Marco yang sudah tidak bisa menahan diri langsung menerkam kemeja bagian atas Givano. Ia bahkan menekan leher pria di hadapannya tidak main-main.
"Apa kau tidak sanggup melakukannya? Apa seorang Marco sudah selemah ini hanya karena wanita?" tanya Givano dengan wajah kagetnya, ia terkejut dengan serangan Marco yang terlalu mendadak.
"Berhenti berbicara!" Marco tidak sanggup, berulang kali ia mencoba tenang dan mengatakan bahwa ia tidak perlu berlebihan seperti ini, tapi setiap bait kata yang dikeluarkan oleh mulut Givano membuat Marco merasa harus mati jika hanya diam saja.
"Apa dia sudah bisa merebut hati seorang mafia kejam? Ingat dia itu hanya wanita lemah yang tidak menguntungkan. Kita harus tetap melakukan penyiksaan pada wanita itu, itulah kenikmatan yang kita tunggu-tunggu. Tapi aku ingin memakainya sekali sebelum dia mati."
Tidak ada yang bisa membuat Marco tenang, setiap kata dari Givano membuat ia tidak tahan untuk setidaknya tidak mengambil pajangan yang terbuat dari kayu keras dan melemparkannya ke arah Givano.
Langsung saja Marco mengambil benda itu dan hendak melempar barang itu ke arah kepala Givano, tapi pria yang menjadi sumber amarah Marco itu, menyepak dada Marco hingga Givano bisa menghindar dari serangan Marco.
"Wow, memang benar Kia sangat menarik bukan? Sampai kau gila seperti ini!"
Marco hanya menatap Givano dengan nafas tidak beraturan, keinginannya ingin membunuh Givano sangat besar. Marco berjalan dengan cepat agar semakin dekat dengan Givano, pria itu sendiri berlari menyelamatkan diri dan juga mengambil sebuah pantung besi di atas meja dan melemparkannya ke arah Marco. Tidak gentar sama sekali, Marco bisa menghindari serangan itu.
Mereka berdua saling melempar dengan Givano yang terus lari berlari untuk menuju pintu keluar, tetapi Marco lebih dulu berlari ke pintu. Saat mereka cukup dekat Marco memukul belakang kepala Givano dengan kepalan tangannya.
Givano mundur beberapa langkah, hendak menghindar dan mencoba menahan kesadarannya. Hanya sekali pukulan tapi benar-benar membuatnya terasa seperti sekarat.
Givano yang tidak terima mencoba membalas Marco dengan mengeluarkan ilmu bela dirinya yang ia tekuni beberapa tahun ini. Hingga mereka terjadi saling menyerang. Saling melempar hingga ruangan Givano sendiri sudah tidak terbentuk dan berantakan.
"Berhenti!" Seru Givano saat ia terkapar di lantai dengan wajah penuh luka. Tidak berbeda dengan Marco yang juga terluka walaupun tidak separah Givano.
"Berhenti kau bilang? Aku bahkan ingin menjahit mulutmu agar tidak bisa lagi bicara," lanjut Marco menatap geram ke arah Givano.
Saat Marco terlihat lengah dan menatap ke arah lain, Givano hendak melemparkan vas bunga ke kepala Marco. Tidak semudah yang dibayangkan oleh Givano, pria yang hendak ia serang tahu pergerakannya, Tidak tinggal diam, Marco menarik vas bunga itu dari tangan Givano dan berbalik melempar dengan keras ke belakang kepala Givano.
Givano benar-benar terkapar tidak berdaya, pria itu membuka matanya ke atas dengan menahan rasa perih di belakang kepalanya. Darah terus keluar dari kepalanya yang terluka, Givano menatap benci ke arah Marco. Pria yang sedari dulu berusaha Givano kalahkan.
"Batalkan janji itu! Jangan pernah kau menemui Kia jika kau tidak mau aku melempar semua barang yang ada di ruangan ini ke atas tubuhmu. Dan ingat tanpa bantuan mu pun, aku bisa mengambil kekuasaan Balvc," ucap Marco dengan nada suara yang keras.
Marco tertawa dibuat-buat untuk membuat Givano semakin kesal, ia menatap remeh ke arah Givano. Pria yang sampai matipun Marco yakini tidak akan bisa melawannya.
"Kau sedari awal hanya anak haram dengan Ibu penggodamu itu, jadi sadarlah!" Marco kembali mengeluarkan kata-kata menusuknya. "Ibumu hanya wanita jalang, yang berani menetap di rumah Ibuku."
Givano tidak bisa menjawab setiap hinaan itu, karena ia berusaha untuk mempertahankan diri agar tidak menutup mata.
Sebelum pergi, Marco lebih dahulu menekan tangan Givano dengan kakinya. Givano meringis pelan. "Besok-besok menurutlah dengan Abangmu ini," ucap Marco sambil mengejek saat menyebut dirinya sendiri sebagai Abang. "Jangan bermimpi bisa mengalahkanku."
Tidak mau membuang waktu lagi, Marco berbalik hendak keluar dari ruangan ini. Saat keluar dari pintu, ternyata ada beberapa orang yang terlihat berdiri di depan ruangan Givano sekitaran sepuluh orang. Apa suara bertengkar mereka sekeras itu hingga mereka semua berdiri dengan raut penasaran.
"Menunggu apa? Adiku itu mau mati sebentar lagi!" ucap Marco pelan sambil menikmati wajah bawahannya yang menunduk ketakutan. Bahkan setelah mengatakan hal itu tidak ada yang berani masuk ke ruangan Givano untuk membantu pria itu.
Marco kembali melanjutkan langkahnya, setelah melewati mereka semua barulah orang yang di luar memasuki ruangan Givano. Saat hendak ke parkiran kakinya terasa letih, dan jatuh terduduk. Marco mengelus dadanya yang tadi diterjang oleh kaki Givano. Ia juga memegang perut yang ditusuk kemarin dan ternyata kembali berdarah.
Memang Marco akui pria yang dulunya sering dibully orang lain itu sudah mempunyai tenaga lebih dengan usaha pria itu melakukan olahraga dan melakukan latihan. Sebenarnya, Marco tadi akan lebih cepat mengalahkan Givano andai saja perutnya tidak kesakitan saat Givano memukul bagian perutnya.
"Pak, apa ada yang bisa dibantu?"
Marco mengangkat kepalanya melihat karyawan wanita dan beberapa orang di belakang wanita itu menatap dirinya dengan tatapan segan. Marco menggeleng pelan dan langsung berusaha bangun sendiri dan berjalan sendiri.
Karena lukanya, Marco tidak bisa membawa mobil dan memilih menaiki taxi. Butuh waktu selama sepuluh menit hingga Marco bisa sampai ke rumahnya, hanya saja Marco rasanya sangat malas untuk melewati taman rumahnya yang sangat panjang hingga Marco merasakan tepukan di pundaknya.
"Ngapain?" tanya Marco heran melihat keberadaan Jack, anggora Balvc.
"Aku mau membahas tentang menyerahnya gangster Zixin." Marco mengangguk paham, ia ingat tentang perlawanan mereka hingga bisa mendapatkan ratusan senjata klasik.
"Yasudah, bagus," jawab Marco.
"Kau seperti kesusahan, mau aku bantu?" tanya Jack yang melihat Marco tadi berjalan terlalu lambat.
Marco sebenarnya tidak mau dibantu, hanya saja tangan Jack malah langsung meletakkannya ke pundaknya dan membantu Marco berjalan. "Mau ku antar ke rumah sakit?"
Marco menatap jijik ke arah Jack. "Kenapa kau jadi sok akrab, kita tidak akrab," jawab Marco membuat Jack langsung menutup mulutnya dengan rapat, hingga setelahnya hanya keheningan yang menyapa mereka berdua.
Kia yang sejak tadi berdiri di depan kaca dari lantai satu bisa melihat Marco yang terlihat kesusahan berjalan dan perut pria itu yang berdarah, Kia mengepalkan tangannya erat. Ia benci dengan keinginan mendekat ke arah Marco dan membantu pria itu. Ia menutup jendela kamar dengan rapat dan kembali ke atas kasur dan langsung merebahkan diri. Kia memaksa matanya agar tertutup, ia benar-benar ingin melupakan semuanya walaupun hanya sebentar.
***
Selama dua hari ini, Marco benar-benar tidak keluar dari kamar yang berada di ujung lantai dua. Bukan di kamarnya biasa yang berada di lantai tiga, ia sudah bertanya pada orang suruhannya dan nyatanya memang Kia juga tidak pernah kembali ke kamar mereka. Marco sendiri juga tidak ada niatan ke sana. Selama di kamar ini, Marco juga bekerja hanya dengan laptop dan handphone nya saja.
Ponsel Marco berdering, ia memperbaiki posisi duduknya yang tadi sedikit miring dan melihat ke layar ponselnya dengan malas. Gorzen sangat jarang menghubunginya begini, ini semua pasti karena Givano.
"Di mana kamu? Kenapa tidak pernah pulang?"
Gorzen membuka pembicaraan dengan nada yang cukup pelan, padahal Marco kira pria itu akan membentaknya perihal Givano. Marco tersenyum pelan saat ingat bahwa Gorzen memang berubah menjadi lebih tenang tidak kasar lagi setelah kematian ibunya.
Marco pernah mengira Gorzen sepenuhnya bertobat karena Gorzen juga berhenti dari organisasi gelap yang membuat kakeknya sangat marah pada saat itu. Nyatanya, Setelah kematian Ibunya, pria itu membawa pulang selingkuhannya.
"Tumben menanyai pulang? Aku memang tidak pernah pulang selama ini," jawab Marco cukup santai karena ia tahu maksud Gorzen menghubunginya bukan hanya sekedar pulang.
***
Gimana ni pendapat kalian tentang marco dan givano? 😅
Ayoooo semua di voteee dan komen jgn lupa meninggalkan jejak .
Buat yang ga sabar menunggu bab selanjutnya wa ke nomor ini 0838‑6394‑7842
Bab 29 sampai bab 36 cuman 15k
Bab 29 sampai bab 39 cuman 20k
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark Love
RomanceSebuah pernikahan yang menyiksa bagi Kia, ia harus menikahi pria paling mengerikan yang pernah ia jumpai. Marco benar-benar pria yang tidak ada belas kasihan, dia bisa membunuh istrinya sendiri demi keinginannya sendiri, hal yang paling menyakitkan...
