Bab 29

111K 6.3K 358
                                        

"Kenapa memukul Givano, dia dirawat rumah sakit? Papa perlu penjelasan darimu. Kalian itu saudara, harus saling menjaga."

"Faktanya ibuku hanya pernah melahirkan sekali," jawab Marco, tidak ada suara lagi setelahnya. Dan Marco dapat mendengar Gorzen mendehem pelan.

"Givano bilang kamu memukulnya karena kamu tidak suka dengan keberadaan dia di kantor? Marco tolong kamu bisa lebih berpikiran terbuka, Papa akan tetap memberikan perusahaan itu ke kamu, dia hanya bekerja di bawahmu."

"Apa pria itu kembali mengeluarkan omongan sampahnya?" Marco tidak habis pikir dengan Givano yang masih kekanak-kanakan, apa dia tidak malu berbohong seperti bocah.

"Papa juga tahu kamu sangat menginginkan Balvc, Papa tidak bisa memberikannya karena kamu tahu Papa sudah keluar dari Balvc itu sejak lama. Semua kekuasaan Balvc itu diatur oleh kakekmu."

"Seharusnya Anda tidak pernah keluar dari Balvc sebelum jatuh ke tanganku. Jangan pernah menghubungiku lagi? Paham!"

Marco sudah berhenti memanggil Givano dengan sebutan  sejak kejadian tragis yang membuatnya tidak bisa menghilangkan rasa bencinya pada Gorzen.

"Marco tunggu dulu! Kapan kamu membiarkan Papa bertemu dengan cucu Papa?"

Tanpa membalasnya lagi, Marco langsung menghentikan sambungan telepon mereka. Marco beranjak bangun dari kasur, ia tidak mau berdiam seperti orang gila seperti ini. Marco setelah ini akan menemui kakeknya, pria tua yang juga sangat ia benci. Hari ini ia juga akan ke kantor dan memakai pakaian setelah jasnya.

Alasan utama mengapa Marco mengunci diri tentu karena ia menghindar dari Kia, tidak ada alasan pasti yang tentu Marco sedang tidak ingin bertemu dengan wanita itu. Hanya saja saat membuka pintu, wanita yang ingin ia hindari berada di depan pintu kamar. 

Hanya keheningan yang menyapa, tidak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun. Awalnya Kia menunduk hanya saja saat ia mengangkat kepalanya dan menatap wajah Marco tepat di bola matanya Keberanian Kia langsung hilang begitu saja. 

Kia mau menanyai keputusan Marco tentang Sandra hanya saja jika seperti ini Kia takut untuk mengeluarkan suaranya. Apa Kia terlalu cepat menagihnya? Hingga Kia memilih mundur dan membiarkan Marco yang melangkah meninggalkan Kia yang menatap punggung Marco dengan tatapan sendu.

***

Tidak mau menunggu lama lagi, Marco langsung mendatangi Pilz, kakek Marco disebuah rumah yang tidak besar hanya satu lantai saja dan sangat sederhana padahal uang pria itu saja bisa membangun gedung. Walaupun rumah ini sederhana, tetap saja banyak penjaga disini. Setiba di dalam rumah, ia langsung menuju kamar Pilz. Bahunya ditahan oleh beberapa orang.

"Lepaskan!" Marco mendorong ke dua orang yang menahannya dan langsung memberikan pukulan yang keras kepada keduanya. Apa mereka kira semudah itu bisa menahannya.

Marco membuka pintu kamar dan terlihatlah Pilz dengan tongkatnya berdiri sambil menatap Marco.

"Ada apa? Apa kau mau memohon aku memberikan Balvc kepadamu?" tanya Pilz dengan nada mengejek yang kental.

"Anda tahu apa tujuanku memiliki Balvc? Bukan sekedar untuk semakin kaya atau pun memiliki kekuasaan. Aku memiliki alasan yang pasti untuk itu."

Pilz hanya diam karena ia sendiri tidak tahu mengapa Marco sangat ingin menguasai Balvc, organisasi gelap yang sering terjadi pembantaian darah.

"Dan apa kau tahu alasan aku memberikan Balvc pada Givano? Padahal dari kemampuan aku tahu siapa yang lebih unggul."

Marco juga diam karena ia tidak tahu, hanya saja sebuah bisikan di kepalanya mengintainya. "Karena Gorzen keluar dari Balvc?" tanya Marco memastikan.

"Bukan," jawab Pilz. "Tapi karena aku mau kau keluar dari organisasi gelap itu, itu tidak baik banyak kematian di sana."

Marco tertawa sangat nyaring, ia tidak pernah menyangka ada kata-kata seperti itu. "Kau bertobat?" tanya Marco pelan. "Kau mau bertobat pun neraka adalah tempatmu, tidak ingat berapa banyak orang yang kau bunuh?"

