Bab 31

110K 6.6K 454
                                        

"Lalu mau kemana kamu malam-malam begini?" tanya Herza, karena aneh saja wanita hamil malam-malam keluar sendirian.

"Aku mau mencari tempat penginapan malam ini dan rencana aku mau mencari rumah sewa saja biar lebih hemat," jelas Kia yang entah kenapa ia menceritakan tujuannya, ia tidak sepenuhnya percaya dengan Herza hanya saja pria itu dulu juga sebagai temannya.

"Aku mempunyai sebuah kenalan yang memang sedang menyewakan rumahnya, apa kamu mau? Rumahnya sangat bagus."

Kia tampak berpikir sebentar, lalu mencoba membuka ponselnya dan melihat berapa saldo di ATMnya dan syukurnya ia masih memiliki banyak tabungan. "Rumah yang bagus ya, kayaknya mahal. Berapa harganya?"

Herza terlihat berpikir keras, ia tidak tahu harga sewa rumah dan sebenarnya rumah yang ia tawarkan adalah rumahnya sendiri. Herza sendiri memang sengaja membuat Kia bisa tinggal di rumah yang memang jarang ia tempati. "Tiga juta per tahun."

"Tiga juta? Serius? Aku tidak salah dengar?" Kia langsung terdiam saat sadar ia berbicara keras di tempat terbuka seperti ini. Berapa pasang mata melirik ke arah keduanya.

"Iya, apa mau aku antar ke sana?" tanya Herza.

"Tidak perlu, berikan saja nomor orang yang punya."

Dengan gampangnya Herza memberikan nomor ponselnya sendiri pada Kia. "Yasudah terima kasih, senang bisa bertemu lagi dengan teman lama. Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu dalam kondisi yang sangat berbeda."

"Kondisi berbeda? Maksudnya?" tanya Herza keheranan.

"Kita bertemu dalam kondisi yang sudah dewasa," balas Kia, padahal maksudnya adalah ia tidak menyangka bisa bertemu dengan Herza yang ternyata bukan orang baik-baik seperti orang yang dulu ia kenal.

Kia masih mengingat perkataan Erhan yang mengatakan bahwa Herza pernah menembak Marco. Kia beranjak bangun dari kursinya hendak mencari taxi.

"Mau aku antar?" tanya Herza.

"Tidak perlu."

***

Tepat di atas meja makan, Marco benar-benar pusing. Setelah kepergian Kia semalam, ia terus menekankan diri bahwa Kia pergi pun tidak akan membawa pengaruh besar dalam hidupnya. Untuk anak yang dibawa oleh Kia, Marco akan membiarkannya. Lagi pula Marco bisa memaksa anak itu nanti saat besar agar mau mengikuti kemauannya.

Dan kebisingannya saat ini bertambah karena suara Vina yang terus menangis sambil memanggil nama Kia. Marco bahkan rasanya ingin membanting semua barang di atas mejanya karena suara Vina membuatnya terganggu.

"Kau sudah dibayar mahal, apa tidak bisa membuat Vina diam?" tanya Marco sambil menatap kesal ke arah Mina.

Mina gelapan ia terus membujuk Vina, ia sudah berusaha tapi Vina nya terlalu keras meminta bertemu dengan Kia. "Maaf Tuan, Nona Vina sedari tadi terus memanggil Nyonya. Kalau boleh tahu di mana keberadaan Mama Vina? Karena saya hubungi tidak aktif."

Hati Marco berjerit kesal, ia menatap tajam ke arah Mina hingga wanita muda itu langsung menunduk ketakutan. Tangan Mina masih terus mengelus punggung Vina agar berhenti menangis.

"Mbak, Mama Huaa." Vina merengek sambil menarik-narik baju susternya, Vina yang biasanya terus melihat wajah Kia setiap pagi, jadi terkejut karena tidak adanya Kia.

"Bawa ke sini."

Mina menuruti Marco dan membawa Vina mendekat dan menyerahkannya pada Marco. Setelah berada di pangkuan Marco, Vina sedikit meredakan tangisnya. "Papa, Mama mana?" tanya Vina.

"Sedang pergi main," jawab Marco yang malah membuat Vina semakin menangis.

"Napa ndak ajak Vina?"

Marco mendesah frustasi. "Mina ambil lagi."

Dark Love Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang