Iqbal menyimpan piring yang sudah dicucinya ke rak piring yang ada di dekat wastafel. Diah masih membuat bajigur untuk suaminya, sementara Iqbal sudah selesai membantunya di dapur.
"Bu, aku ke kamar dulu, ya. Ada PR yang harus aku kerjakan," pamit Iqbal.
"Oh, iya Nak. Langsung ke kamar aja, kerjakan PRmu sampai selesai," tanggap Diah.
"Iya, Bu."
Iqbal pun berjalan menuju ke kamarnya. Ia segera membuka ransel, mengeluarkan buku cetak dan buku PRnya, lalu meraih ponsel yang kemudian tersambung pada nomor milik Shena.
"Halo, assalamu'alaikum," sapa Shena, dengan penuh rasa tidak semangat.
"Wa'alaikumsalam, Sayangku. Kok suaranya lesu begitu?" tanya Iqbal, sambil membalas sapaan dari Shena.
"Aku lagi pusing. PRku banyak, tapi Bintang mengajukan saran ke Pembina Pramuka untuk berkemah lagi besok. Aku jadi stress, Sayang. Aku benar-benar enggak menikmati menyenangkannya jadi anak pramuka gara-gara Bintang yang enggak tahu waktu. Aku capek, tapi pengen protes ke Pembina Pramuka juga enggak akan ada gunanya. Soalnya Pembina Pramuka kayak care banget gitu sama Bintang yang suka cari muka. Mentang-mentang Pembina Pramuka kita tuh masih jomblo tulen," jawab Shena, apa adanya.
Iqbal mengerenyitkan keningnya selama beberapa saat.
"Tapi kalau kamunya terus-menerus diam, nanti kelakuan Bintang akan semakin menjadi-jadi, Sayang. Kamu harus mengutarakan pendapat juga, meski Pembina Pramuka lebih care sama Bintang. Kamu juga punya hak untuk protes kalau kegiatan ekstrakurikuler sudah menjajah kegiatan intrakurikuler di sekolah. Masalahnya, kamu bukan cuma akan rugi waktu, tapi kamu juga akan rugi karena nilaimu merosot," Iqbal memberikan pendapatnya.
"Iya, kamu benar dan aku setuju. Tapi kamu tahu enggak, sih, tentang seseorang yang bucin itu kayak gimana?"
"Kayak aku ke kamu?"
Shena pun tertawa beberapa saat.
"Iya ... kayak kamu ke aku atau kayak aku ke kamu. Nah, seperti itulah Pembina Pramuka saat ini terhadap Bintang. Mungkin dia bucin sama si Bintang, makanya si Bintang jadi mudah mencari-cari keuntungan dari kebucinan Pembina Pramuka itu. Padahal si Bintang belum tentu suka sama Pembina Pramuka, cuma karena Pembina Pramuka udah bucin banget sama Bintang makanya bagi dia 'gas ajalah', suka enggak suka urusan belakangan, yang penting bucinnya terpenuhi," jelas Shena.
Iqbal pun terkikik geli setelah mendengar penjelasan Shena.
"Tapi aku enggak kayak gitu deh, perasaan," sanggah Iqbal.
"Ya itu karena kita sama-sama tahu perasaan masing-masing, Sayang. Aku sayang sama kamu, kamu juga sayang sama aku. So, kalaupun kita bucin, jelas enggak akan separah orang bucin yang perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan. Jadi ibaratnya tuh, kayak dia lagi berhalusinasi. Andaikan dia jadi pacarku, andaikan aku bisa memiliki dia, pokoknya kayak gitu deh."
"Iya, aku ngerti yang kamu maksud. Kadang orang-orang bucin begitu memang sering membuat kita enggak nyaman. Ya benar, kita juga bucin kok. Tapi rasa-rasanya enggak harus sampai mengganggu PR, mengganggu waktu belajar. Pokoknya, enggak ada hal yang merugikan meskipun kita bucin ke orang yang kita suka. Beda lagi kalau sama yang halu. Halu aja terus kerjanya."
Shena pun tertawa pelan. Ia senang karena curhatnya benar-benar didengarkan dan ditanggapi oleh Iqbal. Iqbal bukan tipe orang yang tak peduli, sehingga Shena jelas merasa nyaman akan hal itu sejak menjadi pacarnya.
"Kamu lagi apa sekarang?" tanya Iqbal pada Shena melalui ponsel.
"Aku lagi lipat-lipat tenda dan juga menyiapkan perlengkapan untuk berkemah besok. Aku sebenarnya malas ikut, tapi tetap dipaksa ikut sama Bintang," jawab Shena, dengan suara yang kembali tak bersemangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sohib By Accident
Comédie[COMPLETED] Ini kisah anak SMA yang benar-benar di luar dugaan. Percayalah, tidak akan ada yang percaya kalau ini kisah anak SMA. Bahkan, penulisnya pun ragu kalau mereka adalah anak SMA. Tapi, inilah kisah anak SMA. Jika ingin protes, katakanlah pa...
