-45

304 35 8
                                        

"Ji, gue ikut ya ... kenapa sih Lo gak mau gue ikut!"

Jisoo menatap kakaknya yang merengek. "Kenapa kakak harus ikut coba? Yang diusir 'kan cuma aku."

"Bodo amat, gue mau ikut! Gue gak mungkin ngebiarin adek gue pergi sendiri! Emang Lo gak takut naik pesawat sendirian?!"

"Gak pa-pa, kak, gue bakal baik-baik aja. Siapa juga yang mau nyulik orang di bandara?"

"Tapi Lo gak pernah ke Makassar, Jisoo! Nanti kalo Lo kesasar gimana? Lo juga gak pernah naik pesawat sebelumnya."

"Kan bakal dijemput sama nenek, gak bakal kesasar kok. Yaudah ini jadi pengalaman pertama gue," balas Jisoo lalu kembali merapikan barangnya di koper kedua.

Yoona menghela nafas berat, ia memegang tangan Jisoo agar berhenti mengemasi pakaiannya. "Ji, jangan gini dong ... Lo mau ninggalin gue? Lo tega? Bertahan ya, gue udah semester empat, Lo juga udah mau naik kelas tiga, kita pergi sama-sama setelah kita lulus nanti."

Jisoo kembali menatap kakaknya jengah. "Gue udah gak bisa bertahan lagi, kak, kemarin-kemarin juga bertahan mulu. Kakak juga ngerasa 'kan? Bukan cuma hubungan orang tua dan anak yang renggang di sini, hubungan papa sama mama juga keliatan toxic."

Yoona menggeleng. "Toko Lo gimana, toko?! Lo mau berenti jual lukisan Lo? Mendadak gini? Lo gak mikirin teman-teman Lo?"

Jisoo terdiam. Ia belum mengabari kedua sahabatnya. Dan, Taehyung.

Jisoo menoleh ke samping, di mana ada buket besar di samping meja belajarnya.

"Gimana caranya gue bawa buket itu?" lirih Jisoo.

Yoona ikut menoleh. "Malah mikirin itu! Lo pikirin gimana supaya Lo gak jadi pergi!"

"Gue emang harus pergi, kak!" sentak Jisoo.

"Nggak, Jisoo, Lo jangan tinggalin gue! Gue bakal bujuk papa! Kalian cuma lagi dilanda emosi sesaat, nanti pasti papa nyesel sendiri kalo Lo tetep pergi!"

Jisoo menghela nafas.

"Tunggu di sini, berenti kemas barang-barang Lo!" Yoona beranjak.

"Udahlah, kak, gak ada gunanya Lo ngomong sama papa, papa gak bakal berubah pikiran!" Jisoo menatap kakaknya jengkel, ia merasa kakaknya tidak bisa mengerti kondisinya sekarang.

"Gue udah muak tinggal di sini! Gue udah capek cari perhatian sama mereka tapi gak pernah digubris! Gue capek cuma dimarahin aja tanpa dikasih bimbingan! Gue capek ngertiin keinginan mereka padahal mereka gak pernah mau ngertiin gue! Gue ngerasa perjuangan gue cukup sampai sini aja, gak ada faedahnya juga, gue gak dapet feedback sama sekali dari mereka, selain kemarahan."

"Lo enak disayang sama mereka, dapet perhatian sepenuhnya dari mereka, Lo minta ini itu pasti diturutin. So, ngapain kakak mau ikut gue, kakak dapat ngerasain keharmonisan keluarga yang gue impikan itu. Selain capek sama mama papa, gue juga udah capek iri terus sama Lo! Gue tau gue yang gak bersyukur masih dikasih uang jajan sama makan di sini, tapi-"

"Ah, capek ah, ngomong mulu gue dari tadi. Udah ya, kak, biarin gue pergi, gue bakal baik-baik aja!"

"Terus gue gimana, Ji? Gue bertahan tinggal sama mereka, buat Lo! Gue gak ngekos padahal kampus jauh banget dari rumah, karna Lo! Gue khawatir ninggalin Lo sendirian sama mereka, gue gak tega ninggalin adek gue sama orang tua gue sendiri! Ironis 'kan? Padahal itu orang tua kita, tapi kita mau pergi dari mereka."

Pergerakan Jisoo terhenti, ia terdiam kaku.

"Dan Lo bilang apa tadi? Gue disayang, gue diperhatiin, semua permintaan gue diturutin?"

Lovely \ VsooTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang