"A~ ... a~ ... a~...." Farhan terus menyebut huruf 'a' diiringi nada.
Daira menguap, saat menatap Farhan yang begitu berusaha terlihat seperti penyanyi profesional.
"Udah deh, Han. Bagaimana pun juga lo berusaha, suara lo tetap lebih mirip sama kodok rawa daripada penyanyi seriosa," ujar Daira, sangat jujur.
Farhan pun mencebik, usai mendengar apa yang Daira katakan. Ia menatap gadis itu sambil menyipitkan kedua matanya.
"Lo itu sohib gue apa bukan sih, Day? Perasaan, gue enggak pernah dengar lo mendukung apa pun yang gue lakukan selama ini," sindir Farhan.
"Waktu lo lagi buntu menghadapi Ujian Nasional di SMP, siapa yang batuin lo?" tanya Daira.
"Elo," jawab Farhan.
"Waktu lo pedekate sama Ay, siapa yang paling mendukung lo?" tanya Daira lagi.
"Elo."
"Terus, kapan tuh gue enggak mendukung apa pun yang lo lakukan selama ini?" Daira balas menyindir.
Farhan terdiam sambil memanyunkan bibirnya.
"Gue ngasih tahu kayak tadi itu bertujuan supaya elo enggak malu di depan banyak orang. Bersyukur cuma gue yang lihat dan tahu bahwa suara lo mirip kodok rawa. Bayangin kalau yang tahu satu sekolah ini, Han. Lo bukan cuma bakalan dikatain, tapi dilempar sekalian pakai botol air mineral supaya cepat berhenti," ujar Daira, memberi pengertian.
"Ya, tapi 'kan gue pengen mencoba berlatih, Day. Siapa tahu aja 'kan gue bisa jadi penyanyi seriosa betulan," rajuk Farhan.
"Ya udah lah, terserah lo aja. Gue pulang duluan, ya. Kelas 10 IPA 1 udah bubaran tuh."
Daira pun bangkit dari kursinya, lalu berjalan menuju pintu keluar. Farhan mengikutinya setelah meraih tasnya yang ada di atas meja. Rafa dan Denis pun berpapasan dengan mereka berdua.
"Hai, Day. Tadi waktu kita masih di kelas, kita mendengar ada suara jeritan dalam kubur. Suaranya berasal dari sini, kayaknya. Lo atau Farhan dengar juga enggak?" tanya Denis, polos.
Daira pun mati-matian menahan tawanya agar tak meledak, sementara Farhan sudah menekuk wajahnya akibat sebal pada Denis.
"Enak aja jeritan dalam kubur! Gue tadi lagi latihan nyanyi seriosa, bukan latihan menjerit dalam kubur," omel Farhan.
Rafa pun terkikik geli, lalu mendekat ke arah Daira. Ia menangkupkan kedua tangannya pada kedua telinga Daira.
"Telinga kamu enggak apa-apa 'kan, Sayang? Telinga kamu baik-baik aja 'kan, meski mendengar Farhan nyanyi?" tanya Rafa.
"Bucin teroooosss!!!" sewot Denis.
"Kenyang gue, Raf. Kenyang banget gue gara-gara nontonin adegan bucin lo sama Day!" tambah Farhan.
"Hai, guys!!! Mau pulang enggak???" teriak Iqbal, sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah empat sahabatnya.
Ayu baru saja tiba di lantai satu, saat tatapannya tertaut pada tatapan penuh cinta dari Farhan.
"Ay!!!" teriak Farhan.
"Farhan!!!" balas Ayu.
Keduanya merentangkan tangan masing-masing, lalu berniat berlari agar bertemu dalam satu pelukan. Namun tangan Alden lebih cepat menangkap kerah baju seragam bagian belakang yang Ayu pakai, dan begitu pula dengan Denis, yang menangkap kerah baju seragam bagian belakang milik Farhan. Mereka berdua akhirnya terjengkang ke belakang dan mendarat mulus di lantai.
GEDEBUG!!!
Iqbal, Rafa, dan Daira hanya bisa tertawa puas saat melihat apa yang terjadi pada Farhan dan Ayu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sohib By Accident
Hài hước[COMPLETED] Ini kisah anak SMA yang benar-benar di luar dugaan. Percayalah, tidak akan ada yang percaya kalau ini kisah anak SMA. Bahkan, penulisnya pun ragu kalau mereka adalah anak SMA. Tapi, inilah kisah anak SMA. Jika ingin protes, katakanlah pa...
