Padahal Kia sedang santai memainkan ponselnya di kamar Vina. Dan anaknya terlihat sudah tertidur. Seharusnya melihat Kia yang tidak selalu mencarinya dan tidak selalu manja dengannya membuat Marco senang. Tapi tetap saja Marco malah menghubungi Kia.
Dari layar nampak laptop terlihat Kia lama memandang ponselnya tanpa berniat langsung mengangkat sambungan telepon dirinya. Marco menggeram kesal apa susahnya wanita itu mengangkat. Hingga pada detik terakhir sambungan teleponnya di angkat.
"Halo, ada apa?"
Ada apa? Pertanyaan macam apa itu? Bukan sapaan rindu atau manja seperti biasanya. Tapi Kia malah bertanya dengan suara yang terdengar ketus. Marco sendiri bingung mau bicara apa karena biasanya Kia yang mencari topik.
"Jika tidak ada yang bisa dibicarakan biar aku matikan."
"Bentar, gimana Vina?" Pertanyaan jelas bodoh karena ia bisa melihat Vina tidur.
"Tidur siang."
Marco diam beberapa saat seperti berharap setidaknya Kia menanyai dirinya di mana sekarang, tapi hanya keheningan yang terasa. "Ngapain?" Marco mengulum bibirnya lantar benci dengan pertanyaan yang baru saja ia keluarkan, mengapa harus pertanyaan menjijikan tidak penting seperti ini.
"Rebahan sama Vina."
"Oke," jawab Marco setelahnya ia mematikan ponsel dan melemparkan ponselnya ke sembarang arah.
"Ada apa denganku?" gumam Marco, ia masih memandang setiap pergerakan Kia. Saat ini Kia meletakkan ponselnya ke atas meja dengan santai terlihat malah sangat senang dengan tidak adanya Marco di sana. Tidak tahu mengapa tapi Marco tidak suka saat Kia sengaja tidak peduli lagi. Jadi apa benar Kia sudah bosan dengannya? Tidak cinta lagi?
"Sial!" Untuk apa ia memikirkan hal bodoh seperti ini.
Tapi wanita itu pernah membawa bawa perasaan saat bicara dengannya. Marco sendiri tidak tahu perasaan cinta seperti apa yang wanita itu harapkan. Bagi Marco rasa cinta hanya akan menjadi petaka karena akan menjadi kelemahan.
Perasaan itu hanya menghancurkan, semua benar adanya dan salah satu korbannya adalah ibunya sendiri. Dan Marco tidak tahu mau hanya karena permintaan Kia, ia malah menjadi bodoh dan nurut dengan wanita itu.
Selain itu dirinya memiliki maksud lain pasa Kia, seharusnya Marco bisa berhenti memikirkan Kia. Tapi Marco malah seperti menonton drama seru dan tidak pernah berhenti menatap aktivitas Kia. Apalagi dengan kualitas CCTV ini yang sangat HD.
Marco beranjak bangun dengan ikut memindahkan laptopnya. Ia mendudukan bokongnya tepat di atas kasur sambil bersandar untuk kembali memperhatikan Kia. Benar otak dan hatinya berlawanan, bisa-bisa nya ia membuang waktu memperhatikan orang lain seperti ini.
Kia terlihat mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit. Pilihan Marco pergi ada baiknya karena terlihat kondisi Kia semakin membaik. Hingga wanita itu membuka bajunya sehingga hanya tersisa pakaian dalam saja. Dan setelahnya mengambil baju di lemari Vina, ternyata Kia juga menyimpan baju di kamar anaknya.
Baju yang Marco sendiri kurang tahu apa namanya. Setiap gerakkan Kia berefek pada Marco, ia menelan ludahnya dengan tercekat, jakunnya naik turun dan celananya sudah terasa sesak. Kia sedang asik mengoleskan sesuatu di perutnya. Marco langsung menutup laptopnya dengan kasar dan melemparnya ke lantai dengan kesal.
"Shit, apa aku harus terus bermain solo sambil membayangkan wanita itu." Marco mencoba menenangkan dirinya dan hasilnya sia-sia ua ia terus kebayang dengan Kia. Tidak ada yang bisa menyelamatkannya selain ke kamar mandi. "Mana harus nunggu sebulan lagi! Aleix sialan!" Marco menyebut nama dokter yang memeriksa Kia, Mengapa waktu Kia rehat harus dua bulan itu sangat lama baginya.
***
Sudah lama Kia menunggu informasi dari Erhan dan baru sekarang pria itu memberi kabar jika Herza kesini karena ada urusan pekerjaan dan Erhan sendiri tidak tahu cara pasti bagaimana bisa membuat Herza membantu mereka karena itu adalah hal yang sulit, apalagi sampai tahu jika istri Marco. Untuk keberadaan Herza sendiri Erhan mengatakan akan datang ke rumah untuk langsung memberikan informasi, Kia tidak mengharapkan pria itu datang karena Kia bisa mencoba sendiri asal diberi tahu alamat pria itu.
Tidak perlu menunggu lama, Erhan sudah berada di depan pagar rumahnya. Dan Kia ke luar dan memasuki mobil pria itu. Entah apa yang pria itu rencanakan sampai menyuruh Kia untuk masuk ke dalam mobil.
"Sebenarnya aku sengaja telat memberi kamu informasi ini padahal sudah sebulan, aku harus menunggu waktu yang tepat dan aku sarankan kamu jangan berbicara masalah ini saat di rumah sama siapa pun. Aku rasa bisa saja Marco mengawasimu dari kamera tersembunyi di rumah kalian dan tepat pada hari ini Marco sedang tidak membawa alat komunikasi dia sedang melakukan hal penting di sana."
"Hal penting apa?" tanya Kia cukup penasaran dengan hal penting yang dimaksud. "Apa saling menembak? Atau saling membakar?" tanya Kia lagi.
Erhan tertegun agak sedikit terkejut dengan pertanyaan Kia yang cukup bisa dikatakan benar. "Kurang tahu hehe."
Kia memutar bola matanya malas saat Erhan malah tertawa seperti orang bodoh.
"Seminggu lagi aku ke Jepang menyusul Marco, dia sudah menyuruhku ke sana," ucap Erhan sambil mengendarai mulai mobilnya.
"Jadi dia ke Jepang?"
"Kamu baru tahu." Erhan menatap ke arah Kia cukup terkejut karena bisa-bisanya Kia sebagai istri tidak tahu.
"Iya, lagi pula tidak penting juga," lanjut Kia dengan serius, "Jadi sekarang mau ngapain?" tanya Kia lagi.
"Kita ikuti Herza, aku sedikit curiga dengan Sandra mengapa dia bisa hilang ditelan bumi seperti itu bertahun-tahun, mungkin sekarang sudah lima tahun."
Kia hanya diam dan mereka berhenti di sebuah restoran dan di sana Herza terlihat berbicara dengan beberapa orang di sana. "Kita ikuti dia," lanjut Erhan lagi, mereka akhirnya sampai di Cafe yang berjarak dua puluh menit dari rumahnya.
"Bagaimana kamu tahu dia di sini?" tanya Kia.
"Aku menyuruh orang juga mengikuti dia, itu yang duduk pakai baju santai sebelah kiri adalah orang suruhanku."
Kia melihat ke arah orang suruhan Erhan dan selanjutnya melihat ke arah kanan. "Herza yang memakai celana coklat itukan."
"Kamu tahu?" Erhan kira Kia tidak mengetahui bagaimana wajah Herza.
"Aku pernah melihatnya." Pria itu dan orang yang ia lihat saat dipesta adalah orang yang sama. Selama dua jam Erhan dan Kia menunggu pria itu yang terlalu lama berbicara dengan orang. Tidak lama setelahnya, Herza terlihat memasuki mobil. Erhan dan Kia kembali mengikuti mobil itu.
Tidak terasa perjalanan mereka hampir tengah malam dan mereka tidak menemukan apa pun. Dari pembicaraan Herza yang mereka dengar juga tidak ada yang menjurus ke arah Sandra.
"Kita harus pulang, besok lanjut lagi," ucap Erhan yang cukup lelah dengan aktifitas Herza yang terlalu penuh.
"Tidak, kita tunggu dia sebentar lagi, sampai dia pulang ke rumahnya," jawab Kia sambil memperhatikan Herza yang sedang bermain golf. Kia dan Erhan juga memakai pakaian golf dan mereka berdua sedari tidak fokus main, mereka hanya terus memandang ke arah Herza.
"Ya ampun, besok lanjut lagi."
Kia tidak bisa menolak ia siap-siap pulang dengan raut sedih. "Apa ini akan berhasil?" Kia bertanya lagi, ia jadi takut tidak menemukan apa pun.
Erhan yang terbiasa melihat wanita bersedih seperti ini reflek hendak memeluk Kia dan Kia yang sadar dengan pergerakan Erhan langsung mundur dan tersenyum canggung. "Ayo kita pulang," lanjut Kia dan berjalan di depan Erhan.
***
Yeayy Tercapai target, makanya ni update hehe
Target : 1.250 Vote + 200 Komen + 5 followers 😊
Buat yang ga sabar menunggu bab selanjutnya wa ke nomor ini 0838‑6394‑7842
Bab 23 sampai bab 31 cuman 15k
Bab 23 sampai bab 34 cuman 20k (paket hemat)
Mau request bab bisa juga ya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark Love
RomansaSebuah pernikahan yang menyiksa bagi Kia, ia harus menikahi pria paling mengerikan yang pernah ia jumpai. Marco benar-benar pria yang tidak ada belas kasihan, dia bisa membunuh istrinya sendiri demi keinginannya sendiri, hal yang paling menyakitkan...
