"Aku tidak menyangka akan semudah ini." Givano mengeluarkan senyuman miring di ujung bibirnya, pria itu menarik tangan Kia agar memasuki kamar.
Kia mengeleng ketakutan, ia sangat ketakutan dengan Givano yang terlihat seperti iblis. Dan berusaha menarik tangannya agar terlepas dari Givano. Tapi tenaga Givano yang memang lebih kuat darinya, membuat Kia sampai terjatuh karena hendak melepaskan diri. Saat Kia terjatuh, pria itu tidak peduli dan tetap menyeretnya.
"Lepasin!" Kia berteriak dengan kencang berharap ada yang mendengarkannya.
"Berharap ada yang tolong?" tanya Givano dengan suara mengejeknya, jam segini sudah tidak ramai orang lagi dan tadi Givano melihat sendiri jika Marco keluar dari rumah. Orang di rumah ini juga tahu siapa Givano, dan pastinya mereka tidak akan peduli.
Givano bisa masuk ke rumah ini juga dengan cara diam-diam, tentu saja banyak cara yang bisa Givano lakukan agar bisa masuk ke rumah Marco. Setelah berhasil masuk ke dalam kamar dengan Kia, Givano langsung menutup pintu.
Kia sangat sadar jika saat ini adalah kondisi yang sangat membahayakan. Kia sendiri berusaha mencari jalan keluar, walaupun terasa sangat buntu. Apa ini jebakan? Apa ini juga rencana Marco, apa pria itu yang menyuruh Givano ke sini? Semua pertanyaan yang tidak ada jawabannya membuat Kia pusing.
Tubuh Kia dihempaskan dengan kasar ke atas keramik yang dingin. Kia mengusap kedua tangannya yang memerah dan ia juga sedikit merasa sakit dibagian tengah tangannya. Kekuatan Givano membuat Kia kesakitan, Kia menatap Givano yang menatapnya dengan pandangan datar.
"Lihat ini." Givano menunjukkan bekas luka di belakang kepalanya. "Ini semua ulah suamimu, dia membatalkan janjinya dan malah menyerangku. Dan aku tahu itu semua karena kau yang menyuruhnya."
"Setelah semua ini rasa benciku semakin bertambah dan sangat ingin membunuhmu," lanjut Givano.
"Aku ingin mencicipimu terlebih dahulu, tapi karena kita di rumah Marco, malah nanti terlambat membunuhmu."
Kia mengulum bibirnya ketakutan, ia mengambil sesuatu dari meja, ia melempar sebuah ornamen besi ke arah Givano. Dan pria itu dengan mudah bisa menghindar. "Mau seperti suamimu yang suka melempar barang?"
Kia terlihat gelagapan saat semua semakin jelas jika Kia tidak akan bisa menang melawan Givano.
"Melihatmu bisa bebas dari Marco membuatku tidak terima. Aku ingin kamu menderita, aku tidak mau melihat kalian yang bisa saja jadi keluarga bahagia. Mengingat Marco bisa-bisanya membatalkan janjinya."
"Apa salahku?" tanya Kia dengan serius. "Jika hanya sekedar penolakan cinta, aku bahkan menolak kamu secara halus! Dan lagi, aku bersumpah tidak hidup bahagia dengannya. Aku bisa dibebaskan juga karena aku tahu dimana Sandra berada."
Givano diam saja terlihat tidak terpengaruh sama sekali dengan penjelasan Kia.
"Jelas aku tidak berbuat kesalahan yang besar Givano! Salah ku tidak sebesar itu hingga kamu bisa berniat untuk membunuh dan membuatku menderita."
"Perbuatanmu sangat salah, apa kau ingat saat kau diam saja saat aku dibully hanya karena menyukai wanita primadona di kampus."
Givano masih ingat saat Kia hanya berdiri diam, tanpa sedikit pun mengeluarkan pembelaan untuknya. Saat ia dicaci maki dan dilempar kertas, bahkan setelahnya ia ditendang oleh beberapa pria di sana. Tapi Kia hanya diam dan hanya menatapnya.
Hanya karena Givano menyatakan cinta pada Kia, semua orang sangat marah dengan alasan seharusnya Givano punya malu dan seharusnya tidak pernah merasa pantas bersama dengan Kia.
"Aku juga tidak tahu harus gimana Givano! Aku juga tidak menyuruh mereka untuk melakukan itu semua."
"Lihat jawabanmu semakin membuatku yakin bahwa kamu pantas mati seperti yang lainnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark Love
Storie d'amoreSebuah pernikahan yang menyiksa bagi Kia, ia harus menikahi pria paling mengerikan yang pernah ia jumpai. Marco benar-benar pria yang tidak ada belas kasihan, dia bisa membunuh istrinya sendiri demi keinginannya sendiri, hal yang paling menyakitkan...
