#39 pegangan

6 0 0
                                        

Holaaaa jangan lupa vote dan komennya.
Karena udh lama gak up, kalian tim baca ulang atau masih inget alur ceritanya?

***

Semua warga sekolah sepertinya mengumpul di satu tempat. Di mana lagi kalau bukan kantin yang sekarang sudah membludak. Jika ditanya tentang surga dunia. Mungkin mengisi perut yang kosong sehabis bertempur dengan materi pelajaran adalah jawaban mereka. 

"Sumpah gue masih bingung mau beli mie ayam atau bakso?" tanya Kenzo bimbang. 

"Mikirnya kelamaan, keburu masuk." kata Farzan yang sudah duduk manis menghadap ke semangkuk mie ayam kesukaannya. Kedua telapak tangan Farzan bergesek seperti seekor lalat sebelum menyantap rakus makanannya. 

"Lo habis dari mana, Sa?" tanya Samuel melihat Aksa baru saja memasuki kanti. 

"Habis dari kelas pacar gue lah, buat jalan ke kantin barengan." kata Aksa menjawab.

Saguna langsung mengedar pandang mencari keberadaan Meisya. Karena apa? Mungkin saja karena di mana ada pacar dari sang ketua, pasti ada Freya. 

Terbukti, mata elangnya menangkap pemandangan yang sedari tadi ia cari. Berjarak dua meja dari tempat para anggota Liberios duduk sekarang. Terdapat Freya, Meisya dan juga Naila yang sudah mulai duduk menempati sebuah meja kosong agar tidak keduluan murid yang lain. Angkat pantat hilang tempat, jadi pasti satu di antara mereka harus ada yang tetap tinggal. 

"Alay banget. Gue aja nggak pake jemput Naila ke kelasnya cuma buat jalan bareng ke kantin. Enggak bakal tersesat juga." kata Samuel. 

"Tandanya lo gak romantis." balas Aksa. 

Bukannya membalas, Samuel malah berpikir. Menjemput pacar tercinta menuju ke kantin bersama adalah hal yang romantis? Sial, Samuel jarang melakukannya. 

"Cewek suka sama hal yang sederhana tapi romantis mampus. Lo gak becus jadi pacar, Sam." tambah Farzan, mulutnya dipenuhi mie ayam. 

"Emang ada hal sederhana tapi romantis?" 

Satu pertanyaan yang mampu membuat semua orang di satu meja diam membisu. Pasalnya, pertanyaan tadi terlempar dari mulut seseorang yang tidak penah terpikir di kepala mereka. Saguna menatap bingung ke arah sahabatnya. 

"Kenapa? Salah kalau gue nanya?" tanya Saguna. 

"Gak salah sih, cuma aneh aja dikit." jawab Kenzo menempel ujung jari telunjuk dan jempolnya, menyisakan sedikit ruang. "Karena apa alasan lo bertanya? Punya pacar aja enggak, lagi dekat sama orang juga enggak." sambung Kenzo mendapat anggukan setuju dari yang lain. 

"Tetap gak ada salahnya kalau cuma tanya." kata Saguna tidak mau kalah. 

"Emang enggak. Cuma kepedulian lo itu bisa dibilang lumayan mahal, Na. Jadi kalau bertanya tandanya lo peduli dan kalau lo peduli tandanya lo butuh banget sama jawabannya." ucap Samuel. 

"Dan kalau butuh sama jawabannya, tandanya... Lo lagi suka sama seseorang?" tembak Aksa. 

"Kalian mikir kejauhan." kata Saguna. "Lagian kalau benar gue suka sama seseorang, apa hubungannya sama kalian?" 

"Jangan salah karena banyak banget hubungannya, Na. Itu bakal jadi urusan kita semua kalau perlu urusan seluruh anggota Liberios. Karena untuk pertama kalinya selama hampir tiga tahun sekolah bareng. Bercanda bareng. Makan bareng. Kulkas tiga puluh pintu, seorang Saguna Zayyan akhirnya jatuh cinta?" ujar Kenzo heboh. 

"Buset banyak amat tiga puluh pintu." kata Farzan.

Saguna hanya memutar kedua bola matanya malas. Sesekali tatapannya melirik ke arah meja di seberang. Freya baru selesai memesan sepiring siomay berselimut saus kacang. Gadis itu sedang bersenda gurau, memakan makanan seraya tertawa menanggapi lelucon lucu Naila yang terbilang cukup garing namun menggelikan hati. 

Saguna Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang