Marco melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya dengan langkah pelan karena kepalanya agak pusing efek minuman keras yang ia minum tadi. Sebenarnya malam ini Marco malas untuk sekedar pulang karena tidak ingin bertemu dengan Kia, hanya saja ia malah tetap saja mengendarai mobilnya pulang ke rumah ini.
Sungguh berbicara dengan Erhan hanya membuang-buang waktunya. Padahal sebelumnya ia tidak pernah menceritakan kisah pribadinya kepada orang lain, hanya saja ia kira Erhan mempunyai solusi karena sering berhubungan dengan wanita.
Suara berisik dari dapur membuat langkah Marco terhenti, ia membalikkan langkahnya ke arah dapur yang agak jauh jaraknya dari tempat ia berdiri sekarang. Jam sudah tepat pada jam dua pagi, siapa yang memasak jam segini.
Marco berjalan dengan langkah pelan menuju dapur, ia menghentikan langkahnya saat melihat Kia yang membelakanginya sambil mengaduk makanan di atas wajan sambil bersenandung pelan. Kia memakai pakaian yang sangat berbeda dari biasanya, biasanya Kia akan selalu berpakaian rapi atau memakai dress saat di rumah sekalipun. Sekarang Kia hanya memakai baju terusan yang ada gambar bunga-bunga kecil, lengan pendek dan menutupi kakinya hingga lutut. Pakaian cukup tertutup tapi malah membuat bagian tengahnya terasa sesak.
Marco menutup matanya pelan untuk merendam pikiran gilanya saat ini. Kia saat ini seperti ada sosok lain yang hinggap di tubuh wanita itu, segala tingkahnya sungguh berbeda dari biasanya. Mana mungkin ia langsung membawanya ke atas tempat tidur.
Disisi lain, Kia yang tidak sadar akan kehadiran Marco dengan santai menaruh makanannya di atas piring. Walaupun banyak masalah yang hinggap di hatinya saat ini, Kia ingin melupakan masalahnya sejenak agar bisa makan dengan tenang. Hanya saja saat membalikkan tubuhnya ke belakang, Ia berteriak pelan saat melihat ada Marco di depannya. Ia tidak mendengar langkah kaki Marco yang mendekat ke arah dapur.
"Ngapain kamu?" Reflek Kia berteriak dengan kencang, ia kaget karena beban yang sering ia pikirkan berada dihadapannya saat ini.
"Apa penting alasan aku bisa di sini?" tanya Marco pelan, ia tidak terkejut sama sekali dengan teriakkan Kia.
"Tidak," balas Kia ngasal, karena sudah sangat lapar, Kia tidak berniat untuk memperdulikan keberadaan pria yang hilang beberapa hari itu. Ia menuju meja dapur dan langsung melahap nasinya dengan semangat. Sebenarnya sangat malas makan malam-malam begini. Tapi janinnya yang sepertinya ingin.
"Buatkan aku makanan," lanjut Marco yang ikut duduk di atas kursi tepat di samping Kia.
Kia menatap heran ke arah Marco dan mengeser kursinya agar membuat jarak dengan Marco. Kia tidak suka Marco, bisa-bisanya pria itu bersikap seperti tidak ada apa-apa yang terjadi. "Nanti aku panggilkan Sarah."
"Aku tidak mau pembantu yang buat, tapi kamu!"
Kia menjerit kesal di dalam hati, ia beranjak bangun. Mengambil piring lalu mengambil sisa nasi yang ia buat tadi untuk Marco. Ini nasi sederhana yang ia buat seperti nasi asal-asalan, tidak ada bumbu yang spesial atau resep mahal yang biasa Marco makan.
"Ini!" Kia meletakkan piring itu tepat di depan Marco.
Setelahnya Kia mengambil piring nasinya yang berada di samping Marco dan memilih menganti tempat duduk yang lebih berjarak dengan Marco.
"Pindah?" tanya Marco dengan suara yang kecil, tidak biasanya Kia seperti itu. Bukannya Kia biasa ingin terus menempel dengannya.
"Kalau tidak mau tidak usah, panggil saja chef mu itu." Kia menatap heran ke arah Marco yang malah melamun dengan tatapan mata terus melihat ke arahnya.
Setelah puas memperhatikan Kia, Marco mengalihkan pandangannya ke arah nasi yang berada di depannya. Bentuknya tidak rapi dan warnanya tidak merata, ada yang berwarna coklat pucat membuat Marco tidak yakin dengan nasi ini. Kia yang terlihat terlalu bernafsu memakan makanannya, membuat Marco ikut menyuapkan nasi ke dalam lmulutnya. Ternyata rasanya enak, Marco yang juga lapar menghabiskan nasinya.
"Habis? Secepat itu?" Kia rasa baru saja dua menit tapi nasi di atas piring Marco sudah habis.
"Aku besok pergi ke acara Hendra, kamu tahukan?"
"Tidak tahu," balas Kia.
"Bukannya kamu ikut di komunitas para istri pengusaha itu?"
"Udah lama nggak aku buka." Kia akhir-akhir ini memang sudah malas dengan semua urusan yang berhubungan dengan Marco.
