#41 masih cinta

23 0 0
                                        

Jarum jam di dinding rumah sakit menunjukkan pukul 11:23 malam. Ashe terduduk lemas di bangku panjang bersama Kyla yang mencoba menenangkan wanita tersebut. Sedangkan Ardana berdiri tegap. Ekspresi khawatir tercetak jelas di wajahnya. Tatapan Ardana yang tidak juga lepas dari pintu ruang instalasi gawat darurat atau biasa dikenal, IGD. 

Dokter dan perawat yang sedang bertugas berlalu lalang di koridor. Sampai seseorang datang berlari menghampiri ketiganya, napasnya memburu juga jantungnya berdetak cepat. 

"Gimana keadaan Saguna?" tanya Jordan langsung, rasa khawatir sudah memakannya hidup-hidup. 

"Belum ada informasi lanjutnya, Dan. Saguna masih dalam penanganan." jawab Ardana. 

"Bunda..." Jordan berjongkok memeluk Ashe yang wajahnya sudah banjir air mata. "Saguna pasti baik-baik aja kok, Bun." sambung Jordan di sela pelukan hangat memberi Ashe energi positif. Padahal Jordan sendiri sangat takut. Tadi Saguna masih berada di cafenya, nampak sehat dan tidak ada yang salah sama sekali. 

"Apa yang dibilang Bang Jordan benar, Bun. Kita harus percaya kalau Saguna nggak akan kenapa-napa." ujar Kyla menambahkan.

"Sayang, kita tunggu kabar dari dokter." Ardana beralih duduk di sebelah Ashe.

Sekarang Jordan menarik Kyla sedikit menjauh untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. 

"Kenapa Saguna bisa kecelakaan, Kyla? Padahal tadi Saguna ada di cafe. Gue juga nggak tau kalau ternyata dia udah jalan pulang, dia sama sekali nggak pamit." kata Jordan. 

"Jadi saat itu aku dan Bunda lagi asik nonton TV. Nggak lama handphone Bunda bunyi, telepon dari Saguna masuk jadi langsung diangkat sama Bunda. Tapi yang bicara malah orang lain, suara pria dewasa yang bilang kalau pemiliknya mengalami kecelakaan." kata Kyla mulai bercerita. 

Saat Saguna mengalami kecelakaan dan terkapar tidak berdaya. Seorang warga yang melewati jalan tersebut tidak sengaja menemukan tubuh Saguna tergeletak begitu saja. Jarak antara motor dengan si pemilik juga lumayan jauh, membuktikan tubuh cowok itu memang terpental kasar. 

Pria tadi merogoh saku jaket dan menemukan ponsel Saguna. Beruntung Saguna tidak memasang sandi membuatnya dengan mudah menghubungi seseorang. 

Ashe, adalah orang terakhir yang ada di riwayat telepon. Memang Ashe sempat menelepon Saguna untuk bertanya di mana keberadaan putranya, juga menyuruh Saguna untuk cepat pulang ke rumah sebelum larut malam. 

"Dia yang telepon ambulans dan bawa Saguna ke rumah sakit. Kasih informasi di mana Saguna jatuh dan keadaan Saguna pada saat itu." 

Jordan mengusap kasar wajahnya.

"Mungkin Saguna lagi ngantuk?" gumam Jordan menghembuskan napas berat. Astaga, semua terjadi sangat amat mendadak, otaknya bahkan masih belum bisa mencerna kejadian sepenuhnya. 

"Boleh saya bicara dengan keluarga pasien atas nama Saguna Zayyan?" kata seorang dokter yang keluar dari ruang IGD. 

"Saya Ayahnya, bagaimana keadaan putra saya?" Ardana langsung bangkit. 

"Untuk saat ini pasien masih belum sadarkan diri. Namun tidak perlu khawatir karena kondisinya cukup stabil. Kami menemukan beberapa goresan luka di lengan, bahu hingga kaki pasien."

Ashe masih belum berhenti menangis. Namun terlihat lebih tenang dari sebelumnya.

"Dan mungkin karena benturan cukup kuat membuat helm yang digunakan rusak. Patahan kacanya mengenai pelipis pasien, membuat sobekan yang memerlukan beberapa jahitan." ujar sang Dokter. 

Ada rasa lega di hati mereka namun rasa khawatir masih membalut sempurna. 

"Helmnya rusak? Kalau begitu bagaimana dengan benturan di kepalanya, Dok?" tanya Jordan mewakili yang lain. 

Saguna Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang