Bab 13

142K 6.7K 187
                                        

"Baju apa yang kamu pakai ini? Baju murahan? Siapa yang mendesain baju busuk seperti ini."

"Kamu yang terlalu kasar! Apa aku ini barang hingga kamu memperlakukanku terlalu kasar, aku ini bukan laki-laki kurangi tenaga yang kamu keluarkan. Lihat bahu dan pinggangku pasti memerah sekarang."

"Salahku? Dadamu saja yang terlalu besar!"

"Marco! Jaga mulutmu!" Sekarang Kia semakin kesal bahkan wajahnya sudah memerah sekarang, ia melihat ke arah supir yang diam tidak bergerak sama sekali.

"Lihat ini!" Kia berbalik dan menunjukkan pinggangnya yang memang sedikit memerah akibat tarikan Marco yang terlalu kencang, Kia bisa merasakan sedikit perih di sana. Setelah menunjukkan hal itu, ia menatap Marco yang terdiam beberapa saat lalu membuka kemejanya.

Marco melemparkannya kemejanya ke wajah Kia. "Pakai ini!"

Kia yang diperlakukan seperti itu mencoba menahan rasa kesalnya dan memakai kemeja kebesaran itu dengan sangat amat terpaksa. Sebenarnya tenaga apa yang dikeluarkan Marco hanya untuk menghadapi wanita sepertinya.

Marco mengambil sebuah jaket di belakang mobil dan menggunakannya. "Langsung pulang, jangan kemana-mana."

Kia yang mendengar perkataan Marco hanya mengangguk malas, memang mau kemana ia saat-saat seperti ini apalagi sudah sangat malam.

"Mau kemana?" tanya Kia saat Marco mau keluar dari mobil dan sialnya Marco tidak peduli dengan pertanyaannya dan kembali masuk ke dalam gedung. "Benar-benar pria gila," umpat Kia saat Marco sudah tidak terlihat lagi.

"Buka matamu Pak."

Mandar mengangguk dan menjalankan mobilnya untuk segera pulang, saat ini ia juga menerima pesan yang berisi dari Marco untuk benar-benar memastikan Kia masuk ke dalam rumah.

Disisi lain Marco naik lift menuju lantai lima tepatnya menuju gedung yang berada di kanan ujung. Di lingkungan ini memang memiliki gedung berbeda-beda secara terpisah, setelah sampai ke lantai lima ia berjalan pelan ke arah ruangan yang kaca besarnya mengarah ke tempat ledakan tadi. Setiba di sana, sudah terkumpul Givano, Erhan, Biel, Jack. Keempatnya tampak berbicara serius dan Marco rasa memang ada sesuatu yang terjadi. Dia memang sejak tadi sudah disuruh untuk segera naik, hanya saja tadi harus tertunda karena harus mengurus Kia.

"Kenapa?" tanya Marco sambil duduk di samping Givano yang tentu saja hadir di sini sebagai pemimpin mereka. Fakta bahwa posisinya sebagai pemimpin digantikan oleh Givano masih membuat Marco kesal. Ia tidak akan tinggal diam dan akan berusaha mengambil kembali posisinya.

"Ada yang berhasil selamat, ternyata anak pria tua itu ke toilet tadi," ujar Biel salah salah satu komplotan mereka. Biel sendiri tadi sebelum ke atas memperhatikan siapa saja yang meninggal ditempat, ternyata ada empat orang yang meninggal dan posisi anak Herman tidak ada saat ledakan itu. Pria muda itu di toilet sehingga tidak terkena efek ledakan.

"Jadi sekarang dimana pria itu?" tanya Marco lagi yang juga ikut kesal padahal seharusnya mereka berdua langsung meninggal ditempat saat ini juga. Jika begini, rencana mereka bisa gagal dan mereka tidak akan mendapatkan uang sesuai dengan perjanjian awal. Persaingan bisnis memang mengerikan sampai harus membunuh.

Erhan beranjak bangun dari duduknya, ia membawa serta winenya lalu meneguknya hingga habis dan meletakkan kembali gelas itu diatas meja. Erhan berjalan semakin mendekat ke arah jendela besar di ruangan ini. "Di samping jenazah ayahnya." Erhan menunjuk ke arah bahwa dekat dengan panggung utama.

Marco menatap ke punggung Erhan dengan pandangan tidak suka, ia sendiri malas sebenarnya menanggapi pria yang tadi sangat lama berbicara dengan Kia, ia hanya penasaran ada urusan apa mereka hingga bisa terlihat akrab. Hanya saja Marco harus tetap profesional. Marco tidak mungkin mencampuri urusan pekerjaan mereka dengan urusan pribadi.

"Tidak ada pilihan lain, harus menembak dia." Marco berucap pelan sambil menatap ke arah target mereka yang terlihat sangat panik dengan kondisi ayahnya sekarang. Api yang ada di tubuh Herman juga sudah reda dan tubuh pria itu benar-benar mengenaskan. Yang menyuruh mereka membunuh Herman sudah membatasi waktu bahwa malam ini keduanya harus mati.

"Tembak dia sebelum dia pergi dari sini," sambung Givano.

Marco dan Erhan menatap ke samping tepatnya ke arah Givano yang sudah mengambil senjata apinya dan siap meluncurkan tembakan tepat ke atas kepala targetnya.

"Apa kau yakin? Tidak Marco saja?" tanya Jack yang juga satu kelompok dengan mereka, bukan apa ia takut saja Givano menghancurkan semuanya. Sebelumnya Jack tidak pernah melihat kemampuan Givano dalam menembak, berbeda dengan Marco yang memang sudah ahli. Jack saja heran mengapa tiba-tiba posisi pemimpin dipindahkan kepada Givano bukan pada Marco lagi, padahal jelas kemampuan Marco lebih unggul dari pada Givano.

"Kau ingin mati?" Kini Givano mengarahkan senjatanya ke arah Jack, wajah yang menampilkan Givano sangat kentara tidak suka dengan dahinya yang juga berkerut. Ia tidak suka diremehkan oleh Jack, selama ini Givano sudah sangat berusaha agar bisa terlihat lebih unggul dari Marco yang sejak dulu memang menarik perhatian semua orang. Pria itu terlalu sempurna, hingga membuat Givano kesal, andai saja ia bisa menargetkan kematian pada Marco.

"Cepat kalau kau bisa," lanjut Marco yang tidak ingin mempermasalahkan hal ini, ia sendiri sebenarnya tahu jika selama ini Givano beberapa kali mencoba latihan menembak jauh.

Givano mencoba untuk tidak memperdulikan Jack yang tidak pernah takut padanya. Givano langsung mengarahkan tembakan jarak jauhnya ke arah targetnya, setelahnya melepaskan pelatuknya.

Dan tembakan itu benar-benar meleset dan mengenai bahu orang yang berada di samping target mereka. Tentu saja beberapa orang teriak panik semakin berlari-larian, beberapa orang melihat ke atas melihat dari mana peluru itu berasal. Ada beberapa orang juga melarikan diri, apalagi dengan beberapa wanita yang sudah menjerit. Sedangkan target mereka sendiri seperti kebingungan.

Tidak bisa menunggu lagi, Marco langsung merebut paksa tembakan itu. Dan menembak ke arah targetnya yang sejak tadi berdiri dengan tidak pasti seperti panik karena suara tembakan barusan. Marco mencoba lebih memfokuskan tujuannya dan ia langsung menembak ke arah targernya dan peluru itu tepat mengenai kepala targetnya yang sekarang sudah terkapar mengenaskan. Semua orang semakin panik, dan dapat Marco lihat jumlah polisi dan tenaga kesehatan terus bertambah.

Setelahnya semua petugas berlarian menyusuri segala tempat. Mereka juga berlari menuju gedung yang saat ini ada keberadaan mereka berempat.

"Kabur, pastikan kalian tidak tertangkap." ujar Marco setelahnya mereka berlima berpencar sambil berjalan cepat.

Setelah lima belas menit menuruni tangga darurat, Marco mencoba mengatur penapasannya yang sangat tidak teratur karena sangat kelelahan. Ia berjalan pelan hendak menuju pakiran sambil menghubungi orang suruhannya untuk segera menjemput.

Marco melihat sebuah notifikasi yang ditunggu-tunggu dengan senyum puas, notifikasi yang menampilkan uang sebesar seratus miliar sudah masuk ke rekeningnya.

"Semuanya telusuri semua gedung ini."

Marco mendengar suara beberapa orang di belakangnya yang mengeluarkan perintah pada beberapa bawahannya. Tidak lama ia juga merasakan tepukan di bahunya, Marco berbalik dan menatap pria yang dikenalnya ini. Kalau tidak salah dia termasuk salah satu angkatan tertinggi di kepolisian.

***

Dark Love Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang