Bab 14

138K 7.4K 202
                                        

Follow akun ini supaya ada informarsi

***

"Pak Marco?" Polisi itu mengenal Marco karena ia beberapa kali melihat Marco dimajalah dan ditelevisi, siapa yang tidak mengenal pria tampan sekaligus kaya itu dan bahkan Marco menyumbangkan ratusan juta untuk membantu kepolisian.

"Kenapa Bapak masih di sini? Lebih baik pulang saja, sepertinya penjahatnya masih ada di sini."

Marco mencoba menahan tawanya, padahal penjahatnya ialah dirinya sendiri.

"Saya memang akan pulang sekarang."

Polisi itu terdiam beberapa saat. "Baik, Bapak bisa langsung pulang karena kondisi juga sudah semakin memburuk." Setelahnya polisi itu meninggalkan Marco sendiri.

Marco berjalan dengan santai keluar dari daerah pakiran, ia berjalan untuk menuju pinggiran jalan raya. Ia berjalan sambil tersenyum kecil, benar-benar bodoh lagi pula tidak akan ada yang bisa menangkapnya. Siapa yang berani membawa Marco ke kantor polisi walaupun hanya untuk ditanyai.

Marco sendiri ingin pulang dan istirahat, tapi kejadian Kia tadi membuatnya penasaran hingga ia menghubungi seseorang untuk bisa mendapatkan CCTV sebelum terjadi ledakan. Ia tahu CCTV itu lagi diamankan, tapi itu semua bisa dengan mudah Marco dapatkan. Marco juga sudah menyuruh bawahannya untuk menghapus adegan saat Marco yang menjauh dari arah ledakkan dan adegan saat ia tidur bersama Kia dilantai.

Tentu orang akan curiga jika menyaksikan adegan yang terjadi. Karena akan sangat jelas saat Marco mencoba menghindari ledakan dan posisi tengkurap di lantai. Padahal rencananya sudah sangat sempurna hanya saja Kia malah menambah pekerjaannya.

***

Tangannya terasa sakit seperti baru ditusuk dengan benda kecil tapi tajam. Kia membuka matanya dengan lebih cepat, dengan mata masih mengantuk. Ia bisa melihat Marco berdiri menjulang di belakang dokter yang ternyata menusuknya dengan jarum suntik.

Sudah mengerti dengan pelakuan Marco selama ini membuat Kia sedikit takut. Ia jadi berpikir yang tidak-tidak, apa yang disuntikan ketangannya. Padahal Kia tidak berasa ada yang sakit dengan tubuhnya.

"Aku kira mati," ucap Marco yang membuat Kia ingin melepar vas bunga yang berada di samping kasurnya tepatnya di atas meja untuk menghantamkannya tepat di kepala Marco. Tapi ada yang lebih penting saat ini, ia ingat semalam tidur dengan Vina dan saat ini Kia memang berada di kamar anaknya.

"Di mana Vina?" tanya Kia.

"Sudah dipindahkan," jawab Marco dengan suara kentara dengan kesal, padahal Kia tidak membuat kesalahan pagi ini.

"Lalu, untuk apa kalian menyuntiku seperti ini? Kamu tidak aneh-aneh kan?" Nada suara Kia memang terdengar menuduh, tapi nyatanya Kia memang tidak bisa untuk berpikir positif jika itu mengenai Marco. Kia menatap semakin takut ke arah Marco. "Apa aku disuntik biar aku tidak bisa melawanmu lagi?"

Kia yang memang baru bangun sedikit bingung dan pusing, jadi ia tidak tahu apa pertanyaannya terlalu memalukan hingga dokter wanita itu terkekeh pelan. Dokter itu juga sudah mulai membereskan alat-alat medisnya yang tadi digunakannya. Kia hanya berpikir bahwa Marco memberikan obat agar Kia tidak bisa melawan pria itu lagi seperti semalam, apa ini seperti obat pemati saraf? Kia memukul pelan kepalanya yang berpikir tidak jelas.

"Dokter, ada apa denganku?" tanya Kia sambil menatap dokter itu penuh harap, ia curiga dengan Marco pria itu terlihat santai berbeda dengan Kia yang sangat kesusahan untuk mencari jawaban dari pikirannya. Seingatnya semalam ia memang ingat ada isiden mengerikan itu, tapi setelahnya ia memang langsung tertidur setelah sampai ke dalam kamar anaknya rencana ia hanya ingin mengecek apa Vina sudah tidur apa belum. Tapi karena rasa ngantuk ia memilih tidur dengan anaknya saja.

