Erhan tahu perasaan Marco karena dulu, Marco pernah bercerita risih saat didekati oleh Kia dan seingatnya dulu Marco pernah dekat dengan wanita yang sekarang Erhan tidak pernah lagi melihat wajah wanita yang pernah dekat dengan Marco.
Kia tentu saja terkejut dengan setiap kata yang diucapkan oleh Erhan. "Aku tahu kamu mempunyai banyak pacar Erhan, aku pernah melihat kamu membawa wanita yang berbeda setiap datang ke rumah. Jadi perasaan tertarik atau penasaran yang kamu rasakan?"
"Kamu sangat pandai Kia, tujuanku sebenarnya karena ingin membuatmu terlepas dari Marco karena aku curiga dengan dia."
Kia mencoba menahan air matanya, tiba-tiba ia ingin menangis rasanya karena tahu bahwa kecurigaan Erhan sangat mendasar. "Kenapa kamu mencoba membantuku? Kita bahkan tidak kenal."
"Aku tidak bisa cerita padamu sepenuhnya." Erhan sebenarnya pernah mendengar tidak sengaja tentang rencana Givano yang ingin menyiksa Kia dengan berbantuan Marco.
Erhan yang sedari awal terpaksa terjun pada pekerjaan haram itu karena kekurangan uang. Dan saat mereka mengatakan rencana jahat pada Kia, ia jadi tidak tega karena ia rasa kesalahan Kia tidak sebesar itu. Dan Erhan yang sudah tahu jika Givano adalah psikopat sangat menyayangkan jika Kia bisa terlibat dengan pria itu.
"Terima kasih, aku akan segera menghubungimu. Boleh aku minta nomormu." Kia baru saja hendak mengeluarkan ponselnya untuk ia serahkan pada Erhan, hanya saja tiba-tiba gerakannya terhenti saat Marco menahan tangannya dan menyuruhnya untuk segera berdiri. Pria itu juga melemparkan jas yang ia pakai tepat di muka Erhan.
Erhan sendiri hanya mengambil jas di mukanya dengan santai. "Maaf sudah mengganggu waktunya, permisi." Erhan langsung berjalan pergi meninggalkan Kia yang menatap kesal ke arah Marco. Mau bagaimanapun, setelah ini Erhan harus bisa mencari jawaban yang bagus saat akan ditanya oleh Marco, jika tidak ada jawaban yang menyakinkan sudah pasti Erhan akan habis.
Marco yang awalnya fokus membicarakan rencananya nanti malah gagal fokus melihat Kia yang terlalu akrab dengan Erhan. Entah kenapa ia kesal dengan Kia apalagi saat wanita itu berbicara dengan Erhan, ia rasa karena tidak suka saja jika wanita yang berada di bawah kekuasaannya dekat dengan pria lain.
Apa yang keduanya bicarakan, bukannya mereka tidak pernah akrab sebelumnya. Hal itu membuat Marco bertanya-tanya ia ikut menatap Kia yang terus menatapnya dengan wajah kesal yang sangat kentara.
"Ada apa dengan raut wajahmu?" tanya Marco, ia kemudian memilih untuk duduk di atas kursi. "Duduk! Butuh temankan?" Marco hanya bisa terkekeh pelan saat wanita itu akhirnya ikut duduk tapi dengan wajah menunduk. "Suka dengan Erhan? Dia banyak wanita, yang ada kamu akan dijambak oleh wanitanya."
"Lalu kalau pria yang single apa boleh?" tanya Kia lagi.
Marco terlihat diam dan raut wajahnya tampak berubah semakin terlihat marah. Bahkan Marco terlihat ingin memecahkan gelas yang ia genggam dengan erat. "Ingin melihat pria lain mu itu mati?"
Kia yang tahu bahwa temperamen Marco sangat buruk jadi terdiam beberapa saat sambil mencerna mengapa Marco bisa semarah itu. Kia tidak bisa mengontrol tubuhnya yang mendadak gelisah, ia tidak ingin dimarahi oleh Marco atau sampai dipukul di tempat ramai seperti ini.
"Siapapun yang masuk ke dalam kehidupanku, tidak akan bisa keluar dengan mudah. Ingat itu!" Setelah mengatakan kata-kata menakutkan itu, Marco langsung meninggalkan Kia yang sekarang sudah meneteskan air matanya.
Langkah Marco terhenti saat ingat sesuatu dan kembali mendekat ke arah Kia. "Cepat bawa Jane kesana."
Kia mengangguk pelan, ia beranjak bangun menuju tempat dimana Jane sedang berbicara dengan teman-temannya.
"Hai Kia, sudah lama aku tidak melihatmu, apa Marco masih betah denganmu?" ucap Cici yang memang Kia rasa iri dengannya, padahal jika bisa Kia mau menyerahkan Marco secara cuma-cuma.
"Jane bahkan lebih pantas bukan untuk bersama Marco?" Kini Kia menatap ke arah Yumna yang terlihat tidak bersalah mengatakan hal itu.
"Kalian jangan bicara seperti itu," lanjut Jane yang menatap Kia dengan raut tidak enak.
"Aku tidak perlu banyak bicara dengan orang yang banyak menerka-nerka nyatanya aku lebih pantas karena sudah bisa menjadi istri Marco. Jika kau ingin, langsung saja goda dia ajak tidur dia apa mau denganmu?"
"Bukankah kau terlalu kasar?" Yumna memutar bola matanya, ia kesal tentu saja karena sebenarnya beberapa bulan lalu sempat menggoda Marco dan pria itu tidak tergoda sama sekali.
"Sudah hentikan, lalu Kia ada apa?" tanya Jane.
"Ada yang ingin aku bicarakan, bisa kita pindah tempat?"
Jane mengangguk pelan, ia langsung berjalan bersama dengan Jane. Saat sedang berjalan, ia mendengar nama Herza disebut hal itu membuat langkah kaki Kia terhenti. Herza? Ia ingat nama itu, jantungnya dua kali berdetak lebih cepat.
"Ada apa?" tanya Jane saat Kia berhenti berjalan.
Kia tidak peduli dengan ucapan Jane, ia langsung melihat ke arah belakang. Dan pria bertubuh tegap dengan wajah yang terlihat orang asia. Di tubuhnya juga terdapat beberapa tato, ia seperti mendapat pencerahan hidup melihat pria itu. Tapi pria itu malah berjalan pergi meninggalkan orang yang tadinya berbicara berdua.
"Jane kamu ke arah sana sebentar ya aku ada urusan, setelahnya aku menyusul." Kia menunjuk ke arah ujung di mana tempat yang Marco perintahkan sebelumnya.
"Hah? Kenapa?" tanya Jane yang keheranan melihat Kia yang juga tiba-tiba seperti orang kebingungan.
"Disana ada Marco, kamu kesana aja." Kia sebenarnya tidak tahu ada Marco apa tidak disana ia hanya berusaha membuat Jane mau ke sana.
Setelah melihat Jane bergerak mengikuti perintahnya, Kia berjalan mencoba mengejar Herza yang berjalan di kerumunan itu. Disisi lain, Marco yang berada di lantai dua sedang memperhatikan orang-orang di bawah yang terlihat kesenangan pada malam ini.
"Kira-kira ada berapa nyawa yang hilang hari ini?" Liam mencoba menerka sambil tersenyum pelan. Ia tidak sabar dengan ledakan itu.
"Aku harap pria tua itu harus langsung mati di tempat." Givano membalas ucapan Liam tidak kalah semangat, ia tentu saja tidak sabar dengan kematian pengusaha yang bernama Hendra itu. Mereka diberikan tiga miliar hanya untuk bisa membunuh pria kaya itu
Marco tidak bisa fokus mendengar pembicaraan mereka, ia menatap ke arah wanita berambut sepunggung yang tiba-tiba malah berlari ke arah tempat yang berbahaya. Mengapa wanita itu ke sana! Padahal sudah diperingatkan.
"Berapa menit lagi ledakan itu?" tanya Marco yang sudah siap-siap berlari untuk turun.
"Lima menit."
"Brengsek." Marco mencoba menghubungi Kia tapi wanita itu tidak mengangkat teleponnya, ia berlari sambil terus mencoba. Marco harus menuruni tangga darurat untuk bisa lebih cepat ke bawah.
***
Karena sesuai target aku update yaww, semangatt klian vote dan komennya.
Target : 300 vote+ 100 Komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark Love
RomanceSebuah pernikahan yang menyiksa bagi Kia, ia harus menikahi pria paling mengerikan yang pernah ia jumpai. Marco benar-benar pria yang tidak ada belas kasihan, dia bisa membunuh istrinya sendiri demi keinginannya sendiri, hal yang paling menyakitkan...
