"Lalu jika benar kamu tidak selingkuh, mengapa kamu selama sebulan ini tidak mau disentuh olehku."
"Aku merasa bodoh jika melayanimu." Kia tentu merasa bodoh saat ia sudah tahu Marco adalah mautnya sendiri tapi ia malah menyerahkan tubuhnya dan bisa dipergunakan sesuka hati oleh Marco.
"Bodoh? Apa maksudmu?" Marco melepaskan kakinya dari tangan Kia yang membelitnya. "Sekarang layanilah aku dengan baik, kau cukup diam."
Tiba-tiba Kia merasakan peringatan keras dalam otaknya saat ini. Ia tahu jika keadaan marah seperti ini, Marco akan melakukan hubungan intim dengan kasar dan Kia tidak suka itu apalagi ia sedang berbadan dua.
Pria berusia tiga puluh tahun itu seakan tidak mempunyai iba sama sekali. Marco mengangkat Kia yang terduduk di bawahnya dengan sangat santai seakan ia adalah barang. Membawa Kia tepat ke atas kasur,
Marco ikut naik ke atas ranjang dan semakin menempelkan tubuhnya dengan tubuh Kia. Marco juga membuka kemeja yang dipakainya dari kancing atas hanya saja saat baru dua kancing yang terbuka, pria itu langsung melepaskan kemeja itu tanpa membuka kancing terlebih dahulu. Marco melepaskan kemejanya dengan cara menarik keras antara kancing baju dan penghubungnya hingga kancing baju copot dan berserakan.
"Kau tidak tahu berurusan dengan siapa."
Kia yang gelagapan mencoba berpikir mencari solusi, ia semakin berteriak kencang saat Marco malah menaiki tubuhnya, badannya ditindih.
"Aku hanya merasa bodoh karena aku sudah tahu bahwa kamu itu jahat setelah aku dikasih kesempatan hidup kedua." Kia tidak tahu kenapa ia bisa mengaku seperti ini, tapi sekarang Kia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana agar setidaknya Marco mengerti. Kia merasa serba salah saat ini. "Dan kita bisa bicarakan ini baik-baik, tadi aku hanya mengejar orang yang sepertinya pernah terlintas dalam pikiranku. Aku bersumpah sebelumnya bahkan kami tidak pernah bertemu." Kia mencoba mengusap bahu Marco agar lebih tenang, ia juga mengusap pipi Marco dengan pelan berharap pria itu bisa tenang.
"Kesempatan kedua apa maksudmu? Apa kau gila? Kenapa kau melarangku menyentuhmu? Karena bodoh? Bukankah selama ini kau berteriak nikmat di bawahku Kia?" Pertanyaan Marco terlalu beruntun, bahkan Kia sakit kepala hanya untuk bisa menjelaskan semuanya. Marco sendiri tidak bisa menekan dirinya sendiri untuk menahan rasa marahnya. "Apa karena kamu merasa bodoh saat membalas perbuatanku di ranjang? Aku sangat merasa puas saat selama ini kamu berada di atasku."
"Tidak, kamu salah paham!"
"Maka rasakan apa yang kamu anggap salah paham itu." Marco melepaskan ikat pinggang dengan gerakan cepat.
"Oke, aku kasih tapi jangan kasar," ujar Kia dengan cepat ia bahkan tidak bisa berbicara pelan-pelan sekarang. Kia tahu dia tidak bisa lari lagi sekarang, jika ia lari maka Marco akan semakin marah dan jika ia menahan Marco untuk tidak melakukan hal itu, Marco pasti akan semakin marah karena pikiran buruknya itu. Setidaknya pria itu tidak berbuat kasar padanya.
Entah sudah berapa kali Marco terus mengempurnya, ia rasa memang Marco tidak kasar pria itu terlalu lembut memperlakukannya hingga Kia terasa terlena dan juga ikut tidak ingat waktu hanya saja saat mereka sudah selesai melakukannya. Kia baru sadar jika tubuhnya terasa sangat lelah sekarang, ia memegang perutnya yang juga sedikit nyeri. Bahkan tubuhnya terasa sangat kaku saat ini, ia tidak bisa menggerakkan perutnya. Ie mengelus pelan perutnya yang sudah sedikit membuncit.
Kia ingat pada kehidupan sebelumnya ia jarang sakit perut sepertinya ini. Tapi saat ini ia terlalu sering merasakan sakit perut mungkin karena pada kehidupan ini ia terlalu banyak pikiran. Pikiran yang ia sendiri tidak tahu caranya untuk bisa ia tahan karena semua pemikiran menakutkan mengalir begitu saja. Ia sedikit terkejut karena terasa basah di bagian bawahnya, ia takut kehilangan Anzel, anak laki-lakinya.
Bayi laki-laki yang ia lahirkan susah payah di rumah sakit tanpa adanya Marco, karena pria itu tidak tahu di mana. Ia sangat ketakutan pada saat itu dan akhirnya ia dan anaknya selamat. Hanya saja sekarang tangan Kia juga ikut bergetar ketakutan saat memikirkan ia akan mengulangi rasa sakit yang sama untuk kedua kalinya saat melahirkan nanti.
Kia melihat ke arah Marco yang tertidur dengan tenang, Saat pelepasan terakhirnya, pria itu memang langsung tertidur. Kia memegang bahu Marco pelan. "Bangun." Tapi Marco tidak kunjung membuka matanya, mungkin karena Kia kurang kuat membangunkan Marco. Hanya saja Kia juga tidak sanggup berteriak untuk sekarang. Mata yang lelah membuat Kia memilih menutup mata juga.
Tiga puluh menit baru tertidur, seperti ada yang memaksanya untuk bangun. Marco bisa langsung terbangun. Padahal sudah dua hari Marco tidak bisa tidur, rencana ia nanti malam saja melanjutkan tidurnya. Akan ada hal yang harus ia lakukan sore ini. Marco melihat ke samping di mana Kia masih tertidur. Sebelum itu Marco membuka ponselnya dan ternyata ada pesan dari Mina yang berisi tentang Vina yang ingin menemui Kia.
"Kia, bangun, Vina menunggumu." Marco melirik sekilas ke arah Kia yang terlihat terlalu terlelap. Ia mencoba menggoyangkan bahu Kia pelan, dan tidak biasanya Kia susah dibangunkan.
Marco curiga apalagi dengan bibir Kia yang terlihat pucat biasanya bibir itu akan merah alami. Ia menepuk pelan pipi Kia. "Bangun!" Ia rasa ada yang tidak beres, Marco menghempaskan selimut dari tubuh Kia dan ia baru sadar ada noda merah di celana istrinya.
Marco tidak peduli dengan kondisinya yang sangat berantakan, mengambil kaos di lemari dengan cara memilih asal dan mengangkat tubuh Kia untuk segera ia bawa ke rumah sakit.
***
Jack dan Erhan, saat ini duduk dengan santai di ruangan bawah tanah yang berada tepat di bawah perusahaan cabang milik Marco. Mereka berdua menatap jengah ke arah Givano yang terlihat menatap foto Kia dengan cara yang berbeda, tatapan yang cukup membuat orang jijik. Didalam ruangan ini tepatnya mereka berada diruangan khusus milik Givano, disetiap tempat ada gambar Kia yang tertempel.
"Aku cukup kasian dengan Kia," ujar Erhan pelan, ia sendiri memang orang yang paling memiliki rasa kasihan disini. Sejak kecil ia terbiasa diajarkan taat agama, hanya saja ia semakin tersesat saat ia mulai terpengaruh oleh lingkungannya. Tentu saja tidak secara langsung Erhan bisa masuk ketempat sesat ini secara mudah atau tidak ia pikirkan dulu.
Pada masa mereka menurut ilmu di perguruan tinggi, Erhan melihat Marco yang terlihat mencurigakan apalagi ia melihat pria itu seperti membawa senjata. Selama ini Erhan cukup curiga dengan Marco yang semakin hari semakin aneh, dari sifat bahkan tingkah lakunya.
Erhan yang penasaran dengan bodohnya malah mengikuti Marco menggunakan sepeda motor yang ia miliki, ternyata di Marco malah menuju semua bukit. Dan ia melihat sendiri bagaimana Marco menembak orang di sana. Dan sialnya, pada saat itu Marco melihat motornya yang terpakir dan Marco yang sudah sangat marah memanggil suruhannya untuk menculik dirinya, disitulah Erhan memohon untuk tidak dibunuh dan akan patuh dengan perintah Marco.
***
Target sebelumnya tercapai ya Yeayyyy
Target : 1.390 Vote + 200 komen + 30 Followers baru hehe 😊
Buat yang ga sabar menunggu bab selanjutnya wa ke nomor ini 0838‑6394‑7842
Bab 17 sampai bab 19 cuman 5k
Bab 17 sampai bab 24 cumn 15k
Mau request bab bisa ya, misal sebelumnya udah beli sampai bab 20 bisa lanjut ke bab 21
Spam next di sini ~
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark Love
RomanceSebuah pernikahan yang menyiksa bagi Kia, ia harus menikahi pria paling mengerikan yang pernah ia jumpai. Marco benar-benar pria yang tidak ada belas kasihan, dia bisa membunuh istrinya sendiri demi keinginannya sendiri, hal yang paling menyakitkan...
