"Lalu bagaimana dengan riasan mukaku? Apa memalukan?" sambung Kia lagi, alasan ia bertanya juga karena tidak ingin di sana mempermalukan dirinya sendiri. Walaupun sebenarnya Kia memang mahir merias mukanya sendiri, tapi setelah menikah agak sedikit kaku karena setelah menikah ia lebih sering didandani oleh orang lain.
"Apa Manda mengubah gayamu?" Biasanya Kia akan makeup tebal dengan warna yang penuh diwajahnya hanya saja sekarang lebih terlihat soft dan hal itu membuat wajahnya terlihat lebih fresh dan kalem.
"Apa lebih buruk?" tanya Kia lagi tidak ingin mengaku bahwa Manda tidak ikut campur kali ini.
"Sama saja." Marco tidak mau mengaku bahwa tampilan sekarang lebih menarik.
Tidak lama anak kecil masuk ke dalam ruangan ini juga dengan setangkai permen genggam yang besar ada ditangannya.
"Vina, dari siapa permen sebesar itu?" tanya Kia yang ikut berjongkok untuk menyamai ukuran tinggi Vina.
"Dari orang di depan pagar tadi luar Ma."
Marco langsung menarik permen itu dan membuangnya dalam tempat sampah. "Siapa yang mengawasi Vina? Jangan pernah menerima makanan dari orang tidak dikenal."
Vina yang terkejut dengan gerakan Marco yang terlalu cepat merebut permennya membuat Vina langsung menangis. Kia ikut kelimpungan, ia mencoba menenangkan anaknya tapi Vina terus menangis. "Nanti kita beli lain yang baru."
"Kamu sebagai ibunya juga harus lebih perhatian!" Setelah mengucapkan kata-kata itu, Marco mengangkat Vina ke dalam gendongannya dan membawanya ke luar. Kia yang ditinggal sendiri sudah akan jelas mengetahui bahwa Marco akan memarahi orang yang tidak bisa dengan benar menjaga anaknya.
Kia hanya bisa terdiam beberapa saat dan memikirkan ucapan Marco kembali, di kehidupan ini ia akan berusaha untuk menjadi orangtua yang baik bagi anaknya. Ia berjalan menuju sofa dan duduk disana sambil menunggu Marco. Ia membuka layar ponselnya tepatnya ke media sosial yang sudah lama tidak dibuka. Kia juga melihat pesan yang masuk, hingga nama Erhan muncul.
'Hai'
'Kenapa tidak membalas pesanku? Kamu pergikan ke acara hari ini? Bisa kita bicara di sana?'
Kia sedikit kebingungan dengan siapa yang mengirimkannya pesan hingga ia membuka profil Erhan ini dan ia tahu pria ini pernah beberapa kali datang ke rumah.
"Ayo pergi!" Kia mengalihkan pandangannya ke arah Marco yang masuk dengan pakaian yang sudah rapi dengan jas nya.
"Vina gimana?"
"Sudah tidur," jawab Marco pelan.
Selama perjalanan menuju tempat acara, keduanya tidak banyak bicara terkesan diam. Kia sendiri tidak berniat bicara, ia hanya berpikir harus gimana nanti di sana. Apa dia tidak usah melarikan diri biar ikut terkena bom, Kia menggelengkan kepalanya pelan.
"Kenapa?" tanya Marco saat melihat Kia yang tidak nyaman dengan duduknya.
"Tidak ada," jawab Kia pelan.
Tibalah mereka di tempat yang sangat ramai, semua tempat tertata dengan berkelas. Gedung menjulang tinggi terkesan sangat mewah. Ada juga wartawan yang dihadang oleh beberapa orang bertubuh tegap. Saat Kia dan Marco turun cahaya kamera langsung mengenai mereka. Kia tetap berjalan dengan tatapan ke depan sesekali tersenyum tipis, Marco menarik tangannya agar mengalungkan ke lengannya. Kia menurut karena tahu Marco sedang membangun citra yang bagus.
Sesampai di dalam ada orang yang mengarahkan mereka untuk berjalan lebih masuk dan keluar dari area gedung menuju area belakang. Kia sudah tahu arahnya mau ke mana, mereka akan menuju ruangan luar tepatnya di taman belakang. Akhirnya mereka sampai ditempat para undangan yang juga sudah mulai hadir.
Kia melihat ke arah kiri, di mana di sana akan ada ledakkan tepat di mana pemilik acara akan duduk, yang bernama Hendra lalu juga ada beberapa orang lain yang tidak Kia kenal. Seingat Kia, pria bernama Hendra itu langsung meninggal ditempat. Ia mendongak melihat Marco yang terlihat tersenyum pada beberapa bapak-bapak yang Kia tidak kenal.
Tentu saja, Kia semakin yakin ini rencana Marco apalagi saat pria itu menyuruhnya tidak mendekat ke arah Hendra nantinya bersama wanita yang bernama Jane.
Marco mengira mereka berdua dekat karena pernah sekampus, padahal selama ini Jane dan Kia hanya sebatas teman biasa. Tidak lama Jane datang dan menyapa mereka.
"Halo Kia, sudah lama kita tidak bertemu."
"Iya bagaimana kabarmu?" tanya Kia pelan.
"Baik." Setelah menjawab pertanyaannya, Jane berjalan menuju Marco dan mencium sekali pipi Marco yang membuat Kia tidak terkejut lagi karena adegan ini pernah terjadi. Jika dulu Kia akan marah, tapi sekarang ia hanya diam saja.
"Oke, aku kesana dulu." Jane memilih untuk mendekat ke arah Hendra.
Marco melihat ke arah Kia yang melamun sejak tadi. "dua jam dari sekarang, kamu ajak Jane untuk kesana nantinya." Marco menunjuk ke arah selatan diujung sana.
Kia mengangguk saja setelahnya ia ditinggal sendirian. Ternyata pilihannya memakai baju ini cukup buruk, apalagi dia sedang hamil dan sudah pasti akan masuk angin. Seharusnya sejak tadi ia memikirkan hal ini.
Saat asik memilih kue yang enak, tiba-tiba sebuah jas tersampir di bahunya. Kia tidak terlalu kaget karena berpikir itu Marco tapi saat berbalik ternyata bukan jas Marco yang tersampirkan. Kia hampir lupa mana mungkin Marco bisa sangat perhatian seperti itu.
"Bisa kita bicara?" tanya pria itu.
"Kamu Erhan?" tanya Kia balik.
"Benar, bisa-bisanya kamu tidak membalas pesanku. Mari kutemani sepertinya kamu sendirian."
Kia berjalan di depan diikuti oleh Erhan, mereka duduk dengan saling berhadapan. "Jadi apa yang mau kamu bicarakan?"
"Ada hal yang sangat membuatku penasaran, dan aku rasa aku bisa membantumu jika aku bisa."
"Bantu? Memang aku perlu bantuan apa?" tanya Kia yang heran dengan pria dihadapannya saat ini.
"Mungkin membantumu untuk bercerai mungkin." Erhan fokus menatap ke arah Kia yang terlihat kaget dan bagi Erhan Kia sangat menawan saat terkejut seperti itu.
"Kamu tau?" tanya Kia sambil mencoba berpikir. "Jadi kamu dengan Marco sangat akrab?" Kia tidak menyangka bahwa Marco akan bisa bercerita urusannya sendiri dengan orang lain.
"Aku rasa Marco akan marah besar jika kamu bilang kami dekat." Erhan sendiri merasa Marco terlalu keras untuk sekedar berteman, selama ini Erhan memang merasa mereka tidak sedekat itu karena Marco seperti membuat batasan.
"Jadi apa untungnya jika kamu membantuku?"
"Karena aku sebenarnya tertarik denganmu."
Kia tertawa pelan dan dia langsung diam saat sadar bahwa ia tidak boleh mengeluarkan kata-kata yang bisa menyakiti Erhan. Kia ingat pada Givano, pria yang memiliki dendam padanya hingga saat ini. "Apa kamu mau menghianati Marco? Kamu tidak takut padanya?"
"Memang dia mencintaimu hingga dia harus marah? Aku rasa dia mempunyai rencana buruk padamu."
***
Karena sesuai target aku update yaww, semangatt klian vote dan komennya.
Target : 160 vote+ 60 Komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark Love
RomanceSebuah pernikahan yang menyiksa bagi Kia, ia harus menikahi pria paling mengerikan yang pernah ia jumpai. Marco benar-benar pria yang tidak ada belas kasihan, dia bisa membunuh istrinya sendiri demi keinginannya sendiri, hal yang paling menyakitkan...
