Bab 20

141K 6.4K 292
                                        

Kia malah teringat jika ia bunuh diri apa akan kembali ke akhirat atau malah mengulang kembali waktu. Dan Kia tidak ingin mengulanginya lagi, ia tidak sanggup.

Padahal Kia tidak berharap kehidupan kedua ini, ia tidak ingin memperbaiki apapun. Katakanlah Kia memang bodoh, tapi ia tidak sanggup mengulangi hal menyakitkan itu untuk kedua kali dan Kia tidak memiliki kepercayaan diri yang besar untuk bisa mengalahkan Marco.

Saat Kia terjatuh dari lantai tiga seharusnya ia langsung meninggal saja saat itu dan tidak kembali ke sini dan jika memang ada kesempatan kedua Kia ingin dikembalikan waktunya saat ia sebelum mengenal Marco dan Givano sehingga ia tidak terlibat dengan kedua orang itu. Maka pilihan untuk menembaki dirinya sendiri saat ini akan menjadi hal yang sia-sia.

"Kalau aku mati sekarang gimana ya?" tanya Kia pada Marco yang sekarang seperti tidak ada panik sama sekali. Kia ingin melihat bagaimana reaksi Marco saat Kia ingin mencoba kembali bunuh diri.

"Berani?" tanya Marco yang aneh saja dengan perilaku Kia dan ia tebak Kia hanya sedang main-main. Tapi pada kejadian saat Kia berani hendak menggantung diri sendiri membuat Marco jadi tidak bisa menganggap Kia sedang bercanda. Sebenarnya ada apa dengan Kia, apa yang terjadi pada Kia hingga bisa seperti ini.

"Jangan gila!" sambung Marco yang mencoba memperhatikan gerak-gerik Kia agar bisa mengambil waktu yang tepat mengambil pistol tersebut.

"Aku nggak mau jadi pembunuh, tapi aku bisa kok bunuh diri aku sendiri. Aku bisa membunuhmu juga jika kamu memaksa setelahnya aku bisa bunuh diriku sendiri, hehehe."

Kia tersenyum lembut pada Marco berharap Marco bisa panik dan benar sekarang Marco jadi terlihat lebih panik. Pria itu maju selangkah yang membuat Kia memundurkan duduknya agar lebih ke belakang.

"Memang masalah apa yang kamu hadapi? Perasaan hidupmu enak kan? Bisa beli apa pun yang kamu mau."

"Tidak cukup," balas Kia lagi, apa pria yang berada di hadapannya ini tidak mengerti bahwa tidak semua hal bahagia bisa dibeli dengan uang. Bahkan saat tahu apa tujuan Marco membunuhnya, Kia tidak lagi berselera hanya untuk membeli tas mahal ataupun membangun relasi dengan para wanita kaya di luar sana.

Saat ia belum merasakan pecahnya kepala belakang akibat jatuh dari lantai tiga, Kia banyak belanja barang-barang mahal dan selalu ikut kumpul bersama para wanita istri pejabat dan istri pengusaha. Tapi sekarang ia tidak lagi memperhatikan hal itu, pesan yang dikirim oleh teman sosialitanya juga tidak Kia pedulikan.

Kia sedikit curiga dengan Marco yang malah diam saja, apa Marco kira ia main-main. Kia menarik pelatuk pada pistol tersebut. Sebenarnya Kia agak takut, takut malah tertekan beneran dan kepalanya bocor lagi gara-gara peluru.

"Tidak malu sama anak? Vina lihat kamu mau bunuh diri itu." Kia reflek melihat ke arah belakang karena tentu saja Kia panik jika anaknya melihat kelakuannya. Dan sekarang Kia sudah dapat mengukur kebodohannya saat Marco berhasil merebut pistolnya.

"Sepertinya kamu memang mempunyai banyak masalah denganku. Pilihanku pergi memang lebih baik untuk memperbaiki otakmu, aku pergi. Jika aku kembali dan sikapmu masih seperti ini, kamu harus dibawa ke rumah sakit jiwa." Marco menyimpan kembali pistol tersebut ke dalam sakunya dan keluar dari ruangan rawat Kia.

"Malu banget!" Kia memukul kasur berulang kali, bagaimana bisa ia bisa percaya begitu saja saat dibodohi oleh Marco. Vina masih nyenyak dalam tidurnya. Sekarang biarlah Marco pergi dan Kia akan berusaha untuk mencari solusi untuk bisa lepas dari Marco saat pria itu tidak berada didekatnya.

"Pria setan!" Kia juga tahu diri, Marco tidak membiarkan ia mati karena pria itu mengharapkan anak yang sedang berada di perutnya.

Kia mengambil ponsel yang berada di atas meja dan langsung mengirimkan pesan pada Erhan.

Dark Love Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang