Rafa menjalankan mobilnya pelan-pelan hanya untuk mendapatkan tempat parkir. Hari itu, adalah hari pertama liburan. Keadaan Kebun Raya Bogor sangatlah padat. Banyak pengunjung yang berdatangan, sehingga tempat parkir pun menjadi sangat penuh.
"Ini orang-orang pada enggak punya tempat liburan lain, ya? Kok kayaknya pada datang ke Kebun Raya Bogor semua, sih?" bingung Farhan.
"Mereka lagi pada males liburan ke tempat yang basah-basah kali, kayak di Pantai Marina, Ancol. Makanya banyak orang pada datang ke Kebun Raya Bogor," sahut Alden.
"Ya 'kan tempat liburan enggak cuma di Pantai Marina doang, Al. Tempat liburan yang kering-kering di Jakarta 'kan ada Taman Mini Indonesia Indah, Ragunan. Enggak harus ke Ancol doang," sanggah Rafa.
"Ya, suka-suka hatinya orang lah, mau liburan ke mana juga. Kenapa lo semua jadi pada ngeributin pilihan orang, sih?" heran Iqbal.
"Bukan ngeributin, Bal. Kita cuma sedang berdebat aja," sanggah Denis.
Iqbal pun berbalik dan menatap gemas ke arah Denis.
"Apa bedanya, sapi? Apa bedanya? Jangan mancing keributan deh lo. Kalau gue naik pitam, lama-lama gue bakalan jambak rambut lo biar jadi botak!" sebal Iqbal, setengah mati.
Lili pun segera melotot ke arah Iqbal.
"Apa? Kamu mau apa sama Denis?" tantang Lili.
Iqbal pun segera mendelik dalam sekejap, sementara yang lain kini sudah menertawainya.
"Hm, makan tuh ancaman! Denis sekarang udah punya orang yang bakalan marah kalau elo berani mengganggu dia," ejek Ayu.
Tak lama kemudian, akhirnya Rafa berhasil memarkirkan mobilnya pada satu tempat yang strategis. Mereka semua turun dari mobil, lalu mulai menjelajahi bagian luar Kebun Raya Bogor yang benar-benar dipadati oleh pengunjung. Bahkan trotoar yang biasanya bisa dipakai berjalan kaki, kini sudah dipenuhi dengan banyaknya karpet yang dipakai oleh pengunjung untuk duduk bersantai bersama keluarga. Mereka sepertinya berprinsip, meski tak bisa masuk ke dalam setidaknya di luar pagar pun tetap bisa bertamasya.
"Eh ... ada penjual anak landak tuh. Lihat-lihat sebentar, yuk," ajak Ayu, penuh semangat.
"Cieee ... yang mau nengokin saudaranya," sindir Alden.
Ayu pun segera menatap sengit ke arah Alden.
"Maksud lo apaan, Aldentul?" tanya Ayu, sembari menyiapkan kameha-meha pada telapak tangannya.
"Maksud Al, elo cantik meskipun bersaudara sama landak," jawab Denis, memperjelas.
Kedua mata Ayu pun mendadak mengeluarkan kobaran api, pertanda bahwa ia sudah siap menyerang Alden dan Denis. Namun, Daira segera merangkulnya dan membuatnya tenang dalam sekejap.
"Udah, enggak usah nanggapin dua curut itu. Yuk, kita lihat anak landak," ajak Daira.
Ayu pun mendadak bahagia dunia akhirat, lalu melompat-lompat kegirangan seakan kedua kakinya memiliki pegas yang tertancap di sana.
"Ya Allah. Si Ay emang pengen banget kursus jadi kelinci apa gimana, nih? Hobi banget lompat-lompat di depan umum begitu," keluh Iqbal.
"Udah, enggak usah ngomongin pacar gue. Sekalinya dia dengar, nanti lo bakalan dikutuk jadi anak landak," saran Farhan.
Rafa pun terkikik geli usai mendengar apa yang Farhan katakan. Mereka beramai-ramai mendatangi penjual anak landak yang ada di dekat trotoar.
"Ya ampun, lucu-lucu banget anak landaknya," puji Shena, dengan wajah berbinar-binar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sohib By Accident
Humor[COMPLETED] Ini kisah anak SMA yang benar-benar di luar dugaan. Percayalah, tidak akan ada yang percaya kalau ini kisah anak SMA. Bahkan, penulisnya pun ragu kalau mereka adalah anak SMA. Tapi, inilah kisah anak SMA. Jika ingin protes, katakanlah pa...
