Marco melangkahkan kakinya dengan cepat mengikuti langkah Kia yang juga semakin cepat berlari. Apa yang sebenarnya membuat Kia berlari secepat itu? Wanita itu benar-benar wanita itu berjalan ke arah yang sangat berbahaya, jika sampai Kia melewati batas kuning yang dibuat oleh rekannya dengan tali kecil yang di ujung meja sebagai pembatas maka efeknya ledakan bisa mengenai wanita itu.
Marco semakin mempercepat larinya, bahkan ia menggeser sembarangan orang yang menghalangi langkahnya, saat sudah akan mencapai tubuh Kia ia tampa berpikir dua kali menarik baju Kia hingga baju wanita itu sedikit robek hal itu membuat langkah kaki Kia terhenti.
Kia juga terkejut dengan suara robekan dari bajunya. Ia bisa melihat tangan yang berurat itu menarik Kia agar semakin dekat ke arahnya. Bahkan ia seperti ditarik paksa untuk mengikuti langkahnya.
Kia terkejut. Ia menatap Marco dengan mata melotot kaget. "Gila kamu!" Kia berusaha menutupi bahunya, ia kaget dengan tenaga yang dikeluarkan Marco sangat berlebihan, sepertinya bahunya juga sedikit tergores oleh ujung baju.
"Kamu yang gila? Ayo pergi dari sini tidak ada waktu untuk bicara!" Kali ini Marco menaruh tangannya di pinggang Kia yang tidak terima ia pegang tangannya. "Kenapa kamu liar sekali? Bisa tidak untuk menurut!" Marco sudah habis kesabaran, ia bahkan berteriak di sekumpulan orang yang menatap keduanya dengan penasaran.
"Lepasin!" Kia melihat ke arah depan kembali, Herza semakin terlihat jauh hal itu membuat Kia semakin panik. Kia bahkan memukul tubuh Marco dengan keras ia bahkan menggigit bahu Marco hingga pria itu sedikit bisa menjauhkan lengannya.
Hal itu membuat Marco tentu saja sedikit terkejut dengan gigitan Kia yang terlalu kuat. Bahkan saat ia akan menahan tubuh Kia lagi, wanita itu menamparnya dengan sangat kuat. Marco memegang pipinya yang memerah dan bibirnya sedikit berdarah. Apa yang sudah sebenarnya terjadi, Marco ikut melihat ke depan untuk melihat apa yang dikejar oleh Kia. Ditempat ini sangat ramai dan Marco sendiri tidak tau apa yang diingin didapatkan oleh Kia.
Walaupun sedikit terkejut dengan kekerasan yang tiba-tiba dilakukan oleh Kia, tetap saja Marco harus bisa berpikir jernih saat ini. Marco melihat ke arah jam yang waktunya tidak akan bisa berhenti, ia langsung mengangkat tubuh Kia ke dalam gendongannya walaupun terus memberontak. Marco tetap memaksa membawa Kia, ia berjalan dengan langkah lebar bahkan sedikit berlari.
'Dalam 5 detik bom itu akan meledak'
Suara pemberitahuan terdengar di telinga Marco dari earphone yang digunakan, tidak ada waktu untuk setidaknya keluar dari ruangan ini. ia memperkirakan tempat dimana bom itu akan menjadi ledakkan yang besar jadi ia memilih menjauh ke arah kanan. Awalnya Marco ingin membanting tubuh Kia, saat sadar wanita itu hamil, Marco meletakkan tubuh Kia dengan pelan ke atas lantai, lalu ia menyusul menutupi tubuh wanita itu dengan tubuh besarnya.
"Diam, akan ada bom yang meledak."
Kia yang awalnya masih setia memukul tubuh Marco langsung terdiam dan membeku. Ia yang terlalu memikirkan Herza langsung teringat dengan ledakkan yang akan terjadi. Kia memeluk tubuh Marco dengan erat, ia ketakutan dengan suara yang besar itu. Tidak lama suara ledakkan serta teriakan orang-orang terdengar.
Marco dapat merasakan bahwa ada hawa api di punggungnya, ia meringis pelan saat terasa sedikit terbakar di belakang tubuhnya. Ia memilih duduk sebentar sambil membuka jasnya yang ternyata sudah ada percikan api dan membuang jas itu kesembarangan arah. Ia menatap ke arah Kia yang sudah berbaring kaku tidak bergerak sama sekali.
Marco memperhatikan semua tempat yang sudah sangat kacau, ada yang berlari dengan panik dan ada yang sudah jatuh tidak berdaya di atas lantai. Dan Marco melihat ke arah targetnya yang terlihat terbakar dan beberapa orang mencoba untuk memadamkan api yang terus menyala.
"Memang memilih lawan yang salah," guman Marco sambil tersenyum miring. Dia kembali melihat ke arah wanita yang sejak awal sudah membuatnya pusing dan sekarang semakin membuatnya pusing saat melihat Kia malah menangis terisak-isak dan sedikit berteriak. Padahal Kia tidak terluka sama sekali.
"Huaa kenapa hidupku tidak pernah berubah!" Kia terus menangis sambil menjerit dia bahkan memukul-mukul lantai sembarangan arah mirip seperti Vina jika tidak mendapatkan apa yang diinginkan.
"Kemana sikap liarmu itu? Mengapa sekarang menangis?"
Kia membuka matanya dan semakin menangis histeris saat wajah Marco sekarang terpampang nyata di depannya. Ia tidak bisa menahan air mata yang terus menetes dari matanya.
"Diam atau aku lempar ke dalam api itu!"
Peringatan dari Marco membuat Kia benar-benar menjadi diam, ia mengigit bibirnya menahan suara tangisannya.
"Bangun!" lanjut Marco lagi yang sudah berdiri, pria itu bahkan tidak berniat membantu Kia duduk.
Kia sendiri tidak berniat untuk bangun hingga Marco kembali menghela napas lelah melihat Kia yang sangat menyebalkan, ia kembali menunduk untuk membangunkan Kia agar duduk dengan benar dan mengusap rambut wanita itu yang berantakan.
"Berhenti menangis! Malu di lihat orang!" Marco mengusap air mata di wajah Kia, bukan dengan cara halus seperti drama yang sering ia nonton. Tapi wajahnya di usap dengan sedikit kasar menggunakan tangan besar Marco yang ukurannya sama dengan ukuran wajah Kia dari dahi hingga dagu. Tubuhnya juga diangkat kembali oleh Marco dan dibawa keluar menuju mobil.
"Bawa dia pulang." Perintah Marco pada Mandar, langsung saja supir itu membuka pintu mobil, Marco juga langsung membawa masuk Kia. Ia melihat baju Kia yang makin melorot akibat robekan tadi, ia menutupi dada Kia menggunakan tangannya. Kia yang melihat tangan Marco yang tidak sopan hendak menariknya, malu jika Mandar melihatnya.
Marco melihat ke arah supir di mana pria itu sudah duduk dikursi pengemudi dengan pandangan ke arah jendela mobil.
"Apa kau melihat sesuatu?" tanya Marco dengan nada tekanan disetiap bait katanya. Tutup matamu," sambung Marco lagi.
"Tidak tuan saja melihat ke arah keluar," jawab Mandar dengan cepat, ia melirik ke bosnya saja tidak berani jika terlalu lama. Ia mengikuti arahan Marco untuk menutup matanya.
Mandar sendiri tahu jika membuat kesalahan maka hukumannya yang ia dapatkan tidak akan main-main. Dulu pernah rekan kerjanya membuat kesalahan tapi hingga sekarang Mandar tidak pernah lagi melihat rekan kerjanya itu. Bekerja dengan Marco memang menghasilkan uang yang cukup banyak walaupun dirinya hanya supir hingga ia bisa menyekolahkan anaknya di sekolah terbagus di kotanya. Tapi Marco tidak menerima sama sekali kesalahan.
"Bawa pulang wanita pembangkang ini," ujar Marco lagi.
Marco menarik baju Kia dengan gerakan yang terlalu cepat dan kasar agar lebih ke atas hingga bisa menutupi dada Kia, tapi bukannya semakin membaik tapi malah semakin rusak dibagian belakang tubuhnya. "Marco apa yang kau lakukan!" Kia berteriak marah ia bahkan ingin kembali memukul tubuh Marco dengan keras. Bajunya tidak bisa ditarik sembarangan, karena modelnya memang menatap dan sudah sangat pas di tubuhnya. Mengapa pria yang sialnya sebagai suaminya itu semakin menguji kesabarannya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark Love
RomanceSebuah pernikahan yang menyiksa bagi Kia, ia harus menikahi pria paling mengerikan yang pernah ia jumpai. Marco benar-benar pria yang tidak ada belas kasihan, dia bisa membunuh istrinya sendiri demi keinginannya sendiri, hal yang paling menyakitkan...
