-48

278 22 3
                                        

Semenjak saat itu, Tristan sudah nampak normal. Pria itu tak pernah pulang terlambat yang jauh dari jam pulang kantornya. Dara menyadari itu. Dara pun kembali berusaha menjadi istri yang baik—dari sudut pandangan suaminya. Namun, beliau mungkin lupa menjadi ibu yang baik.

Walau jarang, dan terkesan terpaksa, Tristan akan menemani Yoona saat senggang, mau itu saat belajar bersama ataukah main bersama di rumah. Terkecuali anak kedua, Tristan tidak pernah sekalipun mencoba menggendong bayinya, seperti saat Yoona dulu.

"Papa!"

Tristan menghela nafas lelah sebelum menoleh pada putri sulungnya. Yoona berlari menghampiri ayahnya yang masih rapi namun wajahnya suram karena lelah.

"Papa, aku menggambar piano!" Seraya mengangkat tangannya menunjukkan kertas berisi gambar pada papanya.

"Iya, iya," jawab Tristan malas. Pria itu melepas sepatunya lalu berjalan masuk melewati Yoona yang masih tersenyum lebar.

"Dara!" Tristan berteriak.

"Iya, mas? Aku di kamar!" Dara balas berteriak.

Tidak ada sahutan membuat Dara heran dan memilih keluar menghampiri suaminya. Di ruang tamu, Tristan berdiri dengan wajah marah, menatap istrinya tajam.

"Ada apa, mas?"

"Kamu tuh ya, kalo aku pulang dari kerja, sambut dong! Aku pusing dan tambah capek kalo malah Yoona yang aku temuin duluan!"

Dara menatap Yoona di belakang yang senyumnya sudah mulai luntur. Dara menghela nafas.

"Iya maaf, mas." Dara mengambil alih jas yang tersampir di lengan suaminya, lalu menggandeng tangan suaminya ke kamar.

Setelah sampai, Dara melempar jas itu ke lantai, lalu menatap suaminya sambil berkacak pinggang.

"Yaelah, mas! Dari dulu juga langsung ke kamar, gak pake disambut! Lebay amat!"

Tristan tak peduli, ia berjalan menuju kamar mandi.

"Dan juga, mas! Kalo ada anak-anak, jangan suka marah-marah! Kamu mau Yoona jadi segan main sama kamu? Kamu 'kan mau jadi 'ayah terbaik' buat mereka!"

Dan Tristan tetap tidak peduli.

☀️

Hari-hari berlalu, bulan-bulan silih berganti, tahun kian bertambah. Kini bayi bernama Jisoo Geraldinata Darrel sudah mahir berjalan bahkan berbicara di umur ke-tiganya.

"Dara, kenapa kamu jarang bawa Jisoo ke acara-acara kita lagi, ya?"

"Iya, kayaknya Dara gak pernah bawa Jisoo deh kalau kita ketemuan."

"Benar, terakhir liat Jisoo waktu dia masih bayi."

"Aku aja sampai lupa Yoona punya adik, sangking gak pernah liat lagi."

"Ah, itu, karena Jisoo sakit-sakitan. Jadi aku takut bawa dia ke acara kita," balas Dara.

"Oh gitu, ya ampun .... Kalau gitu kita jenguk aja, mumpung ada di rumah kamu."

Acara arisan hari ini diselenggarakan di rumah Dara.

"Eh, gak usah! Maksud aku, Jisoo 'kan lagi sakit, nanti menular. Jisoo juga masih tidur kayaknya, bisa repot kalau bangun." Dara menjelaskan dengan wajah panik yang di kontrol dengan senyuman.

"Iya benar juga. Kalau gitu, semoga Jisoo cepat sembuh ya, Dara. Dan kamu juga jangan patah semangat sama anak kamu, doain yang terbaik!"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 01, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Lovely \ VsooTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang