Bab 9

152K 7.6K 142
                                        

Kia mencoba melepaskan tangan Marco dari pinggangnya, lalu menatap heran ke arah Marco. "Apa maksudmu?" tanya Kia heran, tangannya tidak cukup kuat untuk bisa melepaskan tangan Marco dan pria itu menarik pinggangnya semakin mendekat ke arahnya hingga tubuh keduanya menempel dan disaat itu Kia paham apa yang Marco inginkan.

"Aku sedang marah padamu." Kia berbicara serius, ia juga ikut merasakan ingin melakukan hubungan suami istri itu. Tapi dengan kondisi seperti ini, Kia seakan bisa mengutuk dirinya sendiri jika luluh. Bukannya ia harus lebih bisa menahan diri?

"Apa kesalahanku?" tanya Marco dengan suara yang sangat pelan. "Beri alasan kenapa kamu sangat berlebihan sekarang."

"Kamu selingkuh, aku lihat kamu sama cewek lain." Kia melihat wajah Marco yang kebingungan dan mengangkat alisnya seperti meremehkan Kia yang sekarang juga bingung kenapa bisa kata-kata itu keluar dari mulutnya.

Hanya saja walaupun sakit hati tapi Kia rasa akan bagus jika Marco ada cewek lain. Tapi entah kenapa ia ingin menangis saat membayangkan Marco bisa memperlakukan wanita lain lebih baik darinya. Kenapa hatinya sangat gampangan seperti ini. Ia harus ingat bahwa Marco sejak awal tidak pernah mencintainya.

"Apa aku perlu membawamu ke rumah sakit jiwa? Sepertinya jiwamu terguncang hingga mengeluarkan perkataan yang mengarah ke halusinasi."

"Lebih tepatnya aku sudah berhenti tertarik padamu, aku bosan," sambung Kia lagi yang membuat Marco tersenyum tipis setelahnya terkekeh pelan.

Marco dengan gerakan yang cepat langsung membungkam mulutnya dengan bibirnya. Tangan Marco menahan tangan Kia yang hendak melepaskan diri. Entah berapa menit hingga ciuman itu terlepas, dengan Kia yang kesulitan untuk bernafas. Kia juga tidak berani terlalu memberontak, karena mereka saat ini ada di atas tangga.

"Apa kamu serius ingin? Maka memohonlah padaku." Kia menantang Marco yang pasti tidak akan mau untuk sekedar meminta hal yang pasti membuat pria itu merasa menjatuhkan harga dirinya.

"Tidak akan!"

Setelah mengatakan itu, Marco langsung berjalan meninggalkan Kia menuju kamarnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Rasanya menyakitkan tapi egonya tidak bisa ia lawan sedikit pun, ia tidak pernah menerima penolakan lebih hina dari ini. Masih ingat di dalam kepalanya Kia terkadang suka memakai baju kekurangan bahan di depannya, sengaja menggodanya. Saat ia pulang kerja wanita itu selalu mencoba menarik perhatiannya dan bahkan sering membuat tugas kantornya jadi tertunda. Tapi sekarang Kia menolaknya dan jika melampiaskannya pada wanita lain Marco benar-benar tidak bernafsu dengan wanita murahan di luar sana.

Setelahnya Kia dilepaskan oleh Marco, ia memegang tepian tangga dengan erat. Kakinya terasa lemas sekarang.

Disis lain Marco tanpa membuka bajunya lagi langsung berjalan menuju shower dan menyalakan air dingin. Ia menutup matanya erat sambil mencoba menghilangkan bayangan Kia dari kepalanya. Ia beberapa kali memukul kepalanya lantaran kesal kenapa wajah Kia terus menghantuinya dan nafsu yang membuat tubuhnya sangat kacau sekarang.

***

Keesokkan harinya tepatnya pada siang hari, sudah ada lima orang yang tidak asing datang ke rumahnya. Mereka biasanya memang orang yang dipersiapkan untuk mempersiapkan tampilannya jika ingin pergi ke sebuah acara besar. Kia yang sudah bangun sedari tadi, menatap malas ke arah mereka. Jika dulu ia akan sangat senang ke acara mewah, sekarang rasanya ingin di rumah saja.

Karena Kia yang diam saja pria yang bertingkah seperti wanita menghampirinya dan menggandeng tangan Kia menuju sebuah ruangan untuk memilih baju untuk dikenakan oleh Kia malam ini. Sangat banyak baju baru yang tertata rapi di ruangan ini, tapi selama ini Kia tidak memilih sendiri tapi pria ini yang memilihkannya.

"Pakai ini."

Kia menatap jengah pada wanita jadi-jadin iini. "Aku mau pilih sendiri dan untuk makeup aku juga mau sendiri."

Apa Marco itu buta hingga tidak bisa melihat jika selama ini ia dibuat seperti tante-tante girang oleh penata rias bernama Bobi itu tapi sering mengenalkan diri dengan nama Manda. Kia tebak Manda itu pasti suruhan Kelly, karena Kia sering melihat Manda di status Kelly. 

Karena kesempatan kedua ini Kia sudah tahu jika Manda adalah suruhan Kelly untuk membuatnya terlihat buruk. Kia membuka ponselnya dan membuka youtube untuk melihat referensi pakaian yang bagus. Lalu membandingkan dengan pakaian yang ada di hadapannya saat ini.

"Tidak bisa, aku harus mengikuti perintah tuan Marco."

"Ayo ikut aku keluar sebentar."

Dengan polosnya Manda mengikuti langkah Kia di belakang. "Yang lain ikut juga, aku ingin memberikan sesuatu." Empat orang lainnya juga ikut mengikuti langkah Kia. Setelah mereka sudah keluar dari kamar, Kia langsung menyusun rencananya. "Nah, kalian tunggu di sini sebentar ya, aku ketinggalan sesuatu." Setelahnya Kia langsung masuk ke ruangannya tadi dan langsung menguncinya.

Manda dan keempat orang itu terkejut dengan Kia yang mengunci pintu, merek berjalan mendekat kembali ke arah pintu.
"Buka pintunya." Manda yang sejak awal curiga, langsung mengerti dengan tindakan Kia dan berteriak marah.

"Kita adukan saja pada tuan Marco." Saran salah satu pekerja itu.

Manda ingin mengadu pada Marco rasanya tapi nyalinya lebih dulu menciut, ia tidak berani hanya sekedar menghubungi pria mengerikan itu. Selama ini ia juga mendapat pekerjaan ini tidak langsung berhadapan dengan Marco, tapi ia ini bisa bekerja di sini atas bantuan Kelly.

***

Ruangan kerja yang bernuansa warna abu-abu dan putih tampak mencekam karena penghuninya sendiri sejak tadi hanya diam dengan mata yang fokus ke arah layar di hadapannya. Emosinya saat ini benar-benar tidak stabil akibat hasrat yang tidak bisa ia salurkan. Bahkan sejak semalam Marco tidak bisa tidur.

Pikirannya benar-benar terasa penuh, pekerjaan yang menumpuk. Ditambah lagi kenapa harus ada Kia di kepalanya saat ini. Kenapa harus wanita itu, apa tidak ada hal lain yang bisa ia pikirkan selain wanita itu. Tidak pernah bisa ia bayangkan bahwa Kia bisa mengganggunya seperti ini. Marco sadar pemilik mata hijau itu sejak awal memang cantik, tapi dulu ia tidak pernah hanya sekedar memikirkannya karena baginya tidak penting. Perubahan Kia membuat Marco penasaran apa yang membuat dia berubah seperti itu.

Marco yakin ia seperti ini karena tidak terima dengan penolakan Kia dan tentu saja egonya sebagai laki-laki terluka. Suara ketukan berulang kali di pintu depan membuat Marco yang melamun jadi langsung bisa menyadarkan dirinya. Ia menutup laptopnya dan menyuruh orang di luar untuk masuk.

"Masuk."

Ternyata wanita yang mengganggu pikirannya yang datang. Ia sedikit heran tidak biasanya Kia seperti ini, biasanya akan langsung masuk saja tidak mengetuk terlebih dahulu. Sungguh perilaku Kia yang berubah membuat Marco sakit kepala.

"Aku sudah siap, lalu mengapa kamu tidak siap-siap?" tanya Kia saat Marco terlihat santai tidak sepertinya yang berjuang untuk bisa tampil lebih cantik hari ini.

Marco langsung menatap tubuh Kia yang sudah siap dengan dress putih semata kaki dan baju yang berpotongan lengan pendek. Marco beranjak bangun dan melihat semua penampilan Kia yang terlihat berbeda di depannya. Baju yang sangat sopan di matanya hingga ia melihat ke arah punggung Kia yang terbuka hingga sebatas pinggulnya.

Marco yang memang terbiasa melihat orang berpakaian seperti itu tidak tau harus berpendapat seperti apa karena biasa Kia lebih terbuka dalam berpakaian. Sebenarnya Manda yang membuat Kia berpakaian terlalu terbuka karena saat awal kenal dulu, Kia berpakaian lebih tertutup dan kasual.

"Ingin menggoda siapa?" tanya Marco tepat di telinga Kia.

"Lihat dulu nanti siapa yang menarik di sana," jawab Kia sambil tertawa pelan dengan ucapannya barusan.

***

Marah ga ya si marco wkwkwk

Dark Love Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang