"Aku bilang gak usah ke kantor, mas!"
"Kenapa sih? Mas mau kerja!" Tristan menyentak tangan istrinya yang menghalanginya.
"Disaat kayak gini, kamu masih mikirin ke kantor? Anak kita ilang, mas, dua-duanya! Kamu masih punya hati gak sih?!" Suara Dara meninggi.
"Kayak kamu punya hati aja! Lagipula, mereka tuh cuma sembunyi, bukan hilang, paling nanti pulang sendiri." Tristan berucap dengan entengnya.
"Setidaknya kamu usaha cari mereka! Memangnya kamu gak merasa bersalah?!"
Dara menatap suaminya tajam. Dirinya sudah kepalang panik, khawatir, dan berlinang air mata, tetapi lelaki di hadapannya ini tak menunjukkan ekspresi apa pun.
"Untuk apa aku merasa bersalah, aku gak pernah melakukan kesalahan! Dengar ya, Dara, biarkan mereka bersembunyi. Kamu hanya perlu memanggilku ketika mereka sudah pulang, agar aku bisa menghukum anak-anak pembangkang itu!" Tristan menatap Dara penuh peringatan.
Dara melengos, pundaknya seketika luruh.
"Setidaknya, kamu bikin laporan ke polisi, mas." Dara masih berusaha membujuk suaminya.
"Untuk apa? Tidak akan diterima, Dara, karna belum dua puluh empat jam!" sela Tristan.
"Ya kamu usaha dong, mas! Cari bantuan orang lain kalo gak bisa ke polisi! Masa kita diam aja anak kita gak di rumah? Walaupun mereka emang lagi kabur, seharusnya kita tetep cariin mereka!"
"Ck, kenapa kamu jadi peduli sekali sekarang! Bukannya Dara yang dulu akan membiarkan anaknya pergi karna merasa mereka akan pulang sendiri nantinya!"
"Benar! Dara yang dulu akan tak acuh karena merasa anaknya tetap akan pulang! Tapi sekarang aku ngerasa sebaliknya, mas! Aku ngerasa mereka gak bakalan pulang!" Dara memekik di depan suaminya.
"Sekarang mereka udah dewasa, gak kayak dulu masih butuh uang orang tua! Sekarang mereka punya uang masing-masing, Yoona dengan tabungannya, dan Jisoo dengan penghasilannya!"
"Penghasilan?" beo Tristan.
Seketika Dara terdiam, amarahnya langsung menghilang, ia keceplosan.
Tristan menatap Dara heran. "Jisoo berpenghasilan maksudmu, Dara? Dari mana?"
Dara masih diam dengan kepala tertunduk.
Tristan pun berpikir, ia mengingat perkataan Jisoo sebulan lalu. "Ah, dari tuan muda Taehyung sepertinya. Anakmu itu benar-benar jual diri?"
Dara mengangkat kepalanya. "Kamu bilang apa, mas? Kamu nuduh Jisoo, anak kamu sendiri kayak gitu?! Gak pantes banget seorang ayah berasumsi begitu ke anaknya!"
Amarah Dara kembali meluap-luap.
Dan dengan santainya Tristan berucap. "Aku hanya bertanya." Pria itu berjalan menjauh. "Sudahlah, aku ingin ke kantor sekarang, aku sudah sangat terlambat!"
Sebelum menapak lantai luar kamar, langkah Tristan sudah terhenti.
"Kamu cari anakku, atau kita cerai."
Tristan kembali berbalik, menatap istrinya yang juga menatapnya dengan serius.
Tristan tertawa kecil. "Ancaman macam itu, Dara? Kamu gak bisa hidup tanpa aku. Kamu aja gak punya kerjaan, tabungan juga aku yang pegang. Kamu gak bisa apa-apa tanpa aku!"
Tak disangka oleh Tristan, Dara ikut tertawa meremehkan. Wanita itu berjalan ke meja riasnya, mengambil sesuatu di laci.
"Tinggal kamu tanda tangani, lalu keluar dari rumah ini, dan terakhir: menghadiri persidangan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Lovely \ Vsoo
FanfictionOn Going Jisoo hanya seorang gadis yang ingin perhatian serta kasih sayang dari ibunya. Dan, Taehyung hanya murid 'nakal' yang cuma memperhatikan satu orang, yakni gadis yang menjadi inspirasinya. --- Start: 24/5/2023 Finish: - --- 3323
