"Bu fokus, ayo sedikit lagi kepala bayi mau keluar."
"Operasi saja," lanjut Marco yang juga jadi tidak nyaman melihat Kia yang terlihat seperti tidak sanggup lagi.
Kia yang tidak terima dengan ucapan Marco, langsung menatap ke arah Marco dengan tajam. Bukannya memberikan semangat, tapi Marco malah menyuruhnya operasi disaat Kia sudah mengeluarkan semua kemampuannya.
Marco yang tepat berada di sampingnya Kia membuka kesempatan bagi Kia untuk menarik baju Marco dengan kencang hingga pria itu terlihat sedikit menunduk dan tidak mau membuang kesempatan yang Kia miliki, ia langsung menarik rambut Marco dengan kencang.
"Au," rintih Marco yang tidak siap dengan serangan Kia yang mendadak.
"Rasakan ini!" Kia juga mencakar belakang leher Marco, setelah puas menyiksa Marco barulah Kia kembali fokus dengan terus mengatur penapasannya sesuai dengan arahan dokter. Tapi tidak lupa juga dengan tangannya yang tetap menarik baju Marco hingga baju pria itu sudah sangat berantakan.
Beberapa menit kemudian, keluarlah suara bayi yang menangis kencang. Semua yang berada di ruangan bernafas lega. "Sekarang dijahit ya."
Tangan Kia sudah lepas dari tubuh Marco, wanita itu terdiam dan terkapar lemas. Marco mendekat ke arah dokter yang sedang menjahit bagian milik Kia. Dan Marco melihat sendiri bagaimana semua proses itu. Marco ngilu melihatnya, ia menatap ke arah Kia yang terlihat tidak berteriak lagi dan hanya termenung dan sesekali meringis.
Bayi yang tadi menangis dengan kencang itu sudah dipindahkan untuk dibersihkan. Setelahnya bayi mungil tersebut kembali dibawa keruangan ini dan diletakkan ke dada sang Ibu.
"Anzel, ini Mama sayang." Kia mencium pipi anak laki-lakinya dengan penuh sayang. Wajah anaknya juga tidak berubah sama saja dengan kehidupan sebelumnya.
Marco mendekat ke arah Kia dan melihat sendiri bahwa anak laki-lakinya lebih mirip dengan Kia. Dan saat mata bayinya terbuka barulah Marco bisa melihat bahwa warna matanya mirip dengan Marco, warna hitam kelam.
"Anzel?" tanya Marco.
"Iya nama bayi mungil ini Anzel," jawab Kia sambil terus tersenyum menatap anaknya. Nama Anzel sebenarnya dulu diberikan oleh Marco.
"Anzel Ferensiano Ailank," sambung Marco yang membuat Kia sedikit terkejut, bahkan di kehidupan kedua ini nama Anzel tidak pernah berubah dari kehidupan sebelumnya.
***
Sudah dua hari Kia berada di rumah sakit, dan sudah dua hari juga Marco datang ke rumah sakit ini. Marco tidak selalu memasuki ruangan Kia, terkadang Marco hanya mengintip dari luar. Ini semua karena Marco tidak nyaman saja saat Kia terus menatap tidak suka ke arahnya.
Di luar ruangan Kia, Marco terduduk di kursi dengan pikiran yang campur aduk. Marco biasa tidak pernah memperdulikan perasaan orang lain, tapi kali ini Marco terus berpikir untuk membuat Kia kembali ke rumahnya.
Semua ini membuat Marco pusing, semua hal yang membuat Kia berubah adalah kesalahannya dan semua rencana busuknya dengan Givano memang pantas membuat Kia marah. Tapi Marco malah dengan tidak tahu dirinya ingin membuat Kia kembali ke rumah.
Sejak beberapa bulan Kia pergi, ternyata membuat Marco sadar bahwa rumah seakan tidak bernyawa karena tidak ada wanita itu.
Marco juga terkadang menunggu Kia agar datang ke depan rumahnya, walaupun hanya untuk sekedar mengintip Vina dari luar pagar.
Marco sudah berapa kali Marco menekankan pada dirinya sendiri bahwa Kia tidak berarti, tapi ini sangat sulit. Kenapa susah sekali menyakinkan bahwa Kia bukan orang penting hingga ia harus terus memikirkan wanita itu. Tapi demi kenyamanan pikirannya, Marco memilih menurunkan harga dirinya untuk mengajak Kia pulang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark Love
RomansaSebuah pernikahan yang menyiksa bagi Kia, ia harus menikahi pria paling mengerikan yang pernah ia jumpai. Marco benar-benar pria yang tidak ada belas kasihan, dia bisa membunuh istrinya sendiri demi keinginannya sendiri, hal yang paling menyakitkan...
