Erhan sudah lama mengenal Marco tepatnya, dari dulu Marco pernah tersenyum dan bermain seperti anak-anak pada umumnya. Hanya saja saat semakin bertumbuh dewasa, sikap Marco mulai berubah. Marco yang ia kenal semakin lama semakin menghilang. Sifat pria itu semakin berbeda apalagi sejak mamanya meninggal. Erhan merasa tidak pernah membuat salah tapi Marco seperti menjaga jarak dengannya.
"Kenapa kau kasihan dengan orang yang tidak ada pengaruh dalam hidupmu." Perkataan Jack membuat Givano langsung sadar dari lamunannya.
Jack sendiri berada di lingkaran setan ini karena memang sudah menjadi turun temurun di keluarganya. Sebelum dirinya, orangtuanya sudah lama menjadi pembunuh bayaran. Jadi Jack sendiri sudah diajarkan untuk tidak memiliki perasaan atau peduli dengan orang lain.
"Kau tidak tahu itu istri Marco?" tanya Erhan pelan, ia menatap Jack yang wajahnya cukup terkejut. Erhan sendiri tahu jika Jack itu berdarah dingin hingga tidak peduli dengan apa yang ada di dunia ini. Tapi tidak mengetahui siapa gambar wanita yang memenuhi ruangan ini adalah lelucon. Bagaimana bisa dia tidak penasaran dengan siapa wanita itu.
"Tidak tahu, lalu, mengapa Marco tidak marah dengan Givano yang menempel gambar wajah istrinya sebanyak ini. Bahkan aku pernah tidak sengaja mendengar Givano mendesah menyebut nama Kia di dalam kamar mandi, aku rasa dia main sendiri sambil membayangkan wajah perempuan itu."
Erhan terkekeh pelan melihat Jack yang sekarang sangat tertarik dengan pembahasaan mereka saat ini. "Givano obsesi dengan Kia, aku tidak akan bisa yakin itu cinta karena dia mengarah seperti orang yang dendam karena tidak mendapatkan wanita yang ia inginkan atau bisa kita bilang obsesi yang menjadi benci."
Jack terlihat masih melamun sambil memperhatikan Givano yang mengelus foto Kia yang berada di bingkai besar. Jack memang pernah mengakui kecantikan wanita itu, awalnya Jack tidak ambil pusing karena ia rasa orang yang bekerja seperti mereka ini memang punyai kelainan semua. "Apa Marco pernah memasuki ruangan ini?"
"Aku rasa pernah saat dia belum menikahi Kia, sampai sekarang Givano tidak membiarkan Marco masuk ke sini. Dan anehnya dia membiarkan kita masuk."
"Lalu apa maksudnya dengan Marco yang menikahi Kia? Apa karena itu Givano membenci Marco?" Tidak akan ada yang bisa mengelak bahwa Givano membenci Marco, karena beberapa kali Jack mendengar Givano mengumpat Marco saat pria itu tidak berada di sini.
"Aku juga tidak tahu dengan jelas, kamu tahu sendiri sebelumnya aku sudah mengenal mereka sebelum aku terjun ke dunia haram ini. Pada masa dulu aku bahkan tidak tahu jika Marco dan Givano punya ikatan darah." Sebenarnya Erhan juga tidak yakin Givano yang sekarang itu sama dengan Givano yang dulu ia kenal. Tapi setelah tahu pria itu melakukan operasi, Erhan hanya bisa kaget beberapa saat. Givano yang dulu itu sangat culun, ia bisa melihat sendiri saat itu Givano juga tidak mempunyai teman.
"Kisah yang rumit tapi sangat menarik," ucap Jack pelan sambil tertawa pelan. "Jadi Marco tidak mencintai Kia?"
Erhan terdiam beberapa saat hingga tidak lama Givano ikut duduk bersama mereka. "Sepertinya sangat menarik yang kalian bicarakan, terlihat sangat damai dengan suara pelan kalian itu," ujar Givano yang membuat Erhan sedikit terkejut karena tidak mendengar langkah kaki Givano yang melangkah ke sini.
"Hanya membicarakan gambar itu," jawab Jack sambil menunjuk gambar besar yang menampilkan wajah Kia.
Sungguh mulut yang membuat Erhan menahan nafas beberapa saat, ia menatap Jack dengan tatapan kesal apa dia gila sampai mengaku apa yang barusan mereka bahas.
"Wah pembahasan yang sangat menarik," sambung Givano lagi. "Apa kalian sangat penasaran dengan wanita itu? Dia wanita yang baik hanya saja dia menolakku. Aku gila rasanya saat dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Marco. Dan kalian tahu sekarang? Aku ingin menjilat darahnya. Tapi menunggu wanita itu melahirkan sangat lama."
"Lalu apa yang kau lakukan setelah dia melahirkan?" tanya Jack lagi yang membuat Erhan menutup mata frustasi.
Erhan salah orang, ia lupa bahwa memang orang yang bekerja di sini semua adalah orang gila. Ia tebak sebentar lagi ia juga akan ikut gila. Bisa-bisanya Jack bertanya tentang hal itu lebih lanjut, memang berbeda dengannya Jack lebih berani.
"Apa kau tidak tahu malu bertanya?" tanya Givano pelan.
Jack terlihat santai sambil menghisap rokoknya kembali dan menghembuskannya tepat ke arah Erhan. "Hal menarik akan sia-sia tidak ditanya."
Jack tersenyum miring menatap Erhan yang terdiam, ia sendiri tidak takut dengan Givano. Karena pria itu tidak bisa membunuhnya, lain dengan Erhan yang bisa kapan saja mereka bunuh. Givano akan terkena masalah jika macam-macam dengannya, karena ayahnya itu kepercayaan pemimpin Balvc sebelumnya tepatnya kakek Givano.
"Bukan urusanmu! Tapi tunggu saja kau juga akan tahu nantinya. Ulat yang di sampingku juga akan tahu."
Tentu saja Erhan tahu maksud ulat yang dimaksudkan oleh Givano adalah dirinya. Ia memilih beranjak bangun, ia memilih keluar dari ruangan yang tiba-tiba terasa panas. Lebih baik ia menemui pacar-pacarnya dari pada duduk bersama pria-pria gila.
Kepergian Erhan tidak membuat Jack berhenti penasaran. "Bagaimana wanita itu bisa membuatmu jatuh hati?"
Givano terlihat melamun sebentar, ia menghela nafas pelan seperti ada hal berat yang sedang ia pikirkan. "Dia memberiku roti." Givano kembali mengenang pada masa lalu.
Pagi itu Givano duduk sendirian di taman belakang kampus. Ia sengaja cepat pergi karena tidak sanggup mendengar keributan di rumahnya. Selama ini, Givano baru sadar bahwa ibunya adalah simpanan ayahnya. Tapi Givano juga tidak tahu mengapa dia tiba-tiba dibawa ke sebuah rumah yang sangat besar. Hingga semuanya terbongkar dan ternyata ia juga memiliki saudara tiri.
Karena perut yang lapar, Givano mengelus perutnya pelan. Dia juga tidak berani makan karena dirumah ada saudara tirinya. Saudara tirinya itu menatap tidak suka ke arahnya. Saat ayahnya membawa ia dan ibunya ke rumah, tidak ada ibu Marco di sana. Dan setelahnya Givano tahu jika ibu Marco sudah lama meninggal. Keributan yang selama ini terjadi di rumah adalah ulah Marco yang selalu membully ibunya dan dirinya.
Kadang Marco akan membuat ulah dengan membuat ibunya menangis dan terkadang membuat Givano sebagai babunya. Tapi ayahnya tidak pernah membela dirinya dan ibunya, pria itu membiarkan Marco berbuat sesukanya.
"Aku sudah kenyang, apa kau mau?"
Givano tersadar dari lamunannya ia mengangkat kepala agar melihat siapa yang mengajaknya bicara dan wajah yang sedang menyodorkan roti ke arahnya sangat bersinar dan juga cantik. Tidak biasanya ada yang mengajaknya bicara.
"Mau." Givano mengambil roti coklat itu dan mengucapkan terima kasih. Setelahnya wanita itu pergi dari hadapannya.
Sejak saat itu Givano terus berusaha untuk mendekati Kia tapi ternyata Kia malah menyukai Marco. Hal itu membuat Givano sangat sakit hati. Ia takut Kia malah dimiliki oleh Marco, sehingga setelah sebulan kejadian pemberian roti. Givano langsung menyatakan rasa suka pada Kia.
"Kia mau nggak kamu jadi pacar aku?" tanya Givano pelan, mereka saat ini berada di perpustakaan. Tempat mereka berdiri saat ini lumayan sepi berada di belakang lemari buku.
***
Target : 1.000 Vote + 150 komen + 10 Followers baru hehe 😊 ayoo biar penulis semangat 😊
Buat yang ga sabar menunggu bab selanjutnya wa ke nomor ini 0838‑6394‑7842
(Bab 18 sampai bab 26 cuman 15k)
(Bab 18 sampai bab 29 cumn 20k)
Mau request bab bisa ya, misal sebelumnya udah beli sampai bab 20 bisa lanjut ke bab 21
Spam next di sini ~
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark Love
RomanceSebuah pernikahan yang menyiksa bagi Kia, ia harus menikahi pria paling mengerikan yang pernah ia jumpai. Marco benar-benar pria yang tidak ada belas kasihan, dia bisa membunuh istrinya sendiri demi keinginannya sendiri, hal yang paling menyakitkan...
