Iqbal tiba di depan rumah Rafa, yang hari itu dijadikan tempat berkumpul oleh geng sayur asem--minus Alden yang sedang bertapa untuk menenangkan diri pasca tragedi viral di media sosial yang dialaminya. Mirasih menyambut Iqbal seperti biasanya. Namun tak begitu dengan Rafa, Daira, Farhan, serta Denis. Keempat sahabatnya itu terlihat berwajah masam terhadapnya dan juga terhadap Ayu.
"Hai, apa kabar?" tanya Iqbal, berbasa-basi.
"Kabar kita baik-baik aja, Bal. Kabarnya Alden, tuh, yang enggak baik. Dia belum mau pergi ke sekolah. Masih trauma katanya," jawab Denis.
Iqbal jelas tahu kalau dirinyalah penyebab dari traumanya Alden, sehingga Alden tak mau pergi ke sekolah.
"Ya maka dari itu, gue minta kita kumpul di sini. Gue mau ke rumahnya Al dan minta maaf bareng sama Ay," ujar Iqbal.
"Kita udah tahu, Bal. Hanya masalahnya, Al mau enggak maafin elo? Soalnya, apa yang lo lakukan terhadap Al itu benar-benar udah di luar batas," ujar Farhan.
"Tapi kalau dibiarkan berlarut-larut, semuanya malah akan semakin runyam, Han. Itu juga bukan hal yang tepat untuk hubungan persahabatan kita," ujar Daira.
"Ya terus mau gimana lagi, Day?" bantah Farhan.
"Ya, Iqbal dan Ay harus minta maaf dong, Han. Mau gimana lagi? Elo ada cara lain?" tanya Rafa.
Farhan pun terdiam. Ia merasa tak enak jika harus menyudutkan pacarnya sendiri. Tapi salah tetaplah salah dan tidak akan menjadi benar jika tidak diperbaiki.
"Udah, cukup mikirnya! Pokoknya kita enggak mau tahu!" tegas Daira.
"Ya, gue emang lagi enggak bawa-bawa tahu, Day. Dari tadi gue bawanya martabak," jawab Iqbal.
Kedua mata Daira pun mendadak berapi-api, usai mendengar jawaban dari Iqbal.
"Iqbal!!! Serius!!! Ini tuh masalah hubungan persahabatan kita! Elo udah nyakitin perasaan Alden dan sekarang Alden jadi enggak mau ke sekolah gara-gara kelakuan elo!" tegas Farhan.
"Bukan cuma gue. Itu pacar lo juga ikutan," balas Iqbal, setengah merajuk.
"Si Farhan tahu, kalau Ay juga ikutan. Tapi yang lebih parah di sini adalah elo, Bal! Karena elo yang pajang itu kertas di mading!" tegas Denis.
"Ya makanya gue beli martabak, buat dibawa ke rumah Alden. Gue mau minta maaf sama dia," jelas Iqbal, mulai meraung-raung.
"Masalahnya adalah, Al belum tentu mau maafin elo," ujar Rafa, tenang.
"Jangan gitu dong, Raf. Elo harusnya ikut bantuin gue, bukan malah nyudutin gue," protes Iqbal.
Ayu hanya diam saja, karena ia merasa paling menyesal saat itu. Ia yang punya ide, hingga akhirnya Iqbal ikut-ikutan dan membuat mental Alden drop setelah viral.
"Ya udah, gue sama Iqbal datang berdua aja ke rumah Alden. Kalian enggak usah ikut. Biar kita berdua yang selesaikan masalah ini," ujar Ayu, mengambil keputusan.
"Enggak. Kita tetap ikut, Ay. Kita enggak bakalan lepas tangan. Masalah kalian, ya, masalah kita juga. Cuma, gue mau Iqbal benar-benar menyesali tindakannya dan berjanji enggak akan melakukannya lagi di masa depan. Itu aja kok. Karena gue lihat-lihat, Iqbal kayaknya enggak belajar dari kesalahpahaman antara gue dan Rafa di SMP. Waktu itu kayak begini juga 'kan, kejadiannya? Enggak jauh beda," jelas Daira.
Iqbal pun menundukkan wajahnya. Jelas ia merasa amat sangat bersalah atas apa yang terjadi pada Alden. Ayu juga demikian. Namun mereka berdua belum tahu pasti harus melakukan apa untuk meminta maaf, terlebih karena Alden terus saja tak mengangkat telepon dari mereka berdua.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sohib By Accident
Humor[COMPLETED] Ini kisah anak SMA yang benar-benar di luar dugaan. Percayalah, tidak akan ada yang percaya kalau ini kisah anak SMA. Bahkan, penulisnya pun ragu kalau mereka adalah anak SMA. Tapi, inilah kisah anak SMA. Jika ingin protes, katakanlah pa...
