"Pacar? Kamu suka sama aku?" tanya Kia balik yang tentu terkejut dengan pernyataan suka Givano yang terlalu mendadak. Awalnya Kia memang sempat curiga karena Givano terus mengikutinya, hanya saja ia pikir karena Givano mau mengajaknya berteman.
"Iya, apa kamu mau?" tanya Givano lagi, ia menatap ke arah Kia dengan penuh harap.
"Maaf banget Givano, aku belum bisa nerima perasaan kamu. Aku yakin nanti akan ada orang yang tepat untukmu," jawab Kia dengan suara pelan karena mereka berada di perpustakaan.
"Kenapa? Karena Marco? Pria itu gila Kia, dia itu penjahat asal kamu tahu."
Kia sedikit terkejut dengan Givano yang tiba-tiba marah-marah yang membuat beberapa pasang mata melihat ke arah mereka.
"Jangan keras-keras nanti orang dengar," balas Kia mencoba membuat Givano tenang, ia malu menjadi pusat perhatian.
"Malu kamu kalau orang jelek kayak aku ngomong sama kamu."
"Bukan gitu maksudnya Givano, tapi beberapa orang menatap kita apalagi ini di perpustakaan. Lalu dari mana kamu tahu aku suka sama Marco? Kamu kenal sama Marco, kalian dekat?"
"Penasaran kamu sama iblis itu?" tanya Givano lagi yang kesal dengan Kia yang malah penasaran dengan Marco.
"Jangan ngomong gitu, memang kalian dekat sampai kamu ngatain orang kayak gitu."
Tidak lama, sebuah kertas yang berbentuk bulatan mengenai kepala Givano.
"Wajarlah Kia suka sama Marco, suka sama orang culun sepertimu? Apalagi Kia itu salah satu cewek cantik di kampus kita. Mana mau dia sama buruk rupa."
Givano berbalik ia tidak dapat menahan rasa kesal nya saat pria dibelakangnya tiba-tiba menghina dirinya. Saat Givano hendak meninju orang itu, tiba-tiba kedua tangannya ditahan oleh dua orang. Dan setelahnya beberapa orang juga kembali menatap remeh ke arahnya dan pria yang mengejeknya tadi semakin melempar barang ke arahnya seperti buku dan pulpen.
"Udah Zein, untuk apa diurusin pria culun yang tidak sadar diri itu."
Givano menatap ke arah wanita bertato di samping Zein yang selama ini suka membullynya. Hanya saja selama ini Givano menahan diri karena ia pikir dia tidak bisa memukul wanita. Tidak lama seorang penjaga pustaka menghentikan keributan yang terjadi. Sebelum pergi, Givano kembali menghampiri Kia.
"Aku akan membantumu bersatu dengan Marco, tapi imbalannya adalah nyawamu."
Kia kebingungan, ia tidak mengerti maksud dari perkataan Givano.
"Kia, ngapain melamun, ayo kita ke kantin saja. Tidak usah pikiran Givano yang tidak jelas itu." Cassie menarik tangan Kia membawanya keluar dari perpustakaan ini.
***
Setelah tiba di rumah sakit Marco langsung menyerahkan Kia pada pihak rumah sakit. Kepalanya tiba-tiba pusing, saat ini Marco seperti berpikir berulang kali. Apa tadi malam ia terlalu kasar atau sangat berlebihan. Tapi seharusnya ia tahu, hal itu seharusnya tidak perlu ia pikirkan bukan. Mau dia mati di dalam ruangan itu, seharusnya Marco tidak perlu berlebihan. Jika dia keguguran juga Marco bisa membuatnya lagi, jadi kenapa ia harus pusing.
"Sial!" Marco mengumpat untuk dirinya sendiri saat ia tidak bisa mengendalikan pikirannya. Bukannya bisa lebih tenang, Marco malah berjalan menuju pintu rumah sakit, ia melihat tubuh Kia yang terbujur kaku di ranjang rumah sakit.
Marco ingin pergi tidak ingin menunggu Kia hanya saja ia seakan sulit untuk sekedar pergi dari sini. Setelah beberapa menit dokter yang memeriksa Kia keluar dari ruangan pemeriksaan. Dan mengajaknya untuk duduk di ruangan dokter.
"Kondisi pasien akan semakin memburuk jika begini terus, bukan hanya pada janin tapi pada ibunya juga. Pendarahan yang terjadi juga membuat kondisi semakin memburuk. Dan ini juga bukan pertama kalinya, pasien harus dirawat seperti ini." Dokter yang bernama Aleix itu mencoba menjelaskan kepada wali pasiennya saat ini. Ia mencoba untuk tetap profesional dan tidak ikut emosi saat melihat bagaimana keadaan pasiennya tadi. Suster tadi melaporkan bahwa tubuh pasiennya sangat banyak kissmark dan beberapa lecet di bagian tubuhnya.
"Lalu? langsung ke inti saja, bagaimana keadaan dia?" tanya Marco yang tidak suka melihat orang di depannya yang terlalu banyak bicara.
Aleix mencoba menahan emosi saat ini, ia sendiri tahu siapa yang berada di depannya saat ini. Pria yang bernama Marco ini memang terkenal dengan sikap tidak ada sopan santun.
"Mereka berdua selamat, tapi kondisinya sangat lemah. Harus melakukan perawatan beberapa hari. Dan setelah ini kalian tidak bisa dulu melakukan hubungan suami istri dan tentunya jauhkan pasien dari hal yang membebankan pikirannya."
Marco mencoba mendalami hasil pemeriksaan Kia. "Berapa lama hingga aku bisa menyentuhnya?"
"Dua bulan."
"Lama ternyata," balas Marco pelan sambil menatap ke arah dokter yang terlihat tidak suka dengannya dari raut wajahnya.
"Dan jauhkan dulu pasien dari hal yang memberatkan pikirannya," lanjut Aleix lagi, ia rasa keselamatan janin pasiennya juga tadi seperti keajaiban. Biasanya jika sudah mengalami pendarahan seperti ini diusia kehamilan trimester pertama apalagi sebelumnya sudah pernah dirawat maka tidak akan selamat. Tapi keduanya tadi sangat kuat.
"Beban pikirannya? Ada di saya, jadi saya yang harus menjauh?" Pertanyaan Marco cukup membuat Aleix terdiam, wanita berusia empat puluh tahun itu tidak habis pikir bahwa penyebab istrinya sendiri dalam keadaan seperti tadi adalah suaminya sendiri. Tidak melihat Aleix menjawab, Marco berjalan meninggalkan ruangan ini dan menuju kamar pasien yang ditempati oleh Kia.
"Bangun." Marco mencoba membangunkan Kia dengan menggerakkan bahunya pelan. Dan benar setelahnya Kia membuka matanya, Kia menatap Marco dengan pandangan kosong.
"Aku akan pergi selama dua bulan, karena berusaha tidak menyentuhmu selama dua bulan sangat menyiksa apalagi saat kamu berada didekatku. Maka nikmati hari kesendirianmu." Setelah itu Marco pergi meninggalkan ruangan Kia.
Kia sendiri masih mencoba untuk mendalami perkataan Marco berusaha, karena efek dari perawatan dokter tadi. Kia masih mengantuk dan memilih untuk melanjutkan tidurnya.
Sudah tiga hari Kia berada di rumah sakit, keadaannya juga sudah lebih membaik dan seperti biasa pelaku yang membuatnya kesakitan tidak berada di sini. Benar-benar pria tidak punya tanggung jawab, dan apa pria itu bilang pergi dua bulan? Kalau bisa pergi seumur hidup, kalau bisa meninggal saja.
"Marco brengsek!"
"Mama apa itu brengsek?" tanya Vina yang duduk dengan raut wajah imutnya, anaknya itu bertanya santai sambil makan buah naga.
Kia membulatkan matanya saat lupa bahwa Vina masih berada di rumah sakit. Tadi pagi Vina datang bersama dengan Mina, pengasuhnya. Dan Kia yang terlalu membatin benci pada Marco sampai bisa lupa jika harus menjaga kata-kata karena anaknya di sini. Mina sendiri hanya bisa tersenyum canggung menatap Kia bertanda tidak bisa membantu banyak.
"Bukan gitu sayang, maksudnya itu Marco ganteng," lanjut Kia berharap Vina mengerti dan tidak lanjut bertanya karena Kia sendiri bingung harus menjawab apa jika Vina terus bertanya.
Tidak lama pintu ruang rawatnya kembali terbuka dan ternyata Marco yang masuk ke dalam ruangan. Kia sedikit terkejut bukannya pria itu yang mengatakan akan pergi selama dua bulan, mengapa sekarang berada di sini.
"Papa brengsek," seru Vina sangat semangat dan melempar buah naga naga yang ia pegang sembarangan arah untuk bisa segera menuju Papanya. Vina berlari pelan menuju Marco dan memeluk kaki panjang Papanya.
***
Satu kata untuk Marco?
Kenapa followers aku nurun 😩 bantu follow guyss 🥰
Buat yang ga sabar menunggu bab selanjutnya wa ke nomor ini 0838‑6394‑7842
(Bab 19 sampai bab 27 cuman 15k)
(Bab 19 sampai bab 29 cumn 20k)
Mau request bab bisa juga ya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark Love
RomanceSebuah pernikahan yang menyiksa bagi Kia, ia harus menikahi pria paling mengerikan yang pernah ia jumpai. Marco benar-benar pria yang tidak ada belas kasihan, dia bisa membunuh istrinya sendiri demi keinginannya sendiri, hal yang paling menyakitkan...
