BAB 32: QUESTIONS WITHOUT ANSWERS

51 12 0
                                        

Aily baru saja turun dari mobil milik Kai. Setelah berpamitan dengan laki-laki itu, dan memastikan mobil Kai hilang dari pandangannya, dia masuk ke dalam dengan perasaan yang sungguh tidak bisa ia jelaskan, dia senang bukan main. Kai adalah teman semasa kecilnya, Kai tahu perjalanan hidup Aily saat bersama ibunya. Kai tahu Aily pernah susah, pernah melarat, tapi Kai dan keluarganya selalu akan membantu di waktu-waktu darurat.

Menurutnya, teman yang seperti Kai sangat langka. Di saat dia punya duka, Kai pasti ada. Aily selalu berterima kasih pada laki-laki itu, ia juga harus berbalas budi kepada keluarganya.

Disaat akan membuka pintu besar itu, Aily mengurungkan niatnya sebab ponsel gadis itu berdering. Panggilan masuk dari Dipta, dia tersenyum. Namun, saat akan menggeser ikon warna hijau itu, ponsel nya mati. Dia baru ingat, Dipta menyuruhnya untuk berkabar bahwa sudah pulang dengan selamat.

Aily cepat-cepat masuk ke dalam rumah dan menaiki tangga memasuki kamar gadis itu. Ponsel nya di letakan di atas meja dengan kebel data yang sedang mengisi daya benda pipih itu. Sementara itu, Aily akan mandi dan akan belajar sebentar.

Tok... Tok...

Suara ketukan dari pintu kamarnya membuat Aily kembali mengalihkan niatnya. Dia berjalan dan membuka pintu kamar, menampilkan ayahnya yang masih terlihat sangat bugar.

"Ayah, kenapa?" Tanya Aily.

"Aily sudah makan?" Fadli kembali bertanya kepada putri semata wayangnya, apakah Aily sudah makan atau belum.

Aily menggelengkan kepalanya. "Belum, ayah."

"Ayo makan dulu sama ayah, Mbak Marni sudah menyiapkan masakan kesukaan kamu." Jelasnya.

Ailu tersenyum. "Iya, tapi Aily mau mandi dulu. Nanti, Aily kebawah."

"Oke deh!" Merasa gemas dengan putrinya, Fadli mengacak-acak rambut gadis itu. Hingga Aily tertawa senang.

Hidup nya menjadi bebas tanpa beban setelah Sara hilang dari pandangan Aily. Ia berharap, hidup ayah nya berlangsung lebih lama. Fadli adalah satu-satunya tempat untuk Aily mengadu, tempat untuk Aily merasa di sayang sebagai anak. Bahkan, setiap malam akan tidur, ia menyempatkan berdoa kepada tuhan untuk tidak mengambil Ayah nya dalam waktu dekat.

Sementara itu di lain tempat. Dipta merasa gelisah, dia terus menerus menatap ponsel nya lama. Disana tertera nama kontak Aily disertai emoji yang manis, Dipta tidak mendapat kabar apa pun tentang Aily setelah tadi sore pamit izin pulang. Di kepala nya masih bertanya-tanya atas apa yang di lihat tadi. Mobil siapa yang di naiki sama Aily.

Pintu ruangannya terbuka lebar, Papa nya muncul dari balik pintu. Berjalan mendekat ke arah Dipta. "Besok pagi, kamu sudah boleh pulang. Tadi Papa juga ngobrol sama dokter tentang pemulihan kamu di luar negeri."

Tangan Denis bergerak melepaskan dasi yang melekat di kemeja nya. "Papa sudah temukan recovery centre."

"Dimana?" Tanya Dipta. Sejauh ini, dia tidak tahu negara mana yang akan ia datangi untuk pemulihan bahunya.

"China. Kamu bakal pemulihan di sana dalam waktu dekat, nanti Papa urus semuanya. Besok pulang ke rumah kamu istirahat, ya?" Jelas Denis, matanya menjadi sendu menatap wajah Dipta, dirinya selalu merasa bersalah. Memang, tindakan nya selama ini sangat tidak pantas. Kekerasan, dan paksaan hingga menjadi beban untuk Dipta itu semua hanya demi namanya, bukan karena untuk Dipta sendiri.

"Papa tidur disini?" Dipta memecah keheningan yang hanya beberapa detik itu.

"Iya. Papa bakal temenin kamu disini, kalo mau ke toilet atau ada yang sakit, bangunin Papa aja. Papa tidur di sofa." Katanya sambil berjalan menuju sofa dan duduk di atas benda empuk.

AILY DAILY Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang