Akhirnya ujian sekolah telah usia. Sekolah memberikan kesempatan libur kepada anak-anak kelas 12 selama dua minggu. Setelah itu, mereka akan kembali ke sekolah dan menghadiri graduation event. Dipta memanfaatkan waktu untuk pemulihan bahu nya, hari ini dia akan berangkat menuju China bersama Gavi.
"Sebelum ke airport, aku mau ke rumah kamu dulu, Ly." Dipta bicara dengan Aily lewat telepon.
"Iya, Dipta." Balasnya.
"Yaudah, aku tutup dulu. Bye, sayang, i love you."
Setelah mendengar balasan pernyataan cinta dari Aily, Dipta memutuskan sambungan. Dia membalikkan badan, dan entah dari kapan Mama nya ada di sana, berdiri di ambang pintu.
"Mama? Ada apa?" Dipta bertanya.
"Ada yang perlu Mama bantu?" Nayla menawarkan diri. Semenjak Nayla kembali ke rumah ini, Dipta menjadi banyak cerita tentang semua yang terjadi pada nya.
"Udah semua, Ma. Gak ada yang perlu di bantu." Jawab Dipta. Nayla hanya mengangguk. "Gavi udah dateng?" Tanya nya.
"Udah tuh di bawah. Dia lagi makan, Mama yang suruh. Kasian badan nya kurus gitu, Mama gak tega liatnya." Nayla bercerita. Dia sempat nangis setelah melihat Gavi dan mendengar cerita dari Denis tentang kehidupan Gavi.
Semenjak itu, Nayla menjadi menganggap Gavi adalah bagian dari keluarga mereka. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana Gavi bisa melewati dunia yang kejam ini sendirian, seharusnya seumuran Gavi hanya memikirkan main dengan teman-teman bukan malah memikirkan bagaimana bertahan hidup. Bahkan, Nayla sempat meminta dan memohon kepada Denis agar Gavi menjadi assisten tetap.
Dengan senang, Denis menyetujui, begitu pun Dipta. Anak itu sudah menganggap Gavi sebagai adik nya. Gavi juga akan melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang perguruan tinggi, semua sudah Denis siapkan. Gavi pun sempat menangis di hadapan mereka, mendengar kabar yang sangat baik itu, siapa yang tidak akan tersentuh hatinya?
"Mama masak apa? Aku juga mau makan dulu, lapar nih." Balas Dipta.
"Banyak, Mama juga masak makanan kesukaan kamu. Turun sana, makan bareng Gavi." Suruh Nayla, Dipta pun langsung berjalan keluar kamar menuju Dapur.
▪︎▪︎▪︎
Suasana di ruangan tengah rumah Aily nampak berbeda. Pasal nya, Dipta dan Kai sama-sama bertatap sangat intens. Bahkan, Aily yang berada di tengah-tengah mereka merasakan kecanggungan itu. Gadis itu hanya diam, bergantian melihat keduanya. Sejak 10 menit yang lalu, saat Dipta datang sampai saat ini belum ada yang membuka obrolan lebih dulu.
"Kalian ke sini cuma mau tatap-tatapan?" Akhirnya Aily bersuara.
Kai membuang muka, menatap objek yang lain. Dia kesini karena Dipta meminta, katanya ada hal yang harus mereka bicarakan. Tentang, Aily.
Dipta mendengus pelan. "Sebenarnya gua gak mau titip Aily ke lo. Tapi, kalo selain lo siapa lagi."
Kai terdiam, masih menunggu apa yang akan Dipta ucapkan.
"Gua cuma mau Aily aman gak ada gua. Gua di sana sekitar dua minggu, lo cukup pastiin Aily aman aja." Lanjutnya.
Kai memutarkan bola matanya. "Iya, gua ngerti."
"Jangan terlalu deket sama Kai ya, Ly. Dia bisa aja galakin kamu. Kamu lihat wajah nya, wajah wajah preman." Kalimat Dipta itu membuat Kai menyatukan alisnya, menatap Dipta nyalang seperti akan mencabik-cabik mulut laki-laki itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
AILY DAILY
Teen Fiction[FOLLOW YUK, SEBELUM BACA!] -not revised yet! Dua insan ciptaan tuhan yang bertemu di situasi yang serupa, mempunyai perasaan hampa di dada. Takdir yang sama, kehilangan separuh jiwa membuat mereka terpuruk di hidupnya, dan sama-sama mengharapkan se...
