Iqbal tersenyum malu-malu musang, ketika Shena tak keberatan saat ia menggandeng tangannya di sepanjang jalan menuju gedung sekolah. Semua mata menatap ke arah mereka. Ada yang tersenyum-senyum menggoda, ada yang berbisik-bisik manja, dan ada juga yang terlihat iri. Semua jelas membuat Iqbal dan Shena merasa bahagia.
"Kak Shena, tumben jalan sendirian. Mau ditemani enggak?" tawar Ayu, yang sedang berjalan di belakang bersama Farhan.
Iqbal pun seketika menghentikan langkahnya, hingga Shena juga ikut berhenti.
"Heh! Lo berdua kalau enggak mengganggu dunia gue yang indah tuh, kayak lagi kena biduran ya? Bawaannya gatal aja mau gangguin kebahagiaan gue dan Kak Shena!" semprot Iqbal.
"Oh, ada Iqbal ternyata, Ay, di samping Kak Shena. Ya Allah, baru kelihatan," sahut Farhan.
"Lo pikir gue sejenis sama setan, sampai enggak kelihatan???" geram Iqbal, frustrasi.
Ayu dan Farhan pun tertawa puas, sambil berlari melewati Iqbal dan Shena. Shena hanya tertawa dan mulai menenangkan Iqbal.
"Udah, enggak usah terlalu ditanggapi. Kamu 'kan udah biasa juga jahil sama mereka. Wajarlah kalau sekarang kamu yang dibalas," ujar Shena, sambil kembali menggenggam tangan Iqbal.
Iqbal pun kembali tersenyum malu-malu. Mereka pun kembali berjalan menuju ke arah gedung sekolah.
"Eh, Kak Shena. Tumben bawa peliharaan ke sekolah," sindir Rafa, yang ternyata kini sedang berjalan bersama Daira di belakang Iqbal dan Shena.
Iqbal kembali berhenti lagi untuk yang kedua kalinya.
"Heh! Lo pikir gue kucing, sampai harus lo sebut peliharaan?" tanya Iqbal, sebal.
"Bukan. Bagi kita lo bukan kucing, Bal. Elo itu kambing," jawab Daira, yang langsung berlari bersama Rafa menuju gedung sekolah sebelum Iqbal menerkam.
Shena pun tak bisa lagi menahan tawanya. Iqbal benar-benar dibuat sengsara oleh para sahabatnya tanpa pertimbangan sama sekali. Tak lama kemudian, Alden dan Denis pun muncul setelah jajan di gerbang bersama-sama.
"Kak Shena, mau ...."
"Mau apa lo??? Mau gue banting, gue piting, atau gue tenggelamkan di laut???" sambar Iqbal dengan cepat, sebelum sindiran lainnya mendarat dari mulut Alden.
"Jajanan, Bal. Kita mau nawarin jajanan ke Kak Shena," jawab Denis, langsung gemetaran karena dibentak Iqbal.
Iqbal pun mendelik seketika, dan Alden kini menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Elo sih, pakai acara bentak-bentak segala. Ugh ... susah deh gue kalau udah begini! Udah, Den. Ayo, gue antar ke kelas," Alden menarik lengan Denis yang masih sibuk memegangi telur gulung dan cirengnya.
Shena menepuk bahu Iqbal dengan lembut.
"Jangan gitu dong. 'Kan kasihan Denis kalau kamu bentak-bentak begitu," ujar Shena, pelan.
"Ya, tadi aku pikir dia mau nyindir juga kayak yang dilakukan Rafa, Daira, Ayu, sama Farhan," balas Iqbal, menyesal.
"Mm ... ya udah. Ayo kita langsung ke kelas. Aku ada tugas dari Guru Sejarah yang enggak masuk hari ini untuk memberikan materi titipannya di jam pertama," ajak Shena lagi.
"Iya, ayo," balas Iqbal, sumringah.
Namun setelah mengantar Shena ke kelasnya, Iqbal belum juga masuk ke kelasnya sendiri. Ia memilih bertengger lebih dulu di kelas 10 IPS 1 dan melakukan ghibah bersama Ayu.
"Masa, sih? Kok gue baru dengar?" Ayu berbisik-bisik, sambil terlihat berekspresi tak percaya.
"Ya ampun, Ay. Ke mana aja lo? Itu berita udah nyebar sejak dua hari yang lalu. Gue aja enggak sengaja dengar di perpustakaan, waktu lagi ngembaliin buku sosiologi," balas Iqbal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sohib By Accident
Humor[COMPLETED] Ini kisah anak SMA yang benar-benar di luar dugaan. Percayalah, tidak akan ada yang percaya kalau ini kisah anak SMA. Bahkan, penulisnya pun ragu kalau mereka adalah anak SMA. Tapi, inilah kisah anak SMA. Jika ingin protes, katakanlah pa...