"Tepatnya aku memimpikan Ghia menyuruhmu berhenti." Saat sudah tua seperti ini entah kenapa Pilz sempat memimpikan ibunya Marco.

"Jaga mulutmu, aku tidak sudi nama Ibuku kau sebut."

Pilz hanya menghela nafas pelan, ia menghirup nafas dengan susah payah. Semua hal yang terjadi cukup membuatnya sadar betapa kejamnya ia selama ini. "Jadi apa alasanmu hingga mau Balvc ada ditanganmu?" tanya Pilz cukup penasaran.

"Agar aku bisa membalaskan dendamku pada mu dan Gorzen," jelas Marco tidak gentar. "Aku masih mengingat jeritan kesakitan Ibuku saat kau siksa hanya karena dia menghasut Gorzen untuk keluar dari dunia kegelapan itu," sambung Marco yang tidak sama sekali gentar setelah mengucapkan tujuannya.

Pilz cukup tahu bahwa masa mudanya sangat menyeramkan dan tidak ada sifat kemanusiaan. Ia menyiksa Ghia, Ibu Marco di depan Marco sendiri sebagai hukuman bagi Ghia karena berusaha membuat Gorzen keluar dari organisasi yang sudah lama di ia harap turun ke tangan anaknya. Ghia terus menghasut hingga Gorzen sempat ingin keluar dari Balvc, walaupun pada akhirnya Gorzen tidak terhasut. Tapi Pilz sudah duluan marah dan membuat Ghia mati mengenaskan.

"Aku tau bahwa jika aku membunuhmu saat ini semua bawahan Balvc akan mencariku dan membalaskan dendam karena bos tua mereka  mati. Hanya saja jika aku menjadi ketua Balvc mereka akan takut denganku walaupun membunuhmu," ujar Marco yang tidak masalah jika Pilz tahu semuanya, ia tidak akan kalah begitu saja. Tidak mesti harus menjadi ketua Balvc, Marco akan mencari cara lain.

Pilz kembali melihat ke arah cucunya yang sudah dewasa dengan tatapan hampa. Pilz juga membiarkan Marco yang berusia sepuluh tahun saat itu untuk menyaksikan detik-detik kematian Ibunya, Marco yang awalnya terdidik menjadi anak yang baik oleh Ghia menjadi berubah setelah kejadian itu.

Marco mundur selangkah saat Pilz memegang senjata api yang kekuatan tekanan dan tajamnya peluru tidak main-main. Tapi anehnya pria itu memberikan senjata api itu pada Marco.

"Baik, aku menerima alasanmu. Maka tanpa kekuasaan itu, aku menyerahkan diri padamu." Pilz mengambil sebuah senjata api yang berukuran besar. "Maka sebagai hadiah terakhirku aku memberikan nyawaku sekaligus Balvc kepalamu."

"Bunuh aku."

Tanpa berpikir panjang, Marco langsung membidikkan senjata itu ke arah kepala Pilz. Dan pada saat itu juga peluru menembus kepala pria tua itu hingga kepalanya pecah dan isinya berceceran di lantai. Marco tertawa pelan setelah apa yang ia lakukan, lalu ia menatap senjata ini. Apa selanjutnya adalah Gorzen, salah satu target selanjutnya.

Setelah kematian Ibunya, ternyata Gorzen mempunyai wanita simpanan dan memiliki anak yang berbeda tiga tahun dengannya. Yang artinya pria itu sudah lama selingkuh.

Marco masih ingat senyuman manis Ghia saat menyambut Gorzen. Saat Ghia menyuapi Marco makan bahkan saat Marco sudah besar Ghia masih gemar menyuapinya. Saat Ghia menyayangi keluarganya sepenuh hati, ternyata selama ini Ghia melayani bangkai busuk bernama Gorzen.

Setelahnya pintu terbuka dan beberapa pria berpakain hitam mengelilinginya dan menunduk hormat ke arahnya. Marco yang tidak menyangka hal ini terjadi tentu sedikit terkejut, ia ingin meninggalkan tempat ini hanya saja sebuah tangan menghentikannya.

"Ikut saya." Pria yang sepertinya seusia Pilz memimpin jalan dan Marco mengikuti langkah pria itu.

Marco mengikuti langkah pria yang tidak ia kenal tersebut, sesekali ia melihat ke arah belakang dan ia melihat semakin banyak yang berkumpul di depan pintu kamar Pilz. Sebenarnya ini semua cukup membuat Marco penasaran, apa yang sebenarnya terjadi. Ia dibawa di sebuah ruangan dengan lampu yang redup.

"Sebelum kedatanganmu, Pilz sudah menyuruh kami untuk membiarkan kamu membunuhnya. Untuk Balvc sendiri, dia akan memberikannya padamu jika kamu mau."

Pria itu memberikannya sebuah map besar, Marco mengambilnya dan cukup terkejut dengan isinya. Sebuah surat kepemilikan. "Lalu bagaimana dengan Givano?"

