Bab 15

140K 8.2K 312
                                        

"Apa kamu selingkuh dan berpikir priamu itu bisa melawanku? Hingga kamu terlihat sangat berani."

Marco menarik pinggang Kia yang menjauh, agar semakin mendekat ke arahnya. Ia merebahkan tubuh Kia ke atas kasur, dan Kia sendiri tidak berani melawan lagi. Apalagi saat Marco menahan kedua tangannya diatas kepalanya, Marco semakin mengurung tubuhnya dengan tubuh besarnya. "Jangan bermain-main denganku? Aku bisa membunuh pria itu!"

"Kalau aku selingkuh kamu memang mau lepasin aku ya?" tanya Kia tapi setelahnya ia jadi takut sendiri dengan pertanyaannya barusan, secara spontan Kia juga menutup matanya erat tidak berani menatap wajah Marco. Tidak lama ia bisa merasakan tubuh Marco menjauh darinya, tangannya juga sudah dilepas.

Tidak lama terdengar suara pecahan barang dan suara-suara barang-barang yang berjatuhan di lantai. Kia membuka matanya pelan untuk melihat apa yang terjadi dan nyatanya Marco seperti kerasukan setan. Pria itu melempar semua barang-barang yang ia lihat, tidak hanya itu ia bahkan melempar kursi ke arah cermin besar yang ada di sebelah kanan. Hingga kaca itu pecah dengan sendirinya.

"Marco! Berhenti! jangan gila kamu," ujar Kia dengan nada yang ia keraskan agar setidaknya Marco bisa mendengar suaranya. Tubuhnya juga tidak bisa tenang, ia bergetar ketakutan, ia takut melihat Marco yang seperti tidak punya akal.

"Aku ingin memperlakukanmu seperti barang yang hancur ini!" Marco menunjuk pecahan barang yang berserakan ini. Melihat Kia yang terdiam membeku seperti itu membuat Marco semakin kesal, ia melihat ada kursi yang kosong di sampingnya. Entah ada setan apa yang merasukinya, tapi Marco benar-benar ada niatan untuk setidaknya menenangkan rasa kesalnya dengan melemparkan kursi ini ke arah Kia.

Marco mengambil kursi yang tadinya di lantai, rencana melemparkan kursi itu ke arah Kia sudah tersusun di otaknya. Ia benar-benar ingin melempar kursi ini ke arah Kia, tapi baru saja ia mengangkat kursi itu tinggi-tinggi. Kepalanya menjadi pusing dan dadanya juga berdetak kencang, seperti ada dorongan di kepalanya untuk tidak melempar kursi itu. Hingga ia memilih melempar kursi itu kesembarangan arah.

Jika saja Kia berkata bersama pria lain saat Marco tidak melihat pergerakan apa pun dari wanita itu mungkin Marco tidak akan terpancing emosi seperti ini. Tapi ia sudah melihat bagaimana Kia yang mengejar pria lain semalam. Lagi pula ia tidak tahu alasan jelas kenapa bisa semarah ini. Tapi setelah ia pikir, Marco benar-benar tidak mau miliknya direbut orang lain. Mau hidup atau mati miliknya tetap harus dibawah kekuasaannya. Bahkan Marco tidak sudi jika sampai ada tangan lain pria lain yang merangkul tubuh Kia.

"Panggil pria itu ke sini, biar aku bunuh sekarang!" Marco tidak bisa melampiaskan emosi membunuhnya kepada Kia sekarang, jadi bukan lebih baik ia membunuh pria yang dikejar oleh Kia.

Kia tidak bisa lagi menahan air mata, ia ketakutan melihat Marco yang hilang kendali seperti ini. Sebelumnya ia belum pernah melihat Marco semengerikan ini. Ia mencoba mencari ponsel untuk menghubungi orang rumah yang di luar. Karena kamar ini kedap suara, tidak akan ada yang mendengar suara ribut yang ditimbulkan oleh Marco.

Tapi baru saja tangannya hendak bergerak menghubungi Sarah, tangannya lebih dulu di tarik oleh Marco. Dan ponselnya direbut oleh Marco setelahnya Marco melempar ponsel dengan kekuatan penuh ke arah dinding hingga ponsel itu jatuh dalam keadaan pecah. "Kau langsung menghubungi pria itu? Benar-benar murahan, kau dibayar berapa oleh dia?"

Jantung Kia berdetak sangat kencang, bahkan tangannya bergetar. "Aku tidak menghubungi pria lain yang seperti kamu katakan, aku hanya menghubungi pembantu di rumah." Kia yang tadinya menunduk mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Marco yang memerah. "Kamu sangat mengerikan aku takut Marco. Aku takut, kamu kenapa bisa begini?" Kia tidak sanggup meneruskan suaranya yang sudah terisak disertai air mata.

Dengan keberanian penuh Kia beranjak bangun. Ia berjalan di atas kasur dengan langkah pelan setelah mendekati Marco ia melompat ke pelukan suaminya. Ia memeluk tubuh tegap yang dulu ia pikir akan memberikannya kebahagian.

"Aku takut kamu gini, kenapa kamu bisa semengerikan ini Marco?" Kia terus berbicara dengan campuran isak tangis, ia mengelus belakang kepala Marco dengan lembut. "Apa yang ada di kepalamu saat ini? Aku ini memang wanita bodoh! Saat orang pernah mengatakan bahwa kamu bukan pria baik, aku tidak peduli aku tetap menikahimu."

Sebelum menikah dengan Marco, ia masih ingat sampai sekarang teman dekatnya bernama Cassie mendatanginya saat seminggu sebelum ia bertunangan dengan Marco. Cassie menunjukkan sebuah video di mana saat itu Marco sedang memukul seorang pria di taman. Dan Cassie sendiri pernah bilang pada Kia bahwa Marco itu mafia. Saat itu Kia sendiri tidak percaya dengan omongan temannya sendiri, ia rasa Cassie iri dengannya. Dan masalah Marco memukul orang di taman, bisa sajakan Marco memukul karena pria itu ada salah.

"Segala perilaku burukmu selama ini tidak pernah membuatku terlintas bahwa kamu bisa saja membuat hal mengerikan padaku," ucap Kia dengan pelan ia mengigit bibirnya sendiri untuk menahan isak tangisnya. Selama ini Kia tidak pernah berpikir sedikit pun jika Marco bisa saja membunuhnya hanya karena Givano. "Mengapa kamu diam?" tanya Kia.

Tubuh Marco sendiri membeku, ia bahkan tidak membalas pelukan dari Kia. Pikirannya seperti kosong. Ia tidak bisa dengan jernih memikirkan setiap ucapan Kia.

"Kamu tahu aku yatim piatu dan harapan ku saat kita sudah menikah hanya ada padamu. Tidak pernah ada dipikiranku untuk selingkuh." Kia diam beberapa saat untuk sedikit meredakan isak tangisnya, agar ia bisa berbicara setidaknya ia harus bisa mengeluarkan isi hatinya yang sangat sakit hanya untuk ia tahan. "Aku hanya menggertak, aku hanya ingin kita berpisah karena aku takut sama hal yang mengerikan bisa saja terjadi karena kamu tidak mencintaiku." Kia memeluk tubuh Marco dengan erat, ia dalam posisi kehilangan arah sejak bangun memutar waktu.

Kia tahu Marco bukan pria lemah yang bisa kalah dari Givano, ia tahu pasti jika Marco mencintainya pastinya Marco tidak akan membiarkan Givano menyentuhnya, barang seincipun pasti Marco tidak mengizinkan. Tapi faktanya Marco membiarkan dirinya mati mengenaskan. "Apa kamu mencintaiku?" Kia menjauhkan wajahnya dari dada Marco ia menatap ke wajah Marco yang hanya diam tidak berbicara.

Kia semakin menangis histeris saat Marco hanya diam, ia melepaskan pelukannya, ia tidak sanggup berdiri rasanya. Dan Kia menjatuhkan tubuhnya ke dinginnya lantai. Ia tepat terduduk di bawah kaki Marco. "Ya Tuhan apa salahku hingga berada di posisi ini." Kia memegang kaki Marco dengan pelan. "Aku ini istrimu Marco, tidak bisa kamu melihat ke arahku? Mengapa kamu semengerikan ini?"

***

Target sebelumnya tercapai ya

Target : 910 Vote + 160 komen

Buat yang ga sabar menunggu bab selanjutnya wa ke nomor ini ‪0838‑6394‑7842‬
Bab 16 sampai bab 18 cuman 5k
Bab 16 sampai bab 23 cumn 15k
Mau request bab bisa ya, misal sebelumnya udah beli sampai bab 20 bisa lanjut ke bab 21

Spam next di sini ~~

Dark Love Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang