu, tidak mungkin ia melupakan sakit di bahunya. Bagaimana pun, dia atlet dan sewaktu-waktu akan ada pertandingan.
"Gimana sama Papa kamu? Dia udah tau, kalau kamu batal ke sana?"
Dipta menggeleng sekaligus mendengus di satu waktu. "Paling Papa marah. Mungkin... pukul aku."
Nampak nya Aily terkejut, melihat ekspresi gadis itu langsung berubah menjadi serius. "Pukul? Kenapa?"
"Itu adalah salah satu bentuk hukuman buat aku. Kalo kecewain Papa atau aku gagal bawa pulang piala, pasti Papa ambil stick golf buat pukul di area punggung. Look," Dipta membalikan badannya dan sedikit mengangkat baju dan memperlihatkan luka-luka yang berada di sana.
"Oh my god. That must hurt, right?" Tentu saja Aily tercengang. Luka-luka itu sudah kering, hanya ada bekas nya disana.
"Sakit. Papa lakuin itu cuma buat nama baiknya, not for me." Dipta menutup punggung nya kembali, dan menghadap laut lagi.
"Sejak kapan luka itu ada?"
Dipta bergeming sebentar. "Sejak... Mama gak ada. Dia bukan hilang dari dunia, tapi pergi entah kemana. Terakhir waktu aku kecil, yang aku ingat hanya Mama dan Papa berantem hebat sampai rumah kacau kaya kapal pecah. Kamu ingat cerita aku di tempat favorite aku?"
Aily tampak berpikir, mengingat tempat apa yang Dipta maksud. Dan, tidak butuh waktu lama Aily mengingat tempat sewaktu ia di bawa sama Dipta. "Iya, aku inget."
"Papa bukan cuma marah besar, Ly. Pukulan demi pukulan aku rasakan dengan perasaan yang membuat aku hancur. Aku di paksa keadaan, sebenarnya aku gak selalu ingin bawa piala atau tetap menjadi nomor 1, hidup akan terus berputar. Ada kalanya di atas dan di bawah. Tapi, aku harus tetap di atas dengan cara apapun. Itu... Sulit." Napasnya nampak berat. Tangannya bergetar tipis.
KAMU SEDANG MEMBACA
AILY DAILY
Dla nastolatków[FOLLOW YUK, SEBELUM BACA!] -not revised yet! Dua insan ciptaan tuhan yang bertemu di situasi yang serupa, mempunyai perasaan hampa di dada. Takdir yang sama, kehilangan separuh jiwa membuat mereka terpuruk di hidupnya, dan sama-sama mengharapkan se...
