Beberapa orang di sekitar Kia dan Marco juga cukup terkejut, apalagi dengan beberapa penjaga rumah. Mereka seperti merasakan ada udara mencekam di sekitar rumah yang menyeramkan. Bahkan ada Satpam yang hendak menghampiri. Tapi penjaga khusus itu menghentikan, akan sangat bahaya jika mereka sampai ikut campur karena nyawa mereka bisa ikut hilang.
Di sisi lain, Kia menatap wajah Marco yang terlihat terlalu tegang, dengan rahang tegasnya yang terlihat kaku. "Tembak aku sekarang! Dan dengar kata-kata dari mulutku sebelum aku mati!
Kia menarik napas pelan dengan suara yang keras ia berteriak. "Aku menyesal mencintaimu."
Semua hanya kesunyian, Marco tidak kunjung menembaknya hal itu membuat Kia sungguh kesal. "Apa yang membuatmu ragu? Sekarang tembak aku!"
Marco menarik pelatuk di pistol itu dan mempersiapkan agar lebih dekat dengan kepala Kia, ia bersiap untuk menekannya. Kia memejamkan matanya dengan erat.
Dor.
Suara tembakan terdengar cukup nyaring, beberapa orang disekeliling mereka ikut menutup mata karena terkejut. Bahkan mereka semua tidak bisa menahan diri untuk melihat apa yang terjadi.
Apa benar, Kia istri tuan mereka benar-benar mati. Ternyata arah peluru itu tidak mengenai kepala Kia tapi hanya mengenai rambut wanita itu.
Marco sendiri tiba-tiba menjatuhkan dirinya di atas rumput dengan wajah menunduk ke bawah. Marco bahkan mau duduk di atas rumput yang kotor hanya karena Kia membuatnya sejatuh ini. "Pergi," teriak Marco cukup keras yang ditunjukkan untuk Kia agar bisa pergi dari hadapannya.
Sungguh jika biasanya Marco akan gampang untuk bisa menembak satu peluru bahkan puluhan peluru, tapi dengan wanita ini Marco sangat susah hanya untuk menembakan satu peluru saja. Apa yang membuatnya bisa setertekan ini, satu air mata Marco juga jatuh dari matanya. Ia menunduk hingga tidak akan ada yang dapat melihat air mata yang tidak pernah ia keluarkan setelah dua puluh tahun lamanya.
Kia yang masih terkejut dengan apa yang terjadi masih membeku untuk beberapa saat, hingga tangannya dipegang oleh seseorang. Ternyata adalah Mina, pengasuh Vina itu memegang tangan Kia agar bisa membantunya untuk masuk ke dalam rumah. Sedari tadi Mina ingin berteriak dan membantu Kia, tapi apa daya semua orang di rumah ini tidak mempunyai keberanian. Hingga saat Marco berteriak menyuruh Kia pergi, disaat itulah Mina langsung berlari menuju Kia untuk membantunya masuk ke dalam rumah.
Tidak lama lima pekerja di rumah ini turut membantu agar Kia beranjak bangun dari kursi. Ternyata semua orang di rumah ini ikut melihat apa yang terjadi. Sebelum benar-benar pergi, Kia melihat Marco yang masih terduduk di atas rumput dengan pandangan yang masih di bawah.
***
"Mbak lebih baik istirahat dulu," ucap Mina menahan tangis, ia tidak mengerti ada masalah apa. Hanya saja Mina cukup terkejut saat melihat tuannya hendak menembak Kia. Sedari dulu Mina sangat suka bekerja di rumah ini karena Kia yang cukup baik padanya.
Kia yang dituntun dan dibantu untuk duduk di atas kasur yang berada di kamar tamu hanya bisa mengangguk pelan dan berucap terima kasih dengan nada lirih.
Setelahnya Mina dan Sarah juga membantu Kia merebahkan diri, setelahnya mereka saling menatap bingung hendak melakukan apa lagi. "Jika ada yang Nyonya inginkan, langsung saja memanggil kami," ucap Sarah pelan, setelah ini pun mereka juga bingung harus keluar apa menemani.
Lagi pula mereka hanya pembantu, tidak mungkin telalu berani mengambil sikap. Hanya saja meninggalkan Kia sendirian juga bukan hal yang bisa mereka putuskan, karena melihat apa yang tadi terjadi sungguh membuat mereka ikut prihatin dan ingin menemani Kia.
"Kalian bisa keluar."
Perintah Kia membuat Sarah, Mina dan beberapa pekerja yang berdiri di dekat pintu langsung keluar semua. Setelah mereka semua keluar, tanpa sadar air mata Kia menetes, dengan cepat Kia langsung menghapus air matanya sebelum ia menangis berlebihan.
"Kisah yang menyedihkan," ucap Kia dengan suara pelan.
***
Disisi lain, setelah dua puluh menit Marco duduk di rumput. Marco langsung berdiri dari duduknya, ia mengusap rambutnya ke belakang yang terasa panas karena matahari yang menyengat. Marco menatap ke atas, tepat di mana kamarnya dan Kia. Sebelum ini, Marco harus bisa menemui orang yang bisa menjadi tersangka utama kenapa semua ini terbongkar.
Marco berjalan menuju garasi mobil dan menaiki satu mobil. Tidak lupa Marco juga mengeluarkan beberapa senjata yang ia letakkan pada mobil ini. Setelahnya ia langsung memberangkatkan diri ke kantor, tepat di mana pria itu berada.
Setiba di depan kantor banyak pasang mata yang diam-diam menatap ke arahnya. Awalnya Marco ingin membawa senjatanya ke dalam, tetapi Marco baru sadar hanya memakai kaos polos dan celana selutut dan Marco tidak tahu di mana nantinya pistol itu ia sembunyikan. Akan sangat heboh jika sampai orang melihat Marco membawa senjata api.
Beberapa wanita menatap ke arahnya dengan tatapan berbinar, mereka semua yang bekerja baru pertama kali melihat pimpinan mereka terlihat tidak memakai baju formal. Dan ada beberapa diantara mereka bahkan mengeluarkan ponselnya untuk memotret secara diam-diam.
Marco tidak memperdulikan orang yang mencuri pandang dan menyapanya. Yang ada di otaknya sekarang hanya satu orang, saat ini Marco sudah berada di depan ruangan Givano, tanpa mengetuk Marco langsung membuka pintu dan masuk. Marco tidak peduli jika ada orang yang menahannya. Dan nyatanya semua orang tidak ada yang berani memberhentikan Marco.
"Ada apa?" tanya Givano yang cukup terkejut melihat keberadaan Marco dengan pakaiannya yang tidak biasa.
"Kau membongkar rencana busukmu itu pada Kia?" Marco sendiri sebenarnya tidak yakin jika Givano yang membongkar. Karena sejak awal Givano yang merencanakan semua ini. Tapi faktanya semua tentang rencana ini hanya mereka berdua yang tahu.
"Apa kau gila? Ini rencanaku, jika pun aku membongkar hal ini semua tidak akan menyenangkan lagi. Bukannya Kia juga tidak tahu bahwa Givano yang dulu sama dengan Givano yang sekarang?" jelas Givano dengan cepat. Rencana yang ia tunggu-tunggu, mana mungkin dia jelaskan pada orang yang yang menjadi terget mereka.
"Apa Kia sudah tahu semuanya?" tanya Givano lagi saat Marco hanya diam dan terus menatapnya dengan tatapan sangat dalami. Marco terlihat agak sedikit mencurigakan, yang membuat Givano ikut hati-hati.
"Dia sudah mengetahui semuanya," jawab Marco.
"Lalu? Apa yang salah? Dia memberontak?" tebak Givano saat Marco terlihat tidak tenang dan mempunyai masalah.
"Iya, dia berubah dan berusaha melarikan diri." Tidak ada lagi yang membuat Marco bingung, ia sudah mengetahui penyebab Kia aneh selama ini.
Givano mengangguk mengerti, jadi ini lah yang membuat Marco terlihat sangat berantakan. Lihat pria yang dari dulu selalu menunjang penampilannya datang ke kantor hanya dengan kaos dan celana yang sederhana walaupun harganya tidak sederhana. Dan yang membuat Givano tidak habis pikir adalah celana Marco yang berwarna coklat muda juga sedikit kotor.
"Yasudah kita laksanakan saja rencana kita pada malam ini," ucap Givano yang mencoba memberikan jalan keluar.
"Maksudmu?" tanya Marco, ia sedikit terkejut dengan jawaban Givano
"Masalah anak laki-laki? Kamu bisa mendapatkannya dari wanita lain, aku akan mencari wanita yang setidaknya bisa secantik Kia. Biarkan dia kita eksekusi malam ini, sebelum dia semakin memberontak dan melarikan diri. Aku sudah banyak menunggu hal ini dan tentu semua rencana siksaan sudah aku pikir dengan matang."
Seperti ada ribuan paku menancap di kepala Marco saat ini, tidak tahu alasan pasti tapi Marco benar-benar kepanasan mendengar perkataan Givano.
"Kita siksa dia pada malam hari ini, kita paksa dia mengeluarkan anaknya sendirian hingga dia mati dengan anaknya."
***
Satu kata untuk Givano?
Kalian tebak gimanakahhh marco setelah iniiii
Cepatt bangett tercapai target ❤️❤️❤️kaget buka wattpad ❤️❤️❤️
Target : 1. 910 Vote + 300 Komen + 5 followers 😊
Buat yang ga sabar menunggu bab selanjutnya wa ke nomor ini 0838‑6394‑7842
Bab 28 sampai bab 36 cuman 15k
Bab 28 sampai bab 38 cuman 20k
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark Love
Storie d'amoreSebuah pernikahan yang menyiksa bagi Kia, ia harus menikahi pria paling mengerikan yang pernah ia jumpai. Marco benar-benar pria yang tidak ada belas kasihan, dia bisa membunuh istrinya sendiri demi keinginannya sendiri, hal yang paling menyakitkan...