"Besok akan ada acara salah satu anggota negara, dan aku akan pergi."
"Oke." Kia mengambil piring kotor dan meletakkannya di belakang.
"Kamu tidak ikut?" tanya Marco yang mengikuti Kia dari belakang. Ia sudah berusaha menurunkan rasa gengsi nya, sebenarnya bukan karena ingin ditemani tapi Marco tidak terbiasa melihat Kia yang menolak karena biasanya Kia akan memaksa ikut.
"Tidak, apa kamu mau aku hubungi Kelly?" tanya Kia berusaha untuk tetap tenang padahal jantungnya berdetak lebih kencang. Karena acara yang akan ia datangi ini akan ada ledakan besar. Tiba-tiba Kia mengingat acara itu, ternyata walaupun ia mengulang waktu, peristiwa ini tetap terjadi.
Pada sebelum mengulang waktu, Kia tidak tahu jika ledakkan itu ulah Marco. Tapi kali ini Kia entah kenapa sangat yakin jika Marco ikut campur. Kia masih ingat jeritan orang orang yang kesakitan membuat Kia tidak ingin mendengar teriakkan itu untuk kedua kalinya.
"Kelly, kamu membencinya bukan?"
Kia tersentak pelan saat sadar bahwa sebelumnya ia bahkan akan mengamuk jika mendengar nama Kelly disebut, Kellly sendiri adalah sepupu Marco dan sering sekali bersikap jalang terhadap Marco. Selama ini Kia benci wanita itu karena selalu mencoba menggoda Marco padahal mereka saudara walaupun tiri. Dan jika dulu benci sekarang berubah, ia berharap Kelly berhasil merayu Marco hingga membuat Marco setidaknya memberinya kebebasan.
"Aku rasa sebelumnya aku terlalu berlebihan, kalian kan saudara." Kia memberikan senyuman terbaiknya untuk menyakinkan Marco. "Jadi kalian bisa pergi berdua, jika kamu mau, aku akan menelpon Kelly atau kamu punya teman wanita di luar sana? Kamu juga boleh mengajak wanita lain."
Marco hanya membisu tidak berbicara dan Kia menunggu dengan cemas takut Marco tidak peduli dan tetap memaksanya ikut.
"Aku pergi sendiri." Setelahnya Marco berbalik dan berniat meninggalkan Kia seorang diri. Kia bernapas lega akhirnya ia bisa bisa tidak ikut dan di rumah saja.
Tapi baru saja tiga langkah berjalan, Marco kembali berbalik dan mendekat ke arah Kia.
"Tidak bisa, kamu tetap harus ikut."
"Kenapa? Bukannya biasa kamu juga terkadang melarangku ikut." Kia panik bahkan ia ikut mendekat ke arah Marco, hingga jarak keduanya sangat tipis, bahkan Kia mendongak untuk menatap Marco dengan serius. "Aku nggak ikut!"
"Aku perlu kamu untuk menghadapi Jane, buat wanita itu berjalan ke arah selatan saat pesta nanti. Kalian dekat bukan?"
Kia ingat kembali pada adegan ini, benar Marco memang berniat menolong Jane di sana sehingga tubuh Jane dengan dirinya tidak terluka sedikitpun. Kalau tidak salah akan ada lima orang yang meninggal dan dua puluh orang luka-luka.
Dan hanya satu yang memenuhi pikirannya saat ini. "Kenapa kamu peduli padanya?" Sekarang baru Kia bisa lebih jelas untuk berpikir, bahwa Marco juga mencoba melindungi Jane.
"Peduli apa maksudmu? Tidak usah banyak bicara itu akan menjadi urusanku."
Kia menatap ke arah Marco yang tidak bergerak pergi dan hanya diam sambil menatapnya. Wajah Marco juga terlihat serius, seperti sedang memikirkan sesuatu dan Kia rasa pandangan Marco agak berbeda.
Kia memilih duluan untuk kembali ke kamar, rencana ia ingin sengaja mendorong bahu Marco dengan bahunya. Tapi Marco malah tidak goyang sedikitpun. Kia mendengus kesal dan berjalan lebih cepat setelahnya.
Tapi selama perjalanan, ia merasa Marco terus mengikuti langkahnya yang memang sekarang sudah tidak sekencang tadi. Kia berhenti berjalan, Marco juga ikut berhenti. Sambil kembali menaiki tangga Kia agak merinding dengan Marco yang berjalan dengan tenang seperti itu, seperti ada yang dipikirkan oleh Marco dan seperti ada rencana licik yang ada di kepala pria itu saat ini. Untuk sekedar melihat ke belakang Kia jadi takut sendiri, bayangan Marco menyiksa orang membuat Kia merinding.
Dan sebuah tangan tiba-tiba berada di pinggangnya. "Apa kamu menggodaku?"
***
Waduh, Marco mau ngapain ya wkwk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark Love
RomanceSebuah pernikahan yang menyiksa bagi Kia, ia harus menikahi pria paling mengerikan yang pernah ia jumpai. Marco benar-benar pria yang tidak ada belas kasihan, dia bisa membunuh istrinya sendiri demi keinginannya sendiri, hal yang paling menyakitkan...
