Mendadak suasana menjadi sunyi, Kia dan Mina saling bertatapan dengan tatapan penuh arti. Sedangkan anak Marco itu terlihat sangat polos, tidak merasa bersalah sama sekali. Berbeda dengan Kia yang mati-matian mengatur pernapasannya agar teratur dan tidak ketawa. Entah kenapa Kia malah ingin tertawa saat menatap wajah Marco yang terlihat menampilkan ekspresi terkejut.
"Siapa yang mengajarimu berbicara seperti itu Vina?" tanya Marco yang sekarang malah bertanya dengan nada kentara datar.
Kia otomatis jadi langsung panik dan tidak berniat ketawa lagi. Langsung saja Kia berpikir dengan keras jawaban apa yang bisa ia berikan.
"Papa malah?" tanya Vina dengan mulutnya yang sudah cemberut, siap menangis. Vina juga memukul kaki Marco berulang kali, padahal Vina ingin digendong tapi malah dibiarkan berdiri di bawah kaki Papanya.
"Tidak." Marco memilih menggendong Vina agar tidak menangis karena biasanya Vina memang akan menangis jika sudah cemberut dan jika sudah menangis akan susah didiamkan.
"Papa brengsek." Lagi dan lagi Vina berucap seperti itu sambil mengecup pipi Marco pelan sambil tersenyum lebar. Ia senang bisa digendong Papanya, walaupun Marco jarang mengajaknya bermain. Tapi Vina sangat suka berada di dekat Marco, tangan mungilnya meraba hidung mancung Marco. Matanya tidak pernah lepas menatap Marco.
"Maksud Vina brengsek itu ganteng," sambung Kia cepat takut Marco malah memarahi Vina nantinya.
Marco menatap curiga ke arah Kia, ia sudah langsung menebak apa yang terjadi. "Jaga mulutmu!" Marco berusaha sabar karena ia di sini tidak sendirian, bisa-bisanya Kia mengeluarkan umpatan seperti itu. "Vina jangan pernah mengucapkan kata-kata itu lagi."
Anak balita itu hanya mengedipkan matanya berulang kali dan menatap Papanya dengan tatapan bingung. "Apa kamu dengar apa yang Papa bilang?" tanya Marco lagi saat Vina hanya diam saja, Kia sendiri berdoa dalam hati agar Marco tidak terus memarahi Vina.
"Iya Papa," jawab Vina pelan, padahal tidak mengerti apa maksud Marco. Tapi Vina mengangguk saja, setelahnya Vina kembali memeluk Papanya, ia menenggelamkam wajahnya dilekukan leher Marco.
Pelukan yang diberikan oleh Vina membuat Marco tidak jadi memberikan anaknya pada pengasuhnya. Tidak lama Vina malah tertidur dan Marco menidurkan anaknya di atas tempat yang aman. Karena ruangan ini sudah sangat lengkap fasilitasnya. Mina yang sadar diri bahwa anak asuhannya sudah tidur, memilih untuk keluar sekalian mencari makan. Sehingga suasana mendadak jadi hening.
"Ngapain kesini?" tanya Kia dengan nada ketus, ia bahkan memutar bola matanya saat melihat Marco yang terlihat santai duduk di sofa dengan pakaian formalnya.
"Ngusir?" tanya Marco sambil terkekeh pelan melihat Kia yang sudah berani melawan yang artinya sudah lebih membaik kondisinya. Marco sendiri tidak tahu alasan ia ke sini. Hanya saja Marco mengikuti keinginan yang berada di kepalanya.
"Jelas, aku nggak mau lihat cowok nggak bertanggung jawab."
"Tidak bertanggung jawab? Aku bahkan memesan kamar paling mewah di rumah sakit ini dan yang merawatmu juga dokter pilihan," jawab Marco.
"Kamu kira dengan itu aja bisa dianggap tanggung jawab? Kamu nidurin aku nggak tahu waktu sampai aku sakit begini, seharusnya otakmu itu dipakai aku lagi hamil." Kia mengeluarkan semua rasa kesalnya, siapa yang tidak kesal saat sudah kondisinya begini, Marco malah meninggalkannya. Kia tahu Marco itu manusia bersifat binatang hanya saja entah kenapa hatinya ini sangat sakit saat Marco seakan tidak peduli padanya.
"Salah aku? Kamu bilang cuman jangan kasar dan aku memang tidak kasar kan. Mungkin ini terjadi karena durasi terlalu lama, dan masalah itu? Kamu bahkan mendesah di bawahku, mana aku tahu kamu bisa sakit seperti ini dan kamu tidak bilang untuk membatasi waktu."
Kia diam beberapa saat, tiba-tiba kejadian itu kembali berputar di kepalanya. Dan ia menutup mata pelan berusaha menghilangkan ingatan yang terjadi pada malam itu. Sungguh kenapa dia sangat binal, ia bisa menahan diri selama ini. Tapi saat proses itu berlangsung batinnya terus berteriak tidak ingin berhenti.
"Diam? Makanya nggak usah jual mahal."
