Bab 38

95.5K 6.1K 504
                                        

Kia dan Marco masih saling bertatapan dengan emosi yang menyelimuti. Marco tidak peduli dengan suara tangisan Anzel yang terdengar kencang karena terbangun akibat suara orangtuanya. Marco tidak memberikan Anzel pada Kia saat anaknya itu merentangkan tangan ke arah Kia untuk meminta digendong.

"Lalu aku harus bagaimana Marco? Apa aku harus terus tunduk dan hanya menunggu kematianku? Aku tidak bisa percaya denganmu, aku tidak bisa!"

Semua kepercayaan Kia sudah hilang sejak Marco tega telah membuat rencana dengan ingin menyiksanya hingga mati. Semua usaha Kia selama ini hanya seperti sampah, tidak berguna sama sekali. Usaha untuk membuat Marco setidaknya kasihan padanya. Tapi nyatanya Kia yang juga sudah melahirkan dua anak tidak membuat Marco bisa membuka hatinya.

Tidak membalas lagi perkataan Kia, Marco langsung membawa keluar Anzel. Kia berusaha menggapai kembali anaknya. Tubuh Marco yang tinggi membuat Kia kesusahan dan faktanya Kia juga tidak berani ngasal menarik tubuh Anzel yang masih bayi.

Sampai Anzel dan Marco bisa masuk ke dalam mobil, yang bisa dilakukan Kia hanya bisa menangis. Ia terduduk di atas jalan dengan tangisan tanpa henti.

Marco yang berada di dalam mobil menutup matanya erat. Ia yang duduk di belakang kursi dengan supir yang membawa mobil, memeluk Anzel pelan dengan tangan mengelus punggung kecil itu.

Anzel menangis sambil mengucapkan 'cucu' berulang kali. Marco harus menghubungi bawahannya untuk membelikan susu untuk Anzel, kalau perlu Marco akan ke rumah sakit dulu untuk menanyai susu apa yang cocok.

Marco mengangkat Anzel lebih tinggi agar ia bisa melihat wajah anak laki-lakinya yang sudah lama tidak ia lihat, wajah memerah dengan tangan terkepal membuat Marco geram. Ia membawa Anzel kembali ke dalam pelukannya dan mengusap punggung kecil Anzel, hal yang dulu sering Marco lihat saat Kia menenangkan Vina. Setelahnya Anzel berhenti menangis, dengan mata bulatnya bayi itu menatap Marco seperti tatapan kebingungan.

"Wajahmu sangat mirip dengan Ibumu." Marco mengusap pipi Anzel yang merah alami.

***

Baru saja Herza mulai mengerjakan tugas perusahaannya, tidak lama ada suara ketukan pintu yang terdengar dari arah luar ruangan.

"Apa lagi?" tanya Herza dengan nada sedikit membentak lantaran Herza saat ini sedang fokus bekerja. Tidak lama Teo, orang kepercayaan Herza masuk ke dalam ruangan.

"Maaf Tuan." Teo menunduk hormat. "Ada tamu yang bernama Marco, saya sudah bilang bahwa harus membuat janji terlebih dahulu. Tapi dia memaksa, setelah saya cari tau ternyata dia adalah CEO dari Rozxy ZH Company. Jadi saya mengira dia adalah orang penting Pak."

"Penting apanya? Dia adalah hama." Herza berbicara dengan nada tidak santai. Bagaimana tidak emosi, pria yang menghancurkan kehidupan Kia datang ke tempatnya. Walaupun tidak tahu jelas dengan apa yang terjadi dengan hubungan mereka, tapi Herza yakin jika semua masalah itu ada pada Marco. 

"Maaf Pak, akan saya segera usir pria itu." Teo berniat untuk langsung keluar dari ruangan Herza.

"Tidak perlu, suruh masuk pria bajingan itu."

"Baik Pak." Teo buru-buru keluar dari pada mendapat amukan dari Herza.

Marco Ferensiano Ailank, pria dengan tubuh tegap dan jas yang masih terpasang rapi. Masuk ke dalam ruangan Herza dengan percaya diri. Marco memperhatikan ruangan yang sangat besar ini, setelah semalam mengalami hal yang tidak menyenangkan dengan Kia. Marco tidak tidur semalaman, ia menunggu hingga bisa segera bertemu dengan Herza.

Sebelum ke sini, Marco juga berolahraga berat agar setidaknya tenaganya habis dan tidak berniat untuk mengeluarkan emosinya dulu. Karena Marco ingin tahu ada hubungan apa Herza dan Kia.

Dark Love Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang