Dipta sudah melakukan beberapa kewajiban yang harus di lakukan sebelum pertandingan. Latihan yang keras itu sudah di lalui nya, dan sekarang adalah hari dimana pertandingan itu akan tiba esok hari. Pertandingan yang akan di lakukan di dalam negeri, tentu saja membuat Dipta gugup, akan banyak pendukung yang menontonnya, dari informasi yang dia lihat di social media tiket 3 ribu itu sudah sold out sejak kemarin.
Decitan sepatu-sepatu para atlet badminton menggema di ruangan gimnasium. Mereka sibuk berlatih, seperti Dipta sekarang, ia bertanding dengan temannya. Itu, adalah perintah coach Bima, agar dia tahu teknik-teknik dasar yang di kuasai Dipta sudah cukup atau masih ada yang harus di tingkatkan.
"Bagus Dip!" Kata coach Bima disana sedang memantau Dipta.
"Perhatikan teknik footwork, biar kamu bisa terima tembakan dari lawan!"
"Smash!"
"Ya! Bagus!"
Dipta menang di akhir pertandingan, semua teknik-teknik itu sudah ia kuasai. Permainan Dipta dari dulu selalu menjadi kebanggaan bagi coach Bima, dan selalu menjadi pemenang di setiap laga.
Namun, Dipta sendiri saat mengangkat tangan untuk melakukan smash, bahu nya terasa sakit. Dia memegang bahu dan memijit nya, ia pikir rasa sakit bahu ini hanyalah keram sementara, dan nanti pun akan hilang rasa sakitnya.
"Besok, kamu harus tetap maksimal kaya tadi. Itu sudah bagus sekali, Dipta. Coach proud sama kamu, sejak kecil teknik-teknik kamu itu detail, membuat lawan kewalahan." Papar coach Bima. Ya, sejak kecil dia di latih oleh coach Bima, jadi dia tahu perkembangan Dipta selama ini.
"Makasih coach. Saya akan bekerja keras besok." Jawabnya.
"Kamu bisa istirahat di hotel sekarang. Simpan energi kamu untuk besok." Titah coach Bima sembari menepuk pundaknya.
Dipta mengangguk, kemudian pergi dari hadapan coach Bima. Sejak 5 hari kemarin, Dipta sudah tidur di hotel yang sudah di sediakan untuk atlet-atlet pebulutangkis. Jadi, tidak heran kalau akhir-akhir dia selalu mengingat gadisnya itu.
Saat Dipta akan mengambil beberapa alat untuk di bawa. Tiba-tiba seseorang datang menghampirinya.
"Kak Dipta!" Panggilnya, "semangat ya untuk besok, semoga bawa pulang pialanya."
Sebagai respon, Dipta hanya berdeham dingin. "Makasih." Dan, dia pergi dari hadapan gadis yang memberikan semangat untuk nya.
"Cuek banget." Gumam gadis tersebut sembari menatap punggung Dipta.
"Orang udah punya pacar, ngapain lo deketin?" Teman gadis itu menyahut di dekat nya.
"Masa sih, kak Dipta udah punya pacar?" Batin nya, dengan menatap penuh harap punggung laki-laki itu yang perlahan menghilang dari pandangannya.
∞∞∞
Hari yang di tunggu-tunggu tiba, dimana pertandingan pebulutangkis tunggal Indonesia melawan Filipina. Sorak sorai bergemuruh di tiap-tiap kursi tribun. Yel-yel pun ikut menggema di Arena Indoor Badminton ini. Kedua belah kubu pun tidak mau kalah dari segi suara, tepuk tangan hingga cuitan riuh mereka tunjukan.
Tepuk tangan yang paling meriah adalah di tribun timur, dimana tribun tersebut di penuhi oleh supporter Dipta dari teman-teman sekolah nya. Pak Rusdi, disana ikut memeriahkan tribun nya, bahkan ayah Aily- Fadli Atmaja terlihat antusias disana dengan gadisnya berdiri tegap di samping.
"Gue yakin Dipta bakal menang!" Teriak Fabio di belakang Aily.
"Pastilah itu! Jangan di kata lagi!" Junar menimpali.
KAMU SEDANG MEMBACA
AILY DAILY
Jugendliteratur[FOLLOW YUK, SEBELUM BACA!] -not revised yet! Dua insan ciptaan tuhan yang bertemu di situasi yang serupa, mempunyai perasaan hampa di dada. Takdir yang sama, kehilangan separuh jiwa membuat mereka terpuruk di hidupnya, dan sama-sama mengharapkan se...
