"Mina, bawa Vina main." Marco menyerahkan Vina kepada pengasuhnya yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Apa yang membuatmu tidak mau bukannya kamu sering ke sana." Marco sebenarnya juga cukup keheranan karena selama ia memata-matai Kia, wanita itu jarang ke balkon.
" Ayo kita bicara di taman saja, di sana lebih bagus." Tanpa menunggu persetujuan Marco, Kia langsung berjalan memimpin untuk keluar dari rumah dengan Marco mengikutinya dari belakang. Setiba di taman mereka duduk di atas kursi dengan jarak yang sedikit berjauhan.
"Apa yang ingin kamu kasih tahu?" tanya Marco yang cukup penasaran karena jarang-jarang Kia berbicara tapi seperti diulur waktu.
"Aku ingin kamu membebaskan aku dari Givano."
Marco terdiam kaku, ia bahkan memutar otak bagaimana Kia bisa tahu tentang ini, bukannya mereka jarang ketemu. "Bebas bagaimana maksudmu?" tanya Marco dengan suara pelan, ia melihat ke segala arah di depannya seperti ingin memastikan sesuatu. Apa Kia merencanakan sesuatu?
"Aku tidak mau lagi tinggal di sini dan lebih baik kita bercerai." Kia menatap Marco sungguh-sungguh.
"Cerai?" tanya Marco sambil tertawa pelan. "Jadi bebas apa yang kamu maksud? Cerai? Apa hubungannya dengan Givano dengan urusan cerai itu." Kia terlalu naif, tidak mungkin Marco begitu saja membebaskan Kia.
"Aku tau kamu mau bunuh aku, setelah aku melahirkan," lanjut Kia lagi sambil menunggu raut wajah apa yang dikeluarkan Marco, tapi pria itu terlihat tenang.
"Aku tidak akan membantah jika itu tidak benar dan perjanjian itu tetap akan terjadi." Marco tahu apa pun itu semua sesuai perjanjiannya dengan Givano tidak akan bisa dibatalkan dengan mudah dan sekarang Marco paham mengapa Kia berubah secara tiba-tiba, dari yang awal sekali melarikan diri dan semua sikap Kia yang tiba-tiba berubah.
"Jadi ini alasan mengapa kamu melarikan diri? Dan mau menggantung dirimu?" sambung Marco lagi dengan pertanyaan yang sebenarnya sudah ia yakini benar adanya.
"Iya, dan aku tau mau kemana pun aku lari, jika kamu tidak memberikan izin tetap saja aku akan terus tertangkap."
"Itu tahu, kamu tidak akan bisa lari kemana pun jika tidak aku izinkan." Marco berucap dengan santai, karena masalah Kia melarikan diri bukanlah hal yang bisa membuatnya pusing. Marco bisa dengan mudah kembali menemukan Kia.
"Iya hal itulah yang membuatku semakin benci padamu. Aku akan memberikan penawaran agar kita bisa berpisah secara benar. Aku akan memberitahumu di mana Sandra."
Marco bukan orang bodoh, ia tahu sangat
jika Sandra pasti sedang bersama orang yang mempunyai kekuasaan dan kemampuan lebih hingga sampai sekarang tidak pernah ditemukan. Marco saja mengira wanita itu sudah mati. Lalu, bagaimana wanita di sampingnya ini dapat menemukan keberadaan Sandra.
"Lalu apa kamu kira aku akan melepaskanmu begitu saja? Menemukan Sandra? Aku rasa kamu menemukan informasi yang tidak valid, dengan kekuatan tim aku saja. Aku tidak dapat menemukannya, apalagi kamu! Berhenti bersikap semaunya, mau sampai kapan pun perjanjianku dengan Givano tidak akan bisa batal. Ini semua sudah menjadi takdirmu karena pernah berhubungan dengan Givano."
Marco terus berbicara dengan lantang, hal yang membuat Kia tidak fokus. Kepalanya terasa memutar, ia seperti tidak dapat menenangkan jantungnya juga. Semua fokus hanya terarah pada kejadian menyakitkan itu, kejadian saat ia mendengar fakta rencana Marco dan kejadian jatuh dari ketinggian dengan rasa amat menyakitkan.
Kia untuk memegang ponselnya saja tidak sanggup, tangannya bergetar. Ia meletakkan ponselnya ke atas pangkuannya. Kia hanya menekan dadanya yang terasa sesak, seperti terhempit sesuatu yang keras hingga susah untuk bernapas.
Marco yang awalnya melihat ke arah depan, mengalihkan pandangannya ke arah Kia saat wanita itu diam saja. Awalnya Marco kebingungan dengan reaksi Kia yang cukup berlebihan. "Kenapa?" tanya Marco saat Kia sekarang juga mulai kesulitan bernafas.
"Jangan main-main." Marco bingung harus bagaimana. "Ke rumah sakit?" tanya Marco beranjak bangun dan menarik satu tangan Kia agar ikut berdiri. "Kenapa akhir-akhir ini kamu sering sekali sakit?" tanya Marco keheranan ia menarik rambut Kia ke belakang karena menutupi wajahnya. Wajah Kia benar benar pucat dengan nafas yang terdengar kasar.
Kia mencoba berdiri dan masuk saja ke dalam kamar ia harus menenangkan dirinya, sekarang Kia terlalu panik. Marco benar-benar menakutkan. Ia tidak berani berjalan sendirian takut jatuh. Kia berusaha mengambil ponsel dan hendak menghubungi Mina agar bisa membantunya. Tapi baru saja hendak menghubungi Mina ponselnya sudah direbut paksa. "Untuk apa menghubungi dia?"
"Mau masuk ke dalam? Biar aku bantu." Marco berusaha menahan emosinya saat ini, karena hari ini benar-benar hari yang sial. Kenapa rahasia besar itu terbongkar, yang tahu hanya hal ini hanya dirinya dan Givano.
"Tidak biar aku mati disini," jawab Kia dengan sarat penuh kebencian, nafasnya juga sudah bisa mulai teratur.
Kia berusaha menghilangkan bayangan buruk dan berusaha berpikir dengan tenang. Ia harus tahan, harus kuat! Kia mendadak jadi tidak ingin kembali.
"Tidak, lebih baik kita kembali bicarakan hal ini," lanjut Kia saat Marco meletakkan tangannya di pinggangnya, sepertinya pria itu serius hendak membantunya jalan. Ia harus langsung membicarakan hal ini, tidak ada waktu untuk menunggu lagi. Semua harus selesai, Kia tidak mau menunggu lagi.
Dengan berusaha menahan tangis Kia mengelap keringat yang berada di dahi dengan tangannya. Ia takut melihat Marco tapi apa pun itu ia harus bisa kuat.
"Aku tidak berbohong jika aku tahu di mana Sandra." Kia merebut paksa ponselnya yang berada di tangan Marco, lalu ia mencari folder video tersebut dan memperlihatkannya pada Marco.
Marco tidak bisa untuk sekedar mengalihkan diri dari video yang diperlihatkan oleh Kia. Wanita ini, wanita yang ia cari hingga keujung dunia sekalipun tidak bisa ia temui. Tapi sekarang dengan mata kepalanya sendiri Marco bisa melihat dengan jelas Sandra masih hidup.
"Dari mana kamu tahu dia?" tanya Marco sarat akan tekanan, ia bahkan menggenggam erat ponsel Kia, ia menatap wanita hamil di depannya dengan tajam. Ini diluar bayangannya, bagaimana bisa Kia tahu kalau Marco mencari wanita itu. "Dari mana kamu tahu aku mencari wanita ini?"
Kia hanya diam, percuma jika Kia menjelaskan tidak mungkin Marco akan percaya.
"Di mana dia sekarang?" tanya Marco lagi, ia menyerahkan ponsel Kia dengan tidak benar. Sedikit melemparnya dan Kia dengan pasrah mengambil ponsel yang berada di sampingnya.
"Aku akan memberitahu, asal kamu melepaskanku dan tentu saja membatalkan niat busukmu dengan Givano yang ingin menyiksa dan membunuhku."
Marco sungguh berada di posisi sulit saat ini, jika ia berhenti membuat kesepakatan dengan Givano maka semua yang ia inginkan akan hancur. Dan Marco rasa tidak mungkin Givano bisa dengan gampangnya melupakan Kia. Tapi jika menolak keinginan Kia ia tidak bisa mengetahui di mana Sandra. Hingga sebuah ide muncul di kepalanya, ia mengeluarkan pistolnya lalu ia arahkan pada kepala Kia.
"Kasih tahu di mana Sandra atau kepalamu itu akan hancur dengan peluru ini."
Kia yang duduk di atas kursi dan Marco yang berdiri di hadapannya sambil menodongkan pistol sangat cukup membuatnya terkejut. Kia menatap Marco dengan mata yang berkaca-kaca, ia tidak sanggup melihat Marco seperti ini. Jika ini memang mimpi, Kia mungkin akan sangat bahagia. Tapi ini adalah kenyataan, karena wanita itu Marco mau membunuhnya.
"Marco! Kamu benar-benar mengerikan, kamu bukan manusia. Dan aku harap kamu abadi dalam kegelapan yang menyiksa," ucap Kia dengan jantung yang berdetak cepat.
"Aku bisa merasakan bahwa aku ini manusia paling hina di dunia ini karena menjadi istrimu!" Kia tidak pernah takut saat menantang Marco, ia serius ia benci dengan pria yang berada di hadapannya saat ini.
Mata Marco tampak memerah, pria itu terlihat seperti menahan sesuatu hal yang hendak ia keluarkan. "Tidak takut?" tanya Marco.
"Dari pada aku mati secara tragis dengan cara penyiksaan dari kalian berdua. Apalagi kalian akan tertawa melihat aku sedikit demi sedikit mati, apalagi dengan saudara menjijikan kamu itu."
"Bilang padanya tidak akan ada wanita baik yang mau dengan pria sampah seperti dia! Sampaikan salam ku pada adikmu itu. Sekarang tembak aku, biar aku bisa pergi dengan bayiku. Setelah ini juga kau harus menembak Vina, dia tidak pantas untuk bisa menghirup udara yang sama dengan Papa binatang di sepertimu!" Tidak ada tangisan sedikit pun dari mata Kia, ia tidak gentar apalagi saat Marco memegang dagunya dengan erat.
***
Satu kata untuk Marco?
Satu kata untuk Kia?
Satu kata untuk Vina?
Yeayy targettnya tercapaiii
Kalau boleh tahu kalian asal daerah mana ni?
Kalau tidak keluar notif kalian bisa hapus dulu dari perpustakaan hbistu tambahin lagi.
Target : 1.580 Vote + 298 Komen + 5 followers 😊
Buat yang ga sabar menunggu bab selanjutnya wa ke nomor ini 0838‑6394‑7842
Bab 27 sampai bab 35 cuman 15k
Bab 27 sampai bab 38 cuman 20k
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark Love
RomanceSebuah pernikahan yang menyiksa bagi Kia, ia harus menikahi pria paling mengerikan yang pernah ia jumpai. Marco benar-benar pria yang tidak ada belas kasihan, dia bisa membunuh istrinya sendiri demi keinginannya sendiri, hal yang paling menyakitkan...