"Bisa dikatakan ia hanya pemimpin yang tidak terdata di kertas. Dia hanya pemimpin dari mulut Pilz saja."

Marco melihat surat itu dengan seksama, untuk menjadi pemimpin Pilz, Marco akan memikirkannya terlebih dahulu. Karena alasan awalnya hanya untuk membunuh kakeknya, Pilz. Dan kematian Pilz sudah bisa ia lakukan. Selanjutnya targetnya adalah Gorzen.

Tidak mau menunggu lama Marco membawa senjata dengan beberapa bawahan Pilz ikut bersamanya menuju rumah Gorzen. Tiba di Gorzen, ternyata rumah sudah kosong. Untuk istri ketiganya juga tidak berada di rumah, para pelayan mengatakan tidak tahu. Hal itu membuat Marco kesal, padahal setelah dari rumah Pilz, Marco langsung menuju ke rumah ini. Marco yakin jika Gorzen sudah mengetahui informasi mengenai Pilz yang sudah meninggal.

"Sial, kalian cari tahu di mana Gorzen berada." Perintah Marco pada para pekerja Balvc yang awalnya khusus bekerja di bawah perintah Pilz, sekarang mereka berubah menjadi menurut padanya. Marco berusaha untuk tenang dan memilih untuk langsung ke perusahaannya saja..

Tetapi setiba di depan layar, Marco mendadak jadi malas padahal baru bekerja selama dua jam saja, ia sudah tidak betah. Padahal biasanya Marco sanggup bahkan sampai tidak tidur. Saat ini Marco terus memikirkan kejadian di taman bersama Kia. Mengikuti saran dari otaknya, Marco membuka kembali ipadnya

Lagi dan lagi Marco menjadi seorang penguntit, dengan tidak tahu malunya Marco kembali melihat aktifitas Kia di rumah dilayar. Marco dengan fokus melihat Kia yang terlihat sedang mengikat rambut Vina tepatnya seperti kepangan lalu juga memberikan bedak tabur ke wajah anaknya.

Marco menghentikan pengintaiannya pada Kia. Mencoba kembali fokus, tapi tetap saja Marco tidak bisa fokus. Ia ingin segera mengetahui di mana keberadaan Sandra saat ini, ia tidak ingin melepaskan Sandra begitu saja.

Marco memukul kepalanya saat otaknya malah berpikir tidak logis. Untuk apa Marco menunggu seperti ini, semua rencananya akan berhasil. Bahkan balas dendam terbesarnya pada Pilz juga sudah terwujud, jadi masalah Kia seharusnya bukan masalah besar baginya.

Marco hanya tidak perlu melanjutkan perjanjian dengan Givano karena Balvc bisa dengan mudah didapatkan kembali. Marco tinggal mengusir Kia dari kehidupannya dan setelahnya menemukan Sandra. "Ini sangat mudah."

***

Dua minggu sudah berlalu dan sejak itu juga Marco terus menghindarinya Kia. Hanya saja Kia tidak sanggup hanya terus berdiam diri tanpa melakukan pergerakan apa pun. Hingga Kia memutuskan untuk membicarakan masalahnya hari ini.

Kia menunggu Marco di ruang tamu. Hanya saja sudah mau sembilan malam, Marco tidak kunjung pulang. Hal ini membuat Kia kesal, Kia ingin langsung bertanya tentang keputusan Marco. Ia yang tadinya berdiri memutuskan untuk duduk di atas sofa. Tiga puluh menit berlalu barulah Marco sampai ke rumah dengan baju yang kusut dan kancing baju bagian atas yang terbuka.

"Menungguku?" tanya Marco cukup terkejut dengan kehadiran Kia, sebenarnya ini tidak akan membuatnya terkejut jika terjadi pada saat sifat Kia tidak berubah. Sudah lama rasanya Kia tidak menunggunya pulang.

"Iya, aku mau menanyai keputusanmu, apa kamu sudah memutuskannya?" tanya Kia dengan penuh harap dan Marco dengan raut tidak berekspresi hanya menatap Kia dalam diam, hal itu membuat Kia kesal. Apa susahnya Marco langsung menjelaskan bagaimana keputusan Marco selanjutnya.

"Kamu mencintai Sandrakan?" sambung Kia lagi agar setidaknya Marco bisa mengingat wanita yang dia cari selama ini.

***

- Aku mau tahu ni, coba kalian tebak siapa Sandra?

-Kalian tim apa ni, tim nunggu Marco bucin parah sama Kia atau tim Kia dan Marco tidak bersatu.

Target : 2.100 Vote + 5 Followers 🥰

Komenn yanggg banyakkk hehehe

Buat yang ga sabar menunggu bab selanjutnya  wa ke nomor ini ‪0838‑6394‑7842‬
Bab 30 sampai bab 38 cuman 15k
Bab 30 sampai bab 42 cuman 20k (Paket Hemat)

Dark Love Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang