Melihat tubuh yang tidak bergerak, membuat Marco kebingungan. Apa wanita itu tidak bisa berenang? Marco mengusap rambutnya pelan sambil berpikir, tapi jika kelamaan berpikir wanita yang berada di dalam air itu bisa meninggal. Marco kebingungan, setaunya Kia bisa berenang. Marco langsung memikirkan jika kaki Kia kram.
Tidak ingin menunggu lama lagi, Marco langsung ikut masuk kedalam kolam. Setiba sudah dekat dengan tubuh Kia, ia langsung memegang pinggang Kia dan menarik tubuh Kia agar setengah tubuhnya tidak berada di dalam air. Marco memegang tubuh Kia dengan erat, ia menyingkirkan rambut panjang Kia dari wajahnya. Mata wanita itu tertutup dan terlihat lemas tidak ada tenaga.
"Kau sudah membuatku basah seperti ini, buka matamu!" ucap Marco sambil menepuk pipi Kia dan wanita itu hanya diam berusaha memperkuat aktingnya walaupun sekarang Kia bersyukur bisa bernafas dengan lega, karena dari tadi Kia sangat sulit bernafas dalam air.
Marco membawa tubuh Kia untuk sampai ke ujung kolam dan menidurkan tubuh Kia ke atas keramik atas kolam. Setelahnya Marco ikut naik kepermukaan. Awalnya tempat ini hanya sedikit orang, tapi tiba-tiba jadi ramai. Tidak lama juga ada petugas penjagaan yang tiba-tiba hadir. Pria itu juga terkejut melihat Marco yang menolong wanita ini.
Dapat Marco dengan banyak sekali suara seperti bisikan yang membicarakan keduanya. Mereka pastinya heran melihat Marco yang mau basah hanya untuk menolong wanita. Tentu tidak semua tahu jika mereka sepasang suami istri.
"Apa dia baik-baik saja Pak? Biar saya bantu." Pria itu hendak memegang tubuh Kia, dan bersiap untuk menekan area atas dada Kia. Marco yang melihat itu langsung mendorong tubuh pria itu dengan kekuatan penuh hingga pria itu terkapar.
"Jangan menyentuhnya!"
Marco langsung memberikan penolongan pertama. Ia berusaha menekan atas dada Kia berulang kali karena tidak ada hasil, Marco langsung memberikan nafas buatan.
Kia yang sejak tadi sedang bersandiwara berusaha untuk tetap tenang dan tidak mengeluarkan suara. Walaupun usaha Marco membangunkannya sangat membuatnya tidak nyaman. Dadanya juga ditekan, membuat Kia ingin berteriak berhenti.
Dan untungnya tidak lama setelah itu, Marco langsung mengangkat tubuh Kia. Dalam hati Kia bernafas lega, pasti sekarang Kia akan dibawa pulang ke rumah Marco. Ini rencana Kia agar Marco membawanya masuk ke dalam rumah pria itu, setidaknya disana Kia bisa melihat kedua anaknya. Karena Kia sudah sangat rindu dengan keduanya.
Marco membawa Kia lewat pintu belakang agar tidak menarik perhatian lebih banyak orang lagi. Marco membawa masuk tubuh Kia masuk ke dalam mobil dengan supir yang sudah siap untuk mengemudi.
Kia yang berada di atas pangkuan Marco sangat risih dengan Marco yang terus menepuk pipinya dan juga terasa Marco meletakkan tangannya di dada Kia seperti ingin mendengar detak jantungnya.
"Apa dia mati?" gumam Marco kebingungan, ia tidak terlalu paham, tapi melihat perut Kia yang bergerak pertanda jika dia hidup. Tapi saat Marco meletakkan tangannya ke atas perut Kia, perutnya seperti berhenti bernafas. Kia sengaja menahan perutnya agar tidak bergerak.
Marco mengusap pipi Kia berulang kali. "Apa kamu mendengar suaraku?" Marco menepuk pipi Kia lebih keras. "Cepat kau bawa mobilnya, kita harus segera ke rumah sakit," lanjut Marco dengan suara yang keras.
Kia langsung panik, tujuannya bukan ke rumah sakit tapi dibawa pulang ke rumah Marco agar bisa berjumpa dengan anak-anaknya. Kia pura-pura batuk hebat bahkan menekan dadanya untuk memperkuat aktingnya. "Jangan ke rumah sakit, bawa aku pulang!"
Marco langsung menatap Kia saat mendengar suara wanita itu. "Tidak bisa, sepertinya banyak air yang berada di tubuhmu," jawab Marco.
"Bawa dokter ke rumah saja, aku tidak mau ke rumah sakit." Kia kembali merucap pelan, ia membuka mata dengan cara mengintip.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark Love
RomanceSebuah pernikahan yang menyiksa bagi Kia, ia harus menikahi pria paling mengerikan yang pernah ia jumpai. Marco benar-benar pria yang tidak ada belas kasihan, dia bisa membunuh istrinya sendiri demi keinginannya sendiri, hal yang paling menyakitkan...