"Tidak usah dibahas, katanya mau pergi selama dua bulan. Kenapa malah ke sini, lebih baik kamu pergi sekarang," sambung Kia lagi.
"Apa otak kecilmu itu tidak bisa berpikir? Aku itu butuh waktu untuk bisa bepergian lama apalagi perusahaanku bukan cuman satu."
"Iya banyak ada perusahaan bun." Kia langsung berhenti bicara saat ia ingin mengatakan 'perusahaan bunuh orang'
"Apa?"
"Tidak ada, lagi pula tidak salah aku bertanya karena dari caramu bicara saat itu memang seperti akan pergi." Kia berusaha tenang. "Iya sudah jika begitu aku mau tidur, lagi pula seperti yang kamu bilang tadi sudah bertanggung jawab kan," sambung Kia lagi.
"Selain membayar tagihan rumah sakit, tanggung jawab seperti apa lagi yang kamu inginkan?" tanya Marco pada Kia yang malah hendak menutup matanya.
"Potong ini apel." Kia menunjuk apel yang berada di atas meja.
"Suruh orang saja." Marco menatap heran dengan Kia yang menyuruh hal remeh seperti itu.
"Yaudah keluar dari ruangan ini!" Kia rasa kepalanya bisa pecah saat ini juga jika terus meladeni sifat biadab Marco.
"Oke." Marco berjalan mendekati Kia ia mengambil apel itu meletakkan di tengah telapak tangannya dan menekannya menggunakan pisau. Tapi setelahnya Marco malah membuang apel itu.
"Kenapa?"
"Kena darah." Marco mengambil tisu dan mengelap darah yang menetes dari tangannya.
"Kena pisau?" tanya Kia yang cukup heran karena ia tidak mendengar Marco merintih kesakitan saat terkena pisau.
"Aku tidak bisa melakukannya," lanjut Marco lagi yang bingung menghentikan darah ini menggunakan apa.
"Sini tanganmu!" Kia memegang bagian lengan Marco dan menarik pelan agar lebih mendekat ke arahnya. Ia mengambil kain kecil yang masih bersih, kain yang sebenarnya untuk mengelap tangan. Ia memutari kain itu pada telapak tangan Marco secara memutar.
"Sekarang bawa ke dokter aja," ujar Kia setelah membalut tangan Marco.
Marco yang melamun sambil menatap wajah Kia langsung tersadar dan menggeleng pelan. Untuk apa luka remeh seperti ini dibawa ke dokter.
"Aku ingin menciummu sekarang!"
Benar-benar kalimat perintah karena Marco tidak memberikan izin pada Kia untuk menjawab. Bibirnya memang langsung dicium oleh pria bertubuh tegap itu. Kia sendiri bingung hendak membalas apa menahan diri, karena sungguh Marco adalah godaan setan yang sangat dahsyat. Kia memilih menahan diri dan membuat Marco yang lebih dominan. Saat Marco menurunkan tubuhnya dengan reflek Kia memegang punggung Marco.
Lalu tangannya yang berada di punggung Marco langsung merasa ada sebuah benda yang menonjol di saku Marco. Ternyata benda itu adalah senjata api yang ukurannya sedang. Kia mengambil pistol tersebut dengan pelan, ia bisa meraba ini memang benda tembakan. Marco mungkin terlalu fokus saat menciumnya hingga tidak sadar bahwa pistolnya Kia ambil.
Apa Kia arahkan saja pistol ini ke kepala Marco, tapi ia takut masuk penjara dan apalagi ia takut jadi seorang pembunuh. Saat pistol itu di tangannya dan hendak mengarahkannya ke punggung Marco, tiba-tiba tangan Marco mencapai tangan Kia melalui punggungnya. Tapi Kia langsung bisa menghindari tangan Marco, hingga Marco tidak berhasil merebut pistol tersebut.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Marco setelah melepaskan tautan bibir mereka. Ia menatap heran ke arah Kia yang malah mencuri barangnya.
"Mau mati?" tanya Kia sambil mengarahkan pistol itu ke arah Marco dan pria itu mengangkat kedua tangannya. "Tapi aku tidak berani bunuh orang," lanjut Kia sambil menghela nafasnya pelan. Tangan Kia malah membalikkan arah pistol tersebut ke kepalanya sendiri. Sekali tembak sudah tentu ia akan menghilang dari dunia ini.
***
Ayok tebak umur penulis 😭
Target : 1.085 Vote + 200 Komen + 5 followers 😊
Buat yang ga sabar menunggu bab selanjutnya wa ke nomor ini 0838‑6394‑7842
(Bab 20 sampai bab 28 cuman 15k)
(Bab 20 sampai bab 31 cuman 20k)
Mau request bab bisa juga ya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark Love
RomanceSebuah pernikahan yang menyiksa bagi Kia, ia harus menikahi pria paling mengerikan yang pernah ia jumpai. Marco benar-benar pria yang tidak ada belas kasihan, dia bisa membunuh istrinya sendiri demi keinginannya sendiri, hal yang paling menyakitkan...