"Siapa yang menganti bajuku?" tanya Kia lagi saat sedari tadi keduanya hanya diam. Kia menghela napas pelan, apa mereka kira ia binatang disini hingga apa yang sedang ia tanyakan tidak di jawab. "Apa kalian tidak bisa berbicara?" tanya Kia yang sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya.

"Hanya vitamine saja, hanya saja harus lebih sering istirahat dan."

"Keluar!" Perintah dari Marco membuat dokter tersebut yang lagi menjawab pertanyaan Kia jadi terhenti. Dokter itu pun memilih untuk menurut, karena ia pernah mendengar isu bahwa Marco ini memang terkenal tidak bisa bersikap ramah dengan orang lain.

Suasana menjadi aneh saat mereka tinggal berdua, Kia memberanikan diri menatap Marco yang ternyata juga sedari tadi melihat ke arahnya. Saat Marco semakin mendekat ke arahnya, Kia semakin menggerakkan dirinya hingga ke ujung kasur. Marco juga ikut naik ke atas kasur, muka Marco juga tidak bersahabat.

"Aku tidak menerima wanita yang bermain dengan pria lain di belakangku! Aku melihat CCTV kau mengejar seorang pria, siapa dia?" Marco yang kebingungan dengan Kia yang sangat susah diajak untuk mengikutinya semalam menjadi curiga, dan dia memilih melihat CCTV. Dan ia tidak mengenal pria itu dan Marco juga tidak tahu dengan jelas pria mana yang dikejar karena di sana juga ramai.

"Aku tidak mengejar pria," ucap Kia dengan suara pelan, ia tidak mungkin mengaku mengejar Herza.

Tidak dapat membendung rasa marahnya, Marco mencekram leher Kia dengan remasan yang cukup membuat Kia tidak nyaman. Ia memegang tangan Marco untuk menyuruh berhenti.

"Tidak mungkin, aku bisa melihat kamu melihat ke arah pria lain dari belakang:"

Kia yang sudah tidak tahan lagi pura-pura pingsan saja, karena sudah tidak tahu harus menjawab apa. Ia diam beberapa saat hingga cengkraman di lehernya terlepas. Tidak lama ia merasakan tepukan pelan di pipinya.

"Buka matamu, apa aku cium sampai susah bernafas." Marco tidak yakin Kia pingsan karena cengkramannya juga tidak kuat, tidak mungkin wanita itu pingsan hanya karena hanya ia pegang lehernya.

Marco yang melihat Kia diam masih tetap tidak ada gerakan sama sekali membuatnya langsung melakukan hal yang ia yakin bisa membuat Kia bangun. Marco membawa Kia ke atas pangkuannya. Lalu ia peluk dengan pelan dan didekatkan wajah Kia ke depan wajahnya, Marco langsung mendaratkan bibirnya ke atas bibir lembab itu.

Kia sendiri berusaha menahan diri agar tidak bergerak sama sekali, ia berusaha tidak merespon apa yang dilakukan oleh Marco. Ia bahkan sampai meremas pelan gaun bawahnya saat tangan Marco malah meremas bagian pribadinya. Ia berusaha untuk tetap tenang, hanya saja tangan dan bibir Marco benar-benar tidak sopan.

Marco dapat merasakan nafas Kia yang tidak beraturan, pertanda wanita itu benar-benar menipunya.

"Brengsek, lepas." Kia menolak wajah Marco menggunakan tangannya agar bisa melepaskan tautan bibir Marco yang terlalu menuntun.

Saat Marco berusaha menahan tubuh Kia yang hendak menjauh, Marco malah kembali  merasakan tamparan di pipinya. Entah sudah berapa kali wanita ini menamparnya. Bahkan wajah Kia tidak ada rasa bersalah sama sekali, wanita itu terlihat sangat berani. Biasanya Kia tidak pernah seberani ini. Marco menatap mata Kia yang tidak gentar sama sekali membalas tatapannya.

***

Target : 755 Vote + 160 komen (Komen nya selain next dung pengen tahu aja gtu gmn klian pas baca ) 😊

Dark Love Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang