Kia yang tadinya melamun langsung kaget saat pintu kamar tempatnya dirawat terbuka begitu saja. Kia kira Marco yang kembali ternyata Herza yang datang. Kia terkejut saat melihat Herza karena Kia tidak mengabarkan kepada Herza bahwa Kia sudah melahirkan.
"Aku tidak menemukanmu di rumah, lalu aku mencari tahu," jelas Herza tanpa menunggu ditanyai oleh Kia, pria itu meletakkan makanan dan bunga yang dibawanya.
Dan Kia sekarang juga sadar saat Herza tidak pernah memberikan sesuatu yang berbau anak kecil atau bayi untuknya. Hanya saja Kia merasa tidak enak dengan semua pemberian Herza, jujur Kia hanya takut merasa hutang budi. Tapi Kia sendiri tidak tahu bagaimana membalasnya.
"Sudah berapa kali aku harus memberi tahu Herza, jangan datang ke rumah jika tidak aku izinkan."
Kia sebenarnya risih dengan Herza karena pria itu memiliki pekerjaan yang sama dengan Marco. Jika saja Kia tidak tahu pekerjaan gelap Herza, mungkin Kia tidak akan juga akan bersikap sebagai teman biasa. Untuk sekarang menganggap Herza sebagai teman saja Kia tidak bisa.
"Mengapa kamu terlihat sangat tidak suka denganku?" tanya Herza sedikit kesal, padahal Herza selama ini tidak tidak berbuat aneh tapi Kia seakan tidak mau melihat wajahnya.
"Aku tidak akan mau menutupinya lagi, aku tahu hubungan seperti apa yang ada antara kamu dan Marco."
"Jadi kamu sudah tahu siapa Marco?" tanya Herza yang jadi paham mengapa Kia tidak suka dengannya. "Lalu apa karena Marco pernah bercerita jika aku pernah menembaknya?"
"Iya aku tahu jika kamu pernah menembaknya." Kia tidak mengakui jika Marco yang bercerita, karena Kia tahunya dari Erhan.
"Aku bukan mau membela diri, tapi jika aku tidak menembak Marco saat itu. Maka yang mati adalah aku. Tetap saja walaupun aku menembaknya, dia selamatkan jugakan. Dan kamu harus tahu jika aku yang ditembak sudah pasti tidak akan selamat."
"Mengapa gitu?" tanya Kia.
"Karena dia selalu menembak orang tepat di jantung atau di tengah kepala."
Orang yang memiliki pekerjaan yang sama dengannya dan Marco pasti akan tahu bagaimana kejamnya Marco, pria itu jika sudah menekan pelatuk pistolnya tidak akan main-main, pelurunya akan tepat mengenai titik kelemahan manusia. Dan sudah dipastikan tidak akan selamat. Makanya beberapa orang sangat takut berdekatan dengan Marco sebab pria itu tidak memiliki belas kasihan.
Kia hanya berdehem sebagai balasan saja, lalu melanjutkannya. "Lalu kenapa kamu tidak menembak ke arah jantungnya saja biar dia yang kena?"
"Aku tidak berpikir seperti itu karena terlalu panik, jadi aku langsung menembak asal saat Marco ingin menembak papaku?" balas Herza pelan, pria berusia tiga puluh tiga tahun itu terlihat menatap Kia dengan pandangan berbeda.
"Aku berbeda dengan Marco! Walaupun pekerjaan kami sama, tapi aku tidak sekejam dia."
Kia percaya saja dengan ucapan Herza, karena menurutnya Marco memang terlalu parah sampai bisa-bisanya mau membunuhnya padahal Kia tidak mempunyai salah apa pun.
Setelahnya hanya keheningan yang terasa di antara Kia dan Herza. Kedua manusia berbeda rupa itu terlihat seperti orang asing, padahal niat Herza ingin berbicara sesuatu.
"Aku tadi melihat Marco, apa yang dia lakukan?" tanya Herza menatap lawan bicaranya yang sekarang juga terlihat kaku saat ia menanyakan mengenai Marco. Dan Marco yakin ada hal yang tidak menyenangkan terjadi.
"Itu urusanku Herza, aku tahu kita dulu dekat. Tapi sekarang kita sudah berada di posisi yang berbeda, kita sudah dewasa dan aku rasa kita tidak perlu harus selalu berjumpa. Dan jujur saja aku begini karena tidak nyaman saat tahu kamu tidak hidup normal sama seperti Marco. Jadi aku tidak bisa mengubah pandanganku saat melihatmu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark Love
RomanceSebuah pernikahan yang menyiksa bagi Kia, ia harus menikahi pria paling mengerikan yang pernah ia jumpai. Marco benar-benar pria yang tidak ada belas kasihan, dia bisa membunuh istrinya sendiri demi keinginannya sendiri, hal yang paling menyakitkan...
