.
Suara tembakan yang keras membuat Marco yang awalnya seperti ingin kehilangan kesadaran langsung bisa kembali memfokuskan pandangannya walaupun belakang kepalanya terasa sangat sakit.
Marco melihat ke arah bawah di mana tadinya Kia terlihat jatuh mengenai lantai. Tapi, Marco melihat hal berbeda. Pandangan saat Ini tidak lagi melihat Kia yang terjatuh mengerikan di bawah sana, tapi Marco semakin jelas merasakan tangan Kia yang masih menggenggam erat tangannya.
Apa Marco tadi berhalusinasi, pakaian Kia juga terlihat tidak berwarna merah lagi. Marco baru sadar jika sejak awal Marco memberikan baju warna pink kepada Kia bukan merah. Marco semakin mengeratkan tangannya dan menarik Kia agar ke atas. Marco berusaha dengan sekuat tenaganya dikala rasa sakit di punggungnya.
Bawahan Marco yang paham dengan kesulitannya saat ini, langsung membantu Marco dengan ikut menaiki pagar dan juga membantu menarik tubuh Kia. Setelahnya Kia dapat dinaikan ke atas dengan selamat.
Marco dan Kia bersandar dibawah pagar sebagai pembatas lantai tiga dengan nafas memburu. Keduanya terlihat sangat lemas, Kia yang merasa sangat lemas pasrah duduk dengan kepala berada di dada Marco karena pria itu memegang erat pinggangnya.
Bau darah membuat Marco sadar jika Givano terkapar dengan darah yang terus keluar dari arah dadanya. Pria itu ditembak oleh bawahan Marco dan melihat titik dari peluru membuat Marco sangat jelas tahu jika pria itu sudah mati.
"Maaf Tuan, kami tadi reflek menembaknya saat dia melayangkan kursi. Kami tidak tahu jika dia adalah Givano."
Para bawahan yang berjumlah tiga orang itu menunduk dengan perasaan ketakutan. Tadinya mereka berjalan menuju kamar Marco karena mendengar suara tembakan dari pistol Marco.
Mereka yang melihat Tuan mereka dalam bahaya langsung saja melayangkan senjata mematikan itu ke arah pria yang membelakangi mereka. Tapi saat melihat wajah pria yang mereka tembak, membuat mereka bertiga langsung ketakutan.
"Bagus, apa pun yang kalian minta akan aku turuti," jawab Marco dengan tangan mengusap wajahnya berulang kali supaya bisa menjernihkan pikirannya. Marco masih terus terbayang dengan bagaimana tadi ia melihat Kia yang terjatuh ke bawah lantai dasar dengan darah yang sangat banyak.
Mengingat tentang Kia, Marco memegang bahu Kia agar menghadapnya. "Ada apa?" tanya Marco saat Kia malah terkapar didadanya tanpa pergerakan. "Apa yang pria itu lakukan padamu?" Marco kembali bertanya karena Kia hanya diam saja.
Marco menarik wajah Kia agar bisa melihat ke arahnya dan langsung terlihat wajah Kia yang pucat, tidak lama Kia juga terbatuk-batuk dengan keras. Marco panik, ia yang merasa ada yang tidak beres dengan Kia. Tidak mau membuang waktu, langsung mengangkat tubuh Kia dan membawanya ke rumah sakit.
"Ada apa denganmu?" tanya Marco pada Kia saat mereka berada di dalam mobil, Marco menepuk pipi Kia berulang kali, Marco juga mengelap darah yang terlihat keluar dari mulut Kia. "Apa dia memberimu racun?" Marco bertanya lagi, ia panik melihat Kia yang terlihat bernafas dengan kasar.
"Marco." Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Kia hingga wanita itu menutup matanya.
"Cepat!" Marco yang merasa ada yang tidak beres, hingga Marco berteriak dengan nyaring kepada sopir.
Sesampai di rumah sakit, Marco yang panik langsung melupakan rasa sakit di punggungnya. Marco masih tetap bisa menggendong tubuh Kia, membawa tubuh itu untuk lebih masuk ke dalam rumah sakit untuk segera ditangani.
Saat Kia sudah berada di atas brankar rumah sakit, Marco mengusap wajah Kia yang terasa sangat dingin beberapa kali. Saat sudah berada didekat ruangan pemeriksaan, Marco tidak diizinkan untuk masuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark Love
Storie d'amoreSebuah pernikahan yang menyiksa bagi Kia, ia harus menikahi pria paling mengerikan yang pernah ia jumpai. Marco benar-benar pria yang tidak ada belas kasihan, dia bisa membunuh istrinya sendiri demi keinginannya sendiri, hal yang paling menyakitkan...
